Ajeg Bali utawi Rajeg Bali ?

telaga kauh

MERUNUT AJEG BALI, ADA PARALELITAS GERAKAN AJEG BALI KINI DENGAN MASA 1930-1999

Dalam berbagai kesempatan obrolan, baik di warung yang ada di Teba Kauh maupun di Teba Kangin, perbincangan sambil matetekan saat kundangan hingga diskusi di Facebook yang mengambil topik tentang kasta, prosesi pengabenan, atribut-atribut kasta, Ajeg Bali, banyak kalangan begitu bersemangatnya menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya. Begitu pula adanya perdebatan mengenai kasta dan adanya polarisasi dalam pemaknaan adat dan tradisi yang terdikotomi antara kelompok yang mempertahankan tradisi di satu sisi dengan kelompok yang menginginkan perubahan dengan dalih perubahan dan adaptasi terhadap perkembangan jaman di sisi lainnya. Walaupun masih dalam tataran diskusi di bale banjar, fenomena ini juga berkembang di sebagian kalangan masyarakat Bugbug baik purantara maupun yang berdomisili di Bugbug sendiri.

Menanggapi fenomena ini ada baiknya kita kaji pendapat Dosen Ilmu Sejarah Unud yang kini berburu gelar doktor di UGM Yogyakarta, menggugat banyak hal dalam Seminar Seri Sastra Sosial Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Ia, misalnya, mengakui gerakan Ajeg Bali dengan serentetan kegiatannya pasca Bom Legian 12 Oktober 2002 sampai kini masih bisa disebut sebagai gerakan revitalisasi. Sebab, katanya, gerakan itu merupakan upaya yang dilakukan secara sadar dan terorganisir untuk membangun budaya yang lebih memuaskan. “Tapi ada kekeliruan mendasar dalam konsep Ajeg Bali itu,” katanya. Yang ia maksud tak lain dari kata “Ajeg”. Menurutnya, kata itu memunculkan konotasi kemandekan, kebekuan, dan statisme. Untuk itu ia mengusulkan kata “Rajeg” yang sepadan dengan kata recovery yang bisa berarti penyembuhan, penemuan kembali, atau kebangkitan. “Mana ada orang Bali menggunakan nama Ajeg? Kita bisa menemukan ratusan nama Rajeg,” katanya dengan nada lucu.

Dengan lugas Wijaya menunjuk globalisasi sebagai salah satu pemicu munculnya gerakan Ajeg Bali. Globalisasi-lah yang “memunculkan” konsolidasi tatanan sosial dengan menjadikan tradisi sebagai pemeran utama. Tradisi yang dianggap adiluhung dibangkitkan dan ditanamkan kembali. Gejala ini, menurut Wijaya, terlihat jelas dalam implementasi gerakan Ajeg Bali. “Gerakan ini juga bisa dikategorikan sebagai gerakan retradisionalisasi yang lahir sebagai akibat dari implikasi sosial dan modernitas kebudayaan,” tandas Wijaya. Fenomena pentradisionalan kembali ini terlihat dalam bangkitnya aliran kepercayaan, pemakaian lambang-lambang tradisional di kalangan masyarakat, dan pembentukan lembaga-lembaga kekeluargaan.

Selain itu, gerakan Ajeg Bali juga memunculkan fundamentalisme, yakni suatu gerakan yang ingin menekankan kemurnian sejumlah doktrin yang telah dibentuk, bukan karena hanya ingin memisahkan diri dari tradisi lain, tetapi juga penolakan terhadap suatu model kebenaran yang ada kaitannya dengan keterlibatan ide-ide secara dialogis di masyarakat.

Yang menarik, Wijaya mencoba membuat garis sebab-akibat dari gerakan Ajeg Bali dengan serentetan kejadian di masa lalu. Ia pun menyodorkan bukti-bukti kejadian antara tahun 1930 hingga 1999. “Pada masa itu terlihat dengan jelas ada keinginan warga masyarakat Bali membangun budaya yang lebih memuaskan,” ungkap Wijaya dalam makalah berjudul “Gerakan Revitalisasi: Perubahan Budaya dan Masyarakat Bali 1930-1999”. Gerakan itu selalu melahirkan pemikiran-pemikiran keagamaan baru yang mendorong munculnya praktik-praktik keagamaan baru, dan menjadi bagian dari kebudayaan Bali baru.

Pembangunan kebudayaan Bali baru itu dimulai dari mempelajari agama Bali secara lebih mendalam langsung dari sumber ajarannya, yakni Veda, terutama yang termuat dalam lontar-lontar. Naskah-naskah pilihan dalam lontar diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, dibukukan, dan dijual melalui harian Bali Adnjana yang terbit sejak Januari 1924. Proses pembelajaran agama melalui buku-buku itu dan pertemuan orang Bali dengan teosofi, meluaskan pengetahuan masyarakat mengenai agama-agama dan kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Pemikiran-pemikiran relijius yang menonjol pada masa 1920-an di antaranya adalah pemisahan antara ajaran yang bersifat sakral (bersumber pada Veda) dan yang profan (hasil rekayasa sosial politik), seperti ide tentang roh dan jiwa, awal mula terciptanya mitos (terutama kasta) dan dewa-dewa; berbagai bentuk ritual seperti larangan-larangan (tabu-tabu), kepercayaan, kehidupan para dewa, penghormatan kepada roh leluhur, dan upacara kematian.

Itulah yang mendorong praktik-praktik keagamaan baru yang menjadi bagian dari kebudayaan Bali baru. Salah satu bentuk kebudayaan itu adalah munculnya pemikiran para intelektual untuk membentuk masyarakat egaliter, masyarakat yang status sosial para warganya tidak diatur berdasarkan kasta, melainkan kewajiban atau profesi dalam kehidupan (dharma). Salah seorang tokoh egaliterisme tahun 1920-an itu adalah I Nengah Merta. Namun, di pihak lain ada kelompok yang tetap ingin mempertahankan kebudayaan Bali lama. Perbedaan pandangan itulah yang terekam dalam polemik antara kelompok Bali Adnjana melawan Surya Kanta (keduanya media cetak) pada tahun 1924 hingga 1927. Semangat egaliter itu kemudian dihancurkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1930.

NAIK KASTA ALA RAAD VAN KERTA

Tampaknya Nyoman Wijaya memandang “kasta” sebagai icon sangat penting dalam pergulatan perubahan kebudayaan di Bali. Ia tampak sangat “senang” membicarakannya dalam Seminar Seri Sastra ini. Ia memulai “cerita petualangan”-nya dengan mengungkap politik kasta ciptaan kolonial Belanda. Tahun 1910, misalnya, seorang administrator bernama J. Fraser mengakui, masyarakat Bali bersifat egaliter. Namun, menurutnya, akan lebih menguntungkan secara politis (untuk Belanda, tentu) jika sistem kasta dipertahankan, sebab hal itu akan mebuat para bangsawan (sebagai penjaga ketertiban politik ala Belanda) tidak tersingkir dari lingkungan sosialnya. Untuk itu, melalui sebuah konferensi yang berlangsung 15-17 September 1910, Belanda merekonstruksi sistem kasta baru dengan golongan triwangsa di atas sudra. Sistem kasta ciptaan Belanda itu sangat tertutup dan kaku, mengabaikan mobilitas sosial vertikal yang pernah terjadi di zaman kerajaan. Bukti ketertutupan itu adalah digunakannya produk hukum peninggalan Majapahit untuk menangani kasus-kasus yang muncul akibat interaksi antarkasta. Produk hukum itu adalah “Kitab Hukum Agama” bersumber dari kitab-kitab hukum zaman kerajaan seperti Agama, Adi Agama, Purwa Agama, Kutara Agama, dan lain-lain. “Kitab Hukum Agama” itulah yang dijadikan acuan oleh Raad van Kerta (lembaga pengadilan kolonial).

Norma baru itu pertama kali diterapkan dalam pengaturan sistem kerja rodi. Di sana ditetapkan, kaum triwangsa mendapatkan hak-hak istimewa berupa tugas-tugas ringan seperti kurir. Sedangkan kelompok sudra harus membanting tulang mengambil pekerjaan berat selama 36 hari dalam setahun tanpa bayaran sepeser pun. Golongan Pande Wesi di Desa Beng, Gianyar, yang oleh Raja Gianyar dipaksa mengakui dirinya sebagai sudra, merasa sangat dirugikan oleh aturan kacau itu. Mereka pun protes dan mengirim surat berbahasa Melayu kepada Resident Bali dan Lombok. Mereka minta agar status mereka dikembalikan ke posisi setara dengan Brahmana dan berhak menggunakan sismbol-simbol ke-Brahmana-an. Gerakan Pande Wesi Desa Beng ini memberi inspirasi kepada kaum sudra lainnya. Mereka ramai-ramai datang ke Raad van Kerta yang memiliki kewenangan untuk menaikkan atau menurunkan status orang. Salah satu cara bagi sudra untuk naik menjadi triwangsa adalah dengan “menggandeng” saksi dari golongan triwangsa. Lucunya, kesaksian itu cukup dibuktikan dengan kesediaan sang triwangsa makan satu piring dengan si sudra atau bertukar makanan sisa di muka Raad van Kerta.

“Bisa dibayangkan, bagaimana kacaunya sistem kasta saat itu. Sangat banyak kaum sudra yang tiba-tiba menjadi triwangsa,” urai Wijaya sambil tertawa kecil.

BELANDA OGAH OGAH JEMBATAN JAWA BALI

Menolak kehadiran jembatan penyeberangan antara Jawa dan Bali bukanlah wacana baru. Nyoman Wijaya mencatat, sekitar tahun 1920-an kolonialisme Belanda menyatakan dengan tegas tak akan membangun jembatan penyeberangan Jawa-Bali. Mereka bahkan berencana hendak memperdalam dan memperlebar selat yang memisahkan kedua pulau. Alasannya jelas, agar pengaruh Islam dan nasionalisme (dua kelompok yang dianggap menjadi ancaman paling serius bagi penjajahan Belanda) tidak dengan mudah memasuki Bali. Dengan demikian kontrol pemerintah terhadap rakyat tetap kuat.

Untuk tujuan kekuasaan seperti itu pulalah, pada tahun 1930-an, semangat egaliter yang sedang tumbuh di Bali dihancurkan oleh pemerintah Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menghidupkan kembali hak-hak tradisional penguasa lokal dan memberlakukan Baliseering yang bertujuan mengarahkan pengaruh-pengaruh asing ke “arah yang benar”. “Caranya adalah mengajak warga masyarakat Bali mempelajari kembali unsur-unsur kebudayaannya seperti arsitektur, sastra, lukisan, dan nyanyian,” tutur Wijaya. Semua itu dilakukan oleh Belanda karena mereka tidak ingin sejarah Jawa terulang di Bali.

Masuknya agama Nasrani —yang juga dibendung oleh Belanda— pada tahun 1931 melalui penginjil asal Cina, Tsang Kam Fok, menjadi titik tolak solidaritas membela Bali. Hal ini ditandai dengan meningkatnya semangat beragama (Hindu). Generasi muda mulai mencari penjelasan tentang agamanya, upacara puji syukur diadakan atas keberhasilan suatu usaha, upacara agama, arak-arakan, pembakaran mayat, pementasan tari dilaksanakan dengan meriah, seni lukis dan pahat bekembang dengan pesat, jalan menuju Pura Besakih dibangun untuk memperlancar upacara panca walikrama dan ngenteg linggih pada tahun 1933. Inilah yang oleh R. Goris disebut sebagai renaissance (kebangkitan kembali) kebudayaan Bali.

Posted by : I Wayan Ardika

Bali ; Jagat Bangsul …

Bale Agung Bugbug

Om Swastiastu …… ,

Atur Pangampura

Ampurayang ugi atur tityang ring katunayan titiyang.  Makweh saking kaeningan manah, wantah matur petangi, ngenenin indik budaya ring Bali.  Banget pangampura tityang dwaning atur tityang tanpa una mawetu makweh atur miwah kruna rauh ring sasuratan tityang puniki makweh sane iwang saha nenten manut ring kerta bahasa.  Puniki metu saking katunan tityang madewek jatma tani tur dahating nista magenah doh ring desa dresta, mawetu kantun banget pisan kegamel ring katunan : Tuna kawentenan, Tuna Ajak Uruk, Tuna Sawitra,Tuna Tattwa, miwah Tuna Makesami.

Antuk punika yan kapangguh kaiwangan ring sajeroning atur puniki miwah iwang ring tatujon sane nenten manut ring kayun sang pamaos, punika banget lungsurang tityang pangampura.

ADAT ; adat mawiwit saking aksara catur lwira : A,D,A,T.  Aksara ADAT meraga idup mati, Aksara idup wantah : A,A, Aksara mati wantah : D,T.  Akasara punika meraga rwa bineda. Smertin rwa bineda punika dwaning sabinaning aci nganggen sor luhur, umpaminia,  luhur ika bebanten, tur ring sor segehan. Piteges ADAT lwirnia : A = Agama : Pamargin Ida Betara lan Betari sane kaagem. D = Dresta : Pemargin Ida Betara kagambarang antuk upakara-upakara utawi yadnya.  A = Awig-awig : Pemargin Ida Betara punika keanggen pikeling pemargi.  T = Tata titi : Smertin nyane tegteg, manusa (kerama) desa negtegang, ngemargiyang awig-awig sane ngawinan tegteg ikan bumi sabwana.

CATUR DRESTA : Catur Dresta mawiwit saking dresta, lwirna : Loka Dresta, Sastra Dresta, Desa Dresta, Kuna Dresta. Dresta mawiwit saking pemargin Ida Betara lan Betari ring Jagat Bangsul utawi Bali duk nguni.  LOKA DRESTA : Pemargin Batara Betari makweh ring sabinaning genah ring Jagat Bangsul, sapunika indike mawinan wenten kabaos Loka Dresta. SASTRA DRESTA : Pemargin Batara Batari ring saidering Jagat Bangsul, unduk ika kasuratang ring lontar-lontar punika wiwitnia wenten kabaos Sastra Dresta.  DESA DRESTA : Sesampune pemargin Batara lan Betari punika kasuratang tur kamargiyang ring desa-desa ring Bangsul sowing-sowang, unduk punika mawinan kabawos Desa Dresta ring wekasan.  KUNA DRESTA : dwaning sampun suwe kemargiyang pemargin Ida Betara Betari ring desa-desa, unduk punika sane mawinan wenten kebaos Kuna Dresta.

IKI PICEKET : Yan sang nateng ratu ngemargiyang sabinaning Aci ring Bangsul (Bali) ayua kita mangirangin, ayua juga ngewuwuhin apan ika pawayangan Bhatara-Batari, apan dahat mahabara ika juga angilang aken kang wus ana.  Mangkana juga ikang kahyangan tan wenang agingsir aken, lan ngerubah ikang kahyangan lan anangun aken kahyangan kang wus pejah.  Yan Ika kapurug, ika ngawetu aken mambar mambur lan jagat cemer : Ana wong apagutan,Tan ana Wong Bakti ring Bhatara, Manusa Makweh sumbah tan manut ring panemaya, Panes Ikang Rat, Manusa seneng ring tan duwe, Manusa nyungsang puaya, Manusa Tan weruh ring Kahyangan, Manusa Tan Manut maring Krama.  Yan mangkana tengerania wenang sang nateng ratu angadak aken Yadnya Bumi, pemarginia : Ana Mrebu Bumi (Ngelukat Gumi), Ngenteg Jagat.

TRI BUDAYA : BUDAYA ALAM, Mapiteges : Ngeranjing ring sajeroning wewidangan Desa Adat Bugbug. Punika sane mapiteges Alam Bugbug sane munggah muwah kemanggehang ngawit warsa 1103 olih Ida Sri Jaya Pangus, sane munggah ring Prasasti Bugbug (Prasasti Jero Piit).  luwirnia : Wates Kelod : Ampuan Segara ngawit saking Apen Ngantos Batu Madeg. Wates Kauh : Tembing Barak, Ngawit saking Batu Madeg ngantos Ngampan Rempak.  Wates Kaler : Batu Makowek, Saking Ngampan Rempak ngantos Batu Makowek. Wates Kangin : Yeh Biru, saking Batu Makowek ngantos ke Apen

KERTA BUDAYA, mapiteges : pemargin aci-aci sane kamargiyang sabinaning aci, sane katungtungin olih I Krama Ngarep, kewantu oleh I Krama Desa tan wenang kakirangin muwah kawuwuhin yan mamurug ngawetuang mambar mabur ikang Rat.  Punika ngawinan  patut ajeg kamargiyang kayang kawekas wekas.

SENI BUDAYA, Mapiteges : Ngeranjing ring sajeroning gegamelan sane kegamel, sane patut kaswarayang manut panemaya.  Wiwit seni budaya mawiwit saking lente ; duk Aberawi ngawetuang Grubug Agung, kweh wong sane pejah.  Wilangan seni Budaya ring Desa Bugbug : Gong Desa, Gambang, Salonding, Gong Tuwa. Punika patut kaswarayang manut panemaya sane dados tamba desa san ngawetuang kerta ikang desa.

DESA SANE PINIH TUA RING BALI :Desa sane pinih tua kabaos ring Bali kewentenannyane minekadi pemargin yadnyane minekadi sane wenten ring desa inucap : Wenten Pura Kentel Gumi, Wenten Kahyangan maulon nyatur, Sabinan kahyangan nenten medaging jaba tengah, Pemargin aci nganggen tahun candra (ngetahun), Salah sinunggil aci ngganggen kapal perahu (jukung), Sinunggal aci Ida Betara pinguntat kahaturan upakara, Salah sinunggil aci wenten kepaica mertan jagat, Desa inucap medue gegamelan 4 desa, Salah sinunggil aci wenten patemon tungtung kelawan bungkah,Roras sasih sami medaging aci, Salah sinunggil kayangan wenten maparab kayangan gumi, akta mandala, agama nirmala gandi.  Kadi punika wenten ring desa inucap sida kabaos desa pinih tua.

DESA SANGET TUA : Desa sane sanget tua ring Bali kawentenan nyane, mekadi pemargin yadnyane sane wenten ring desa inucap, Desa inucap meduwe gegamelan desa seyosan rangkung 4 desa. Wenten kahyangan padma ngelayang sane mesaka asiki, Sabinan kahyangan nenten medaging jaba tengah, Salah sinunggil yadnya nganggen kapal perahu jukung, Pemargin yadnya nganggen tahun candra (purnama tilem), Roras sasih akehan sasihe medaging yadnya, Desa inucap ngaci salah sinunggil ulun merta minikadi sane siosan.  Asapunika wenten nyane ring desa inucap sida kabaosang desa sanget tua.

DESA TUA : Desa sane kabaos tua ring Bali kewentenan nyane pinekadi pemargin, yadnyan nyane sane wenten ring desa inucap luire : Sami kahyangan ring desa inucap nenten medaging jaba tengah. Ngemargiang aci medasar antuk candra (purnama tilem), Roras sasih akehan medaging aci.

DESA PEKRAMAN : Desa sane kabaos desa pekraman ring Bali kwentenan nyane minekadi, pemargin yadnyane sane wenten ring desa inucap luwire : Sami kahyangan ring desa inucap medaging jaba tengah, yadnya sane kemargiang medasar tahun surya sane mayusa 35 hari sane munggah ring seanan sunari sane kabaos odalan (ngodalin).  Asapunika kewentenan nyane mawinan sida kabaos desa pekraman sane mangguh ngesasih.

YADNYA BUMI : Yan sira anangun Yadnya Bumi yatna yatna tesire apan Yadnya Bumi sepirit maha bara pisan.  Yadnya Bumi medasar Panca Kerti : Manusa Kerti, Siwa Kerti, Dewa Kerti, Bhuta Kerti, Jagad Kerti.  Panemaya pemargin Yadnya Bumi keambil saking tahun Candra, sane yusannyane 30 rahina, pamarginia rikala : tanggal 10, sasih 10, rah 10, tenggek 10.  Panelas ikang rah Tileming Kesanga katinembe dening tanggal apisan saih 10, penaurania ngesatus warsa.  Sane wenang kaanggen muput : Tri Catur Danu, Tirta Sapta Giri.  Tan wenang kapuput dening Tirta Puja, yan mamurug yadnya ika tan sida gawe, ika matangian desa sane wenten lwire : Desa Pinih Tua, Desa Sanget Tua, Desa Tua.  Desa sane ring ungkur punika tan sida kapuput antuk Tirta Puja, sehananing yadnya sane memargi ring desa inucap.  Yan mamurug ngawetu aken tan side gawe.  Sama akena angutang yadnya ring margi agung.

Mangkana kalinggania sane munggah ring Lontar Purana Bangsul.

Om Santhi, Santhi, Santhi, Om

Kasurat olih : I Wayan Seraya (Penasehat IWB Denpasar)

Krama Purantara Bugbug ring Denpasar

Posted by : I Wayan Ardika

Anak Mula Kakento … !!

Rejang mapupul

” ………… Hal kedua yang saya perlu direvisi adalah masalah penguburan mayat di Bugbug yang terpisah secara fisik dan historis yaitu kaum tertentu wajib dikremasi dengan dibakar dan kaum lainnya tidak boleh dibakar atau cukup dikubur saja.  Hal ini perlu saya garis bawahi bahwa jaman menyesuaikan dengan budaya masyarakat karena kita adalah bagian budaya tersebut bukan karena anekdot  suba kakento uli imaluan atau dane sing maang.  Dulu mungkin hal ini dipolitisir oleh kalangan tertentu dengan embel-embel adat dan betarane sing maang atau yang ekstrem lagi karena alasan Ida Betara Gde Gumang nenten ngicenin alias tulah nyaan. Apakah kita adalah makhluk tuhan kelas dua?  Apakah anda adalah ciptaan tuhan yang berbeda shg harus dibedakan?”  Demikian Boegboegku Sayang menyampaikan unek-uneknya pada Ikatan Warga Bug facebook ……

Ijinkan saya urun rembug atas kegundahan saudara Boegboegku Sayang …., Saran saya ijinkanlah keikhlasan bersemayam di hati menerima mentari terbit di ufuk timur, sembari kejarlah berbagai kegundahan dan kegalauan dengan niatan untuk dapat menerimanya apapun adanya dengan pikiran yang lebih terbuka. Saya tidak menganjurkan anda untuk pasrah dan nrimo saja loh …Adanya perbedaan penguburan di Desa Bugbug, baik perbedaan dengan cara membakar atau mengubur saja, baik penguburan medulu kangin maupun madulu kauh, sepertinya tidaklah lepas dari adanya bisama yang berlaku umum di tanah Bali maupun perlakuan khusus yang terdapat di Desa Tua Bugbug.

1.Bisama di Bali mengajarkan pada kita tentang ajaran Satya, baik itu setia akan apa yang menjadi titah-Nya maupun segala janji dan laku yang telah dilalui dan dijalankan oleh para leluhur kita di masa lalu. Tata cara penguburan hanya salah satu prosesi menjalani keuripan ini yang juga dilandasi oleh satya. Jika Bisama dianalogikan dengan Undang-undang yang bersifat mengikat, maka ia akan mengandung punishment and reward terhadapan ajaran satya yang dijalani oleh umat-Nya. Maka tidaklah mengherankan, jika kita temukan adanya istilah tulah, banyak umat yang mengaku berbahagia karena mendapat waranugraha-Nya. Para pendahulu kita mengajarkan konsep tulah ini dengan berbagai cara, apakah itu dengan tutur-tutur maupun cerita-cerita secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Guru saya pernah menerangkan saya akan panasnya api bila saya memainkan korek api, tapi karena keingintahuan atau kebodohan saya ?, saya mencobakannya pada jari tangan saya …, wow panas booo !. Hanya saja berbagai hasil dari perbuatan kita kebetulan tidak kita rasakan segera sebagaimana kita merasakan pedasnya rasa tabya, mungkin saja karena kita sedang mabuk kekayaaan, kekuasaan dan sebagainya.

2.Sepanjang yang pernah saya dengar dari para tetua, prosesi ngaben dengan gama metabun atau dikubur adalah sebuah priviledge yang diberikan kepada warga Bugbug Bali Mula. Orang-orang Bali Mula ini dianggap pengempon wed Tanah Bali, Bukit-bukit dan gunung-gunung di Bali, sehingga mereka melaksanakan prosesi upacara pengabenannya dengan gama metabun.
Akan halnya dengan warga “pendatang” baik itu pendatang dari luar Bugbug, pendatang dari Majapahit mereka diijinkan tinggal dan menetap di Bali dengan berbagai kewajiban, persyaratan dan ketentuan yang salah satunya adalah ; melaksanakan prosesi pengabenannya engan cara dibakar. Tata laksana prosesi pengabenan juga terkait erat dengan perkembangan sekte di jaman dulu. Apakah harus kita gugat tradisi saudara kita di Perasi yang meletakkan mayatnya di abian ?, atau apakah harus kita sepekaang saudara kita yang ada di Trunyan hanya karena ia meletakkan mayatnya begitu saja di bawah Taru Menyan ? Hanya karena kita tidak ingin dibedakan oleh Tuhan sebagai manusia kelas 2 ?

Tata laksana prosesi kematian – pengabenan di Bugbug terbilang unik, (lagi menurut para tetua), Warga Bugbug Bali Mula dikubur dengan kepala berhulu ke Barat, dengan Gumang sebagai hulunya. Karena mereka ini adalah Krama Wed pengemong Bukit-bukit suci yang salah satunya adalah Gumang dan Gunung-gunung yang disucikan di Bali, berbanggalah mereka karena mereka dianggap sebagai penyangga utama utama tradisi-tradisi Gumang dan Bali sejak jaman Gunung. Pada umumnya mereka adalah krama ngarep yang memiliki carik madesa yang mereka terima secara turun temurun. Mereka adalah krama ngarep yang menjadi tulang punggung utama pelaksanaan pelbagai aci yang dilaksanakan di Desa Bugbug.

Akan halnya warga Bugbug yang lain di antaranya Wong Asti dan pendatang lainnya (soroh Arya, Majapahit dll) yang dari jaman baheula menetap di Desa Tua ini biasanya melakukan penguburan dengan kepala berhulu ke Timur sebagai simbolisasi penerimaan mereka atas berbagai titah dan berbagai bahagia yang pernah diterima dari Betara di Gumang. Selain pemakaman dengan cara dikubur dengan kepala berhulu timur para Wong Asti dan pendatang ini juga dikenakan kewajiban untuk membakar mayat (apakah itu lewat simbolisme tertentu) saat upacara pengabenan.

Saya rasa adanya perbedaan itu sedikitpun tidak ada unsur politisasinya. Malah saya yang megama metambus merasa iri juga (capee’ deh … he … he ..) dengan rekan-rekan saya yang megama metabun, karena prosesi yang mereka lakoni lebih simpel dan sederhana, Tapi apapun perbedaan yang ada, dapatlah kita tarik benang merahnya, bahwa Gumang adalah puncak spiritualitas berbagai tradisi yang dilaksanakan di Bugbug. Lihatlah perbedaan yang anda rasakan sebagai sebuah mozaik yang indah…, seperti indahnya kita memandang Bugbug dari Gumang …

Bojog Sayang

Pemaparan ini bermaksud untuk mendapatkan pemahaman yang baik atas berbagai tradisi di Desa Bugbug. Saya tidak akan membahasnya dari sisi spiritual dan landasan teorinya guna pertanggungjawaban akademiknya. Saya rasa, keterbatasan lahan bukanlah alasan untuk merubah tata cara pengabenan yang esensi inti tata caranya sudah kita warisi turun temurun. Harapan saya, bukan karena hanya karena untuk mengikuti jaman lalu kita ubah esensi berbagai tradisi adi luhung yang kita warisi. Jika dibandingkan dengan tradisi ngaben di desa lain, pelaksanaan tradisi ngaben di Bugbug sebenarnya sudah sangat baik, dan meringankan baik dari sisi waktu dan biaya jika dilihat dari aspek :

1.Hari pelaksanaan dilaksanakan 1x dalam satu tahun di bulan Agustus, dari sisi perencanaan. Sang punya kematian sangat terbantu dari sisi waktu untuk dapat merencanakan dan mempersiapkan upacara pengabenan dengan sebaik-baiknya. Bayangkan jika ngaben bisa dilaksanakan kapan saja. Tentu sang punya kematian akan megrudugan untuk menyiapkan penyamaan, logistik dan tentu pembiayaannya.  Begitu pula dengan sanak keluarga yang diundang untuk prosesi pengabenan tentu akan bah bangun hanya untuk menghadiri prosesi ini di setiap saat.

2.Secara operasional pelaksanaan Ngaben di Bugbug sebenarnya dilaksanakan dengan cara ngerit baik dari sisi hari pelaksanaan maupun peserta pengabenan yang memberikan batasan dari sisi wewarisan. Undangannyapun terbatas pada lelintihan yang sudah sangat baik. Lain halnya jika mengundang pejabat atau pertemanan di luar lelintihan ya silakan saja, dan bersiap-siaplah dengan pembengkakan biaya.  Asalkan jangan keluarkan keluhan setelah prosesi usai.

3.Dari sisi materi, dibandingkan dengan desa lain serta pungkusan warga yang konon katanya berkasta lebih tinggi, hampir sebagian besar warga Bugbug melaksanakannya dengan cara sangat bersahaja dan egaliter yang ditunjukkan dengan penggunaan pepaga pengerojongan bukan jor-joran dengan membuat bade tumpang solas. Di banyak desa lainnya di Bali terjadi, hanya karena urusan jor-joran, sok gengsi dan mengikuti jaman (takut di bilang kuno, takut dibilang miskin) mereka harus menjual harta warisan yang berujung pada perselisihan keluarga besar.

4.Bila dibandingkan dengan tradisi di desa lain yang mensyaratkan adanya upacara meajar-ajar ke pura-pura besar di Bali, pada beberapa keluarga di Bugbug mewarisi tradisi cukup dengan nyegara gunung di wilayah Desa Bugbug termasuk ke Bale Agung sebagai perlambang 18 gunung suci yang ada di Bali, yang mereka yakini wilayah Bugbug secara spiritual sudah lengkap dengan segara dan gunungnya, yang dilengkapi dengan pelaksanaan upacara ngapitu dan seterusnya.

5.Bahwasanya lahan yang sempit itu menyebabkan tidak leluasanya orang dalam melaksanakan pengabenan, tentu ini masalah lain yang alangkah baiknya dicarikan solusi dengan manajemen operasional pengabenan di tingkat desa adat tanpa menghilangkan esensi spiritual prosesi pengabenan itu.

6.Bahwasanya lahan yang sempit menyebabkan tumpang tindihnya sawa di satu areal pekuburan adalah suatu hal yang alami. Toh pengangkatan tulang
saat pengabenan hanyalah simbolis saja tanpa menyertakan tulang belulang secara fisik untuk dibakar. Barangkali topik ini muncul dengan memakai struktur berfikir agama lain ? walah-walah …., bayangkan jika satu mayat harus ngungkung satu tempat saja, berapa hektar lahan yang dibutuhkan untuk pekuburan ? Semua tulang belulang itu akan menyatu dan kembali kepada unsur-unsur alam lainnya.

7.Bahwa benar adanya ada beberapa bagian dari upacara itu yang perlu diefesiensi. Ini perlu dikembalikan pada inti pelaksanaan upacara dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Barangkali ada hal-hal yang tidak bersifat essential dalam upacara yang bisa dimodifikasi, direvisi atau bahkan dihilangkan sama sekali. Namun jangan pula setelah upacara dilaksanakan menimbulkan masalah baru semisal menumpuknya hutang, terjualnya tanah warisan, hingga adanya perseteruan antar anggota keluarga, agarlah dihindarkan. Pengabenan dengan operasional ngerit satu waris tentu solusi yang tepat untuk ini.

Menawi wenten keiwangan lan kirang rangkung atur titiang dumogi prasida ngampurayang.

Suksma
I Wayan Ardika

Tradisi ?… Ah Kuno …. !

Daretan

Bahwa tidak semua tradisi dan adat bisa dimengerti dengan pendekatan teori yang lebih mengedepankan otak dan akal. Ada satu pendekatan pemaknaan yang dibarengi dengan keikhlasan hati untuk dapat mengerti atas keberadaan fenomena tradisi dan adat itu sendiri ; laksana keikhlasan hati kita menerima kehadiran matahari pagi di ufuk timur, tanpa harus mendebat dan menggugatnya kenapa ia terbit di ufuk sana di saat manusia terlelap di peraduannya ;

1.Keberadaan Pura Bebotoh ; ia laksana keberadaan Duryodana pada cerita Mahabarata. Duryodana ditampilkan bukannya agar semua tingkahlakunya kita tiru dalam arung kehidupan ini. Tapi ia lebih dimaknai bahwa manusia diharap lebih mawas diri dalam kehidupan ini untuk tidak terperangkap keangkaramurkaan dan haus kekuasaan. Begitu juga dengan Pura Bebotoh, keberadaannya bermakna seolah bercerita kepada kita yang awam bahwa bebotoh dan momotoh hanya akan menyesengsarakan hidup manusia dalam berbagai tataran. Bahwa cerita Manik Angkeran dalam folklore lainnya memiliki kemiripan misi yang mengharapkan kita secara bijaksana mengelola momo (kama) itu berdasarkan Darma.

2.Jika ada orang-orang baik yang berkenan menulis tentang adat dan tradisi Bugbug, saya ayunkan salute untuk itu. Jika ia berkaitan dengan Buana Alit, awalilah ia sejak kita masih dalam kandungan, magpag, ngekehin, nelubulanin, ngotonan, mapinton, nganten, mesih, mesaluk, padem, ngaben, ngerorasin, ngusaba kelod, ngepitu dan sebagainya. Bila ia berhubungan dengan Desa Adat sebagai otoritas pengelola pelaksanaan upacara adat di Pura-pura di Bugbug, melangkahlah sejak sasih kasa, karo, katiga dan seterusnya yang mana sebagian besar pelaksanaan upacara itu berdasarkan perhitungan sasih. Terkait dengan sejarah pura-pura baik itu berdasarkan sastra tertulis maupun tastran widi lainnya.

3.Akankah kita terbawa arus jargon demi perubahan dan anti perubahan, mengikuti jaman, ahh .. tradisi itu sudah kuno ! sehingga tradisi yang sudah berjalan harus kita rubah sesuai keinginan jaman ? Jangan-jangan tradisi ngambeng dan mundut jempana, mabiasa akan hilang seiring pengaruh perubahan, hanya karena melihat warga Desa Kerobokan Kuta, Badung memasang gerobak beroda untuk mundut jempana. Jangan-jangan tradisi mesuaka, ngundang, mapitau, mapisadu, ngendek nuhur pemangku, sebagai pranata sosial penjabaran Trihita Karana terhapuskan oleh kecanggihan teknologi handyphone, 3G, Facebook, e-mail pada jaman ini. Jangan-jangan tradisi Tatebahan dan murek harus dihilangkan hanya karena kita tidak ingin mempertontonkan kekerasan dihadapan anak-anak kita yang lagi belia ? Jangan-jangan tradisi mepinton dengan babi guling dan penggunaan hewan lainnya sebagai sarana upacara harus dihapus hanya karena desakan komunitas penyayang binatang; hanya karena harapan untuk tidak menjadikan perut ini sebagai kuburan binatang ?  Memang iya, perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam terhadap tradisi megibung dengan lawar dan kelengkapannya yang pada beberapa kejadian kerap dianggap sebagai pemborosan dan pengaruh tidak baiknya terhadap kesehatan.  Misalnya daripada sisa makanan terbuang percuma hanya disisakan untuk makanan ternak, mengapa tidak sejak awal perhitungannya lebih dimatangkan, sehingga kelebihannya mungkin akan lebih baik dipuniakan kepada banjar adat untuk selanjutnya disalurkan kepada pendidikan anak-anak yang kurang mampu atau bagi lanjut usia.

3.Tatebahan dan Daretan ; tidak banyak yang berusaha mencari makna akan tradisi ini, malah menggugat dengan kata “aah anda mencari pembenaran saja …”. Bahwa setiap manusia dalam dirinya ada rwa bineda, iya, tidak ada yang bisa membantahnya. Bahwa setiap orang punya naluri kekerasan dan kelembutan, iya, para psikologpun tidak menafikkannya. Tatebahan sebagai sebuah tradisi dapatlah dimaknai sebagai ; agama melalui tradisinya memberikan jalan penyaluran naluri kekerasan dalam nuansa kesucian upacara dengan harapan setelah semua itu tersalurkan, diri ini kembali bersih kalau tidak mau mengatakannya suci, untuk selanjutnya kita arahkan energi bersih ini dalam aplikasi-aplikasi positif di kehidupan setiap harinya.

4.Bahwa Tradisi adalah highway dengan berbagai rambu yang disiapkan oleh para tetua, sebagai jalan lempang untuk mencapai tujuan-tujuan agama yang sebenarnya masih berupa teori di awang-awang. Rambu-rambu dan larangan-larangannya yang terpasang sepanjang highway tradisi itu bukanlah penghambat kebebasan jiwa kita dalam menuju ujung jalannya, ia adalah penyelamat dan pemandu serta penuntun kita untuk mencapai jagadhita … Tradisi itu dibumikan dari sejak pagi menyapa hingga mentari senja menyergap, dari Sinta ke Watugunung, sejak Redita hingga Saniscara, berawal di sasih Kasa, Karo, Katiga, Kapat hingga Kasada ..

5.Akankah jawaban gugon tuwon, anak mula keto, kadung tami uli nguni dimaknai sebagai ketidakcerdasan kita sebagai orang tua dalam menjawab berbagai tanya dari adik-adik dan anak kita yang belia ?  Sementara para guru di sekolahpun menerapkan kurikulum yang disesuaikan dengan jenjang umur dan daya tangkap masing-masing. Jika saja semua manusia tahap pemahamannya selevel dengan para guru besar, tentu berbagai kurikulum, berbagai jadwal pelajaran tidaklah dibutuhkan lagi. Para manusia yang tidak punya sepeda motor dan mobil tentu akan memilih berjalan kaki dengan perjalanan yang panjang menapaki jalanan tradisi, akan tetapi kaum yang terlahir memang kaya dengan gaya jetsetnya tentu meletas dengan mobil balapnya atau pesawat jet yang tentu tidak membutuhkan rambu-rambu tetek bengek dan jalanan berliku dan berbatunya tradisi. Setiap manusia tentu berproses sesuai jenjang umurnya.  Tradisi memberikan ruang untuk itu ; Catur Asrama, dari Brahmacari, Grahasta, Biksuka, Wanaprasta. Masing-masing fase kehidupan manusia secara alami akan berproses memaknai berbagai fenomena adat dan tradisi sesuai level intelektualitas dan lingkungannya.

Sekiranya ada kata yang kurang berkenan, mangda prasida ngampurayang.
Dumogi mapikenoh.

Tulisan di atas adalah partisipasi pada jejaring social facebook Ikatan Warga Bugbug atas pertanyaan : Saudara Komang Totat : “Bug-Bug memiliki banyak Upacara Adat. Tidak Semua Orang Bugbug tahu makna upacara-upacara adat tersebut apalagi yang diperantaun. Bagaimana kalo semua upacara adat yang ada di Bugbug supaya bisa dijadikan Buku yang bisa dibaca oleh seluruh masyarakat Bugbug. Baik di Bugbug sendiri maupun diperantauan. Karena ke depan Kita lebih mudah memberi pengertian kepada Anak-anak kita. Suksma”.

Oleh : I Wayan Ardika

Tirta di Pojok Desa …..

Nak Bali Jegeg

Desa Pekraman Bugbug masuk ke dalam Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem Propinsi Bali, sepintas mendengar nama wilayahnya akan terkesan sebagai sebuah desa yang kering dan tandus, air terbatas dan tanpa pengairan.  Namun jika melihat kenyataannya sangat jauh berbeda dari apa yang dikesankan di atas.  Desa yang berada di aliran sungai Tukad Buhu ini, ternyata memiliki air melimpah dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Karangasem. Pada Dasawarsa 90 an atas usaha Pimpinan Desa dan bantuan teknis dari team teknik dari Politeknik Universitas Udayana pada saat itu, Desa Bugbug mampu mengakses sumber mata air yang terletak di utara desa untuk disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Air bening melimpah yang melintasi Desa Bugbug ini juga membawa berkah bagi dunia pertanian di Desa Bugbug yang dapat dilihat dari menghamparnya areal persawahan (areal persawahan dapat dilihat lewat photo satellite ini, silakan klik disini). Uniknya pengelolaan pertanian di Desa ini adalah pada masa tertentu, areal persawahan tidak hanya melulu ditanami padi, pada masa yang sama petani-petani juga membagi petak-petak sawahnya dengan berbagai produk pertanian seperti budidaya bunga gumitir dan pacar untuk keperluan upacara, semangka, berbagai palawija, cabai rawit, sayuran, bawang merah dan bawang putih, yang secara langsung juga membantu untuk memutus mata rantai hama penyakit.

Hubungannya dengan melimpahnya air dan pengairan di Desa Tua ini, juga dapat dilihat dari keberadaan beberapa permandian umum yang beberapanya masih terpelihara untuk menunjang berbagai kebutuhan warga desa baik untuk pemenuhan fisik maupun spiritual. Air sebagai sumber kehidupan yang paling penting dalam kehidupan manusia, juga beroleh tempat yang penting bagi masyarakat Bugbug.  Pura Pengalapan sebagai bentuk penghormatan dan bakti warga akan pentingnya pengairan dan turunan irigasinya adalah bukti akan hal ini.  Bahkan karena pentingnya air, penulis pernah mendengar ada tetua yang mengatakan bahwa agama dan tradisi yang dianut oleh warga Desa Bugbug ini adalah Agama Tirta. Ya, jika dikaitkan dengan pernyataan ini, memang berbagai upacara dan tradisi yang dilakoni oleh masyarakat Bugbug pada umumnya memang diakhiri dengan percikan tirta.  Begitu juga, dari cerita tetua yang pernah kami dengar, ada Balian di jaman dulu hanya menggunakan air dengan diberi mantra-mantra sebagai sarana pengobatan yang sangat manjur. Kembali kepada keberadaan permandian umum di Desa Bugbug, ia bukan hanya dipergunakan oleh penduduk untuk mandi dan bersosialisasi antar warga, tetapi secara spiritual memiliki peranan yang sangat penting dalam hubungannya dengan pelaksanaan berbagai upacara di Desa Bugbug utamanya upacara Pitra Yadnya yang diselenggarakan oleh penduduk setempat.  Sehingga pada beberapa keluarga di Desa Bugbug mempercayai bahwa keberadaan Tirta di Desa Bugbug sebenarnya sudah lengkap adanya.  Bahkan Tirta Daretan yang depergunakan oleh Prawayah untuk memerciki para pengayah Daretan dimohonkan di Permandian Desa yang terletak di utara Pura Puseh itu.  Keberadaan Tirta di setiap Bucun Desa ini erat kaitannya dengan keberadaan Pelinggih Betara Maspait di Pura Manjangan Saluang. Adapun semua permandian Desa yang Nyatur di setiap sudut desa (di bucun desa) mengelilingi wilayah Desa Pekraman Bugbug dengan permandian di Tengah Desa sebagai pusatnya dapat diterangkan sebagai berikut :

Permandian Umum di Tengah Desa ; sering disebut oleh penduduk dengan nama Kayehan Desa. Permandian ini berlokasi di sebelah utara Pura Puseh Desa Adat Bugbug di dalam areal Kantor Desa Adat. Dalam hubungannya dengan pelaksanaan Upacara Pengabenan, penduduk dengan sarana upacara yang telah ditentukan nunas Tirta Pengentas di tempat ini.  Permandian Umum di Timur Laut Desa ; sayangnya permandian ini secara fisik sudah punah, digantikan oleh keberadaan sebuah Sekolah Dasar. Namun secara spiritual keberadaannya masih dipertahankan, hal dibuktikan dengan keberadaan sebuah pelinggih di tempat yang mulanya adalah permandian, di mana oleh penduduk yang menyelenggarakan rangkaian upacara pengabenan mendak Tirta Pebersihan di tempat ini. Permandian Umum di Tenggara Desa ; lokasinya berada di arah tenggara Desa bernama Gelogor, walau permandian ini sudah punah secara fisik, secara spiritual keberadaanya masih dipertahankan yang mana dalam rangkaian pelaksanaan upacara Pengabenan merupakan tempat memohon Tirta PenganterPermandian Umum di Barat Daya Desa ; permandian ini terletak di pojok Barat Daya Desa di sebuah wilayah yang lebih dikenal oleh warga setempat dengan nama kamar ini secara spiritual adalah tempat memohon Tirta Panembak. Permandian Umum di Barat Laut Desa : permandian ini sering disebut dengan Kayehan Dukuh, adalah tempat untuk memohon Tirtha Panglukatan.

Sementara itu ada sebuah permandian umum yang terletak di arah Barat Desa di kaki Bukit Dukuh yang berada di wilayah Banjar Adat Dukuh Tengah adalah permandian umum yang secara spiritual tidak bertalian langsung sebagaimana halnya permandian yang diutarakan di atas.

Oleh : I Wayan Ardika

Salonding Sane Ngelangunin

gumanghill18

FILOSOFI SALONDING DALAM TATWA HINDU

Bila ditelusuri lebih jauh tentang keberadaan Gamelan Salonding dari masa ke masa, ternyata konteks penggunaannya tidak pernah lepas dari kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat Bali, baik dari kebesaran Jaman Bali kuno, sampai pada akhir abad XX ini gambelan Salonding itu tetap mendapat tempat yang paling sakral dalam upacara agama. Berbicara dengan Hinduisme, tidak bisa kita mengabaikan keterkaitannya dengan Weda karena Weda yang diyakini sebagai sabda Suci Tuhan yang bersifat Anadi, Ananta dan Nirwikalpa yang telah diterima oleh Maha Rsi dan menjadi sumber ajaran Agama Hindu memberikan vitalitas, yang mengaliri dan meresapi seluruh aspek Hinduisme bila diibaratkan sebagai Api Hindu adalah sebagai wujud yang menyala dan Weda itulah panasnya. Menurut ajaran Weda, Theologi Hindu menyebutkan bahwa Pranawa atau OMKARA itu sebagai Nyasa untuk mewujudkan Tuhan Yang Maha Esa yang trasendental pada dunia immanent yang terbatas. Beliau meraga acintya (tak terbayangkan) diwujudkan dengan wijaksara OMKARA secara konseptual dalam Narayana Upanisad tentang Wicaksara Om itu tersendiri dari tiga matra, yaitu A kara sebagai Brahma , U- kara sebagai Wisnu, dan Ma – Kara sebagai Mahadewa Iswara. Bila ketiga Ma yang disebut juga Sang yang Triaksara ini adalah esensi dari hakekat unsur OMKARA itu sebagai Nyasa dari Prabawa Tuhan yang Esa.

Umat Hindu memuja kepada Tuhan Seru Sekalian Alam menyeru dengan puja OM. Hakekat dari pemujaan tersebut, adalah dalam rangka pendekatan diri antara yang memuja dengan Sang Pujaan. Dalam kontek pemujaan ini, diisyaratkan semakin suci yang memuja, Sang Pujaan akan nampak lebih jernih. Secara implisit Mpu Kanwa melukiskan situasi bagaikan melihat bayangan bulan yang dilihat dalam tempayan yang berisi air semakin jernih airnya makin bersihlah bayangan bulan itu, (Lontar Arjuna Wiwaha) Pendekatan ini merupakan suatu langkah awal penyatuan Atman dengan Paramatman, sebagai tujuan akhir dari Ajaran Agama Hindu, yakni Moksa. Dalam Kidung Coak pembebasan terakhir itu dilukiskan pada sebuah kalimat sederhana yang berbunyi Toyane sendok ban toyo dan temboke bah dadi gumi.

Itulah prosesi pemujaan Umat Hindu kepada Tuhan yang diwujudkan dalam OMKARA, dipuja dan diseru dengan Puja Om yang kudus itu, hubungan dengan Selonding bahwa Selonding itulah penjabaran dari suaranya Pranawa (OM) itu.

Suara Salonding Sakral sebagai Suara Pranawa. Gambelan Salonding adalah gambelan Kuno yang paling sakral dalam melengkapi upacara keagamaan (Hindu) di Bali yang berlaras pelog Sapta Nada, contohnya seperti Selonding yang ada di Trunyan, di Bugbug, Tenganan, Ngis Selumbung , Timbrah, Asak, Bungaya, Besakih, Selat, Bantang dan lain-lainnya.  Dalam konteks Desa Adat Bugbug, Selonding (yang disimpan di dekat Pura Piit Bugbug) ini selalu mengiringi prosesi upacara besar di Pura-pura di Bugbug, seperti Usaba Sumbu dan rangkaian Usaba Gumang di Bukit Juru.  Para penabuhnyapun bukanlah orang sembarangan.

Anak Bali Jegeg sajan

Menurut Lontar Prekempa bahwa semua tetabuhan atau gambelan lahir dari suaraning Genta Pinara Pitu, Suaraning Genta Pitara Pitu adalah suara sejati yang berasal dari suaranya alam semesta atau bhuana, suara suara yang utama yang berasal dari suaranya semesta itu ada tujuh suara banyaknya yang disebut dengan sapta suara. Suara ini berasal dari Akasa disebut Byomantara Gosa. Ada pula suara yang disebut Arnawa Srutti yaitu suara yang keluar dari unsur Apah. Yang lain ada disebut dengan Agosa, Anugosa, Anumasika dan Bhuh Loko Srutti. Yang terakhir disebutkan suara yang keluar dari unsur Pertiwi.

Sapta suara yang merupakan inti dijadikan sebagai sumber yang dihimpun oleh Bhagawan Wismakarma menjadi Dasa Suara, yaitu lima suara Patut Pelog sebagai Sangyang Panca Tirta dan lima Suara Patut Selendro sebagai Pralingga Sangyang Hyang Panca Geni. Unsur Dewata yang merupakan Prabawa dari Yang Maha Tunggal yang melingga pada Dasa Suara yang dihimpun menjadi Gegambelan.

Selonding merupakan gamelan Bali yang usianya lebih tua dari gamelan-gamelan yang kini populer dipakai dalam kesenian maupun dalam upacara adat dan agama. Tidak semua desa di Bali memiliki budaya yang dekat dengan jenis gamelan ini, kecuali beberapa desa tua di belahan selatan dan timur pulau Bali, seperti Bugbug, Tenganan, Bungaya dan Timbrah dan Asak, Ngis.

Tidak seperti gamelan lainnya yang bilah-bilah perunggu digantung dengan tali sapi pada badan gamelan, pada salonding bilah-bilah perunggu bahkan yang lebih tua bilah bilah besi diletakkan dengan pengunci secukupnya di atas badan gamelan tanpa bilah resonan (bambu resonan) seperti jenis gamelan saat ini. Dengan suara yang khas, salonding dengan nada klasiknya mengiringi penari rejang dalam “mesolah” persembahan tari dalam upacara yadnya di desa desa tua seperti Tenganan, Bugbug, Asak dan beberapa desa di belahan timur pulau Bali.

Saat ini, gamelan salonding seakan yang dengan tabah mengiringi yadnya sejak ratusan tahun lampau, tidak pernah dilirik sedikitpun oleh generasi muda untuk memukul bilah-bilahnya. Pemukul salonding yang sudah berusia lanjut seakan tak berdaya untuk menarik para pemudanya untuk menggantikan dirinya, karena generasi penerus lebih senang hidup mengikuti gaya hidup modern atau yang tertarik lebih senang memukul bilah-bilah gamelan gong kebyar atau menggebrak drum dan memetik dawai gitar yang lagi populer dan ngetop.

Siapakah yang akan melanjutkan memukul bilah-bilah salonding jika keadaan tetap seperti ini? Gemerlap pesta kesenian Bali dengan lomba gong kebyarnya seakan sedetikpun tak menoleh pada salonding. Ataukah salonding ingin dibiarkan menghilang karena peralatan tua harus segera diganti dengan Gong Kebyar atau perlengkapan band lainnya ?

Bagaimana dengan yadnya yang diiringi oleh salonding harus diganti dengan kebyar, lenggak lenggok penari rejang klasik diganti dengan rejang dewa atau kontemporer?

Salonding menunggu generasi muda, siapa?  Demikian Wiryana dalam blognya mempertanyakan peranan generasi muda akan kegigihan mereka mempertahankan seni budaya warisan para leluhur. Ya, kami di Krama Purantara di Denpasar bergerak guna menjawab akan keraguan ini. Beberapa generasi muda sudah kami kumpulkan dan berdasarkan keputusan Ketua IWB Denpasar, sekaa gong “Selonding Gumang” sudah terbentuk. Walaupun seperangkat gong masih status pinjam sewa dari Krama Purantara Ngis di Denpasar, tidak menyurutkan kami untuk berlatih berbagai tetabuhan wali yang mengiringi berbagai upacara di Desa Adat Bugbug. Di bawah asuhan I Wayan Sarya dan I Ketut Tak“Selonding Gumang” siap ngayah membantu (jika diinginkan, tan mabuaka) penabuh asli yang merupakan pengayah dengan jam terbang yang sangat panjang dalam pelbagai kesempatan wali guna mengawal dan mengiringi upacara yang dilaksanakan di Desa Adat Bugbug.

Daftar Pustaka : Selonding, Karya : Pande Wayan Tusan
Posted by I Wayan Ardika

Pecalang ; Polisi Tradisional Bali

Pecalang IWB Denpasar

Siapa sebenarnya pecalang? Kenapa masyarakat Bali sampai sedemikian menghargai dan menghormati mereka yang berpakaian pecalang dengan kerisnya yang terselip dipinggang ini?  Ciri khasnya adalah memakai kain kotak-kotak dengan keris terhunus dipinggangnya. Memakai pakaian adat Bali lengkap, udeng dikepala, kemeja putih dan sering memakai rompi bertuliskan PECALANG DESA ADAT. Yah itulah sosok seorang pecalang.  PECALANG sering juga disebut polisi traditional Bali. Tugasnya adalah mengamankan suatu kegiatan yg berkaitan dengan adat, seperti: upacara keagamaan, prosesi ngaben, prosesi pernikahan, dll yg berkaitan dengan upacara adat di Bali. Secara umum tugas mereka tidak ada beda dengan polisi biasa spt mengatur lalu lintas di sekitar lokasi upacara, mengawal prosesi ngaben sampai ke kuburan. Tapi dalam kegiatannya, pecalang berkoordinasi dengan pihak POLRI. Menjadi pecalang adalah suatu pengabdian kepada masyarakat. Mereka tidak mendapatkan gaji. Tapi sebagai kompensasi mereka dibebaskan dari segala hal yg berkaitan dengan kewajiban warga. Mereka tidak kena iuran di banjar, tidak wajib ikut gotong royong dan lain-lain. Tapi konsekuensinya, mereka harus siap jika sewaktu-waktu harus bertugas kalo ada suatu kegiatan adat di desa setempat. Pecalang biasanya dipilih oleh warga banjar dengan masa tugas satu tahun. Kalau kita memang tidak memiliki waktu yg cukup karena alasan kesibukan kerja, boleh kok menolak. Namanya juga pengabdian, kalo tidak tulus yah enggak usah aja kan.

 

Akan halnya Desa adat yang lain di Bali, Desa Pekraman Bugbug dan IWB Denpasar juga memiliki instrument keamanan yang dipercayakan kepada Pecalang.  Begitu juga halnya dengan Pecalang IWB Denpasar yang juga ikut berkiprah dalam membantu pengamanan saat pelaksanaan upacara besar yang dilaksanakan oleh Desa Pekraman Bugbug.  Pecalang demikian dihargai oleh Masyarakat karena tugas-tugasnya.

Lalu apa arti kata Pecalang ?, mari kita kupas hal ini lebih lanjut.  Pecalang berasal dari kata ”calang” dan menurut theologinya diambil dari kata ”celang” yang dapat diartikan waspada. Dari sini dapat kita artikan secara bebas, ”Pecalang” adalah seseorang yang ditugaskan untuk mengawasi keamanan desa adatnya. Ibaratnya sebagai petugas keamanan desa adat.  Pecalang telah terbukti ampuh mengamankan jalannya upacara-upacara yang berlangsung di desa adatnya, bahkan secara luas mampu mengamankan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan khalayak ramai.

Sebagai contoh pemilu tahun 1999, pada saat kampanye salah satu partai politik yang bertempat di Lapangan Kapten Japa, dimana kampanye pada tahun itu identik dengan tindak kekerasan dan kebrutalan, tetapi dengan pendekatan persuasifnya, para pecalang mampu menertertibkan masyarakat bahkan duduk bersama-sama di lapangan untuk mendengarkan pidato dari politikus yang mereka jagokan.

Dari sini pecalang mulai naik daun, disetiap kegiatan yang melibatkan masyarakat banyak, pecalang akan turut dilibatkan secara aktif demi menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan tersebut. Hampir setiap acara yang berkaitan dengan adat, seperti upacara adat di desanya, baik yang berskala kecil ataupun besar, pecalang akan diperankan untuk menjaga kelancaran acara tersebut. Bahkan bazzar banjar pun yang sebagaimana kita ketahui bukan kegiatan upacara turut diamankan oleh Pecalang.

Acara pameran pembangunan, pun tidak luput dari pengawasan pecalang bahkan pameran industri yang diselenggarakan pihak event organizer turut diamankan pecalang setempat. Konser-konser artis yang diselenggarakan di Bali juga banyak melibatkan pecalang. Dan anehnya mereka disamping mengamankan, juga memungut biaya parkir para pengunjung pameran, bahkan dengan nominal yang tidak biasa.

Siapa sebenarnya mereka yang berpakaian adat Bali, mesaput poleng (menggunakan kain kotak-kotak hitam putih), menggunakan rompi hitam dengan tulisan ”Pecalang” dipunggungnya? apakah mereka pecalang atau petugas parkir? Jika yang dimaksud adalah mereka para muda-mudi yang diperanaktifkan untuk memungut parkir pada acara tersebut, seyogyanya jangan menggunakan pakaian yang identik dengan pecalang, cukup gunakan pakaian adat ringan saja, bila perlu jangan menggunakan pakaian adat, karena itu bukan kegiatan adat apalagi kegiatan upacara adat.

Contoh lain pada saat acara pernikahan salah satu artis ibu kota yang kebetulan dilaksanakan di Bali, di daerah Uluwatu. Waktu itu pecalang berperan aktif mengamankan prosesi upacara pernikahan mereka, bahkan menjaga jalan akses ke tempat upacara. Ironisnya upacara pernikahan yang berlangsung bukan upacara pernikahan adat Bali, dan dapat dipastikan keamanan desa adat tidak akan terancam hanya karena upacara ini. Lebih buruknya, menurut isu yang beredar, pecalang setempat telah menerima sejumlah uang untuk mengamankan upacara tersebut. Jika itu kegiatan upacara adat, sah saja jika pecalang turut serta ambil bagian dalam kegiatan tersebut, sesuai dengan tugasnya, pecalang bertugas menjaga keamanan dan kelancaran kegiatan yang berlangsung di wilayah desa adatnya. Dalam kasus diatas sepertinya desa adat tidak terancam keamanannya.

Belakangan ini ada beberapa peristiwa yang merefleksikan adanya pecalang yang melenceng dan fungsi dan tugasnya, ada kasus lain yang kejadiannya tepatnya Manis Galungan (sehari setelah upacara puncak Galungan), salah satu desa mengadakan upacara ”Ngenteg Linggih” di salah satu pura, pada saat itu bertepatan dengan kegiatan ”melasti” kepantai, penulis kebetulan berpapasan dengan rombongan ini, penulis sangat mengerti dan memahami akan kegiatan ini, karena itu penulis dan beberapa pengendara kendaraan dibelakang langsung berhenti ditepi jalan. Pecalang yang berada didepan rombongan berteriak dengan lantangnya menyuruh kami menepi, padahal sudah jelas-jelas penulis dan yang lain berada ditepi jalan paling pinggir, yang disebelah kirinya ada sungai kecil. Apa saya harus menepi sampai jatuh ke sungai? Penulis yakin banyak yang mengalami hal yang serupa, padahal kami ini juga Umat Hindu yang ikut merayakan Galungan. Dimana pendekatan persuasif para pecalang saat ini, apa mau adu teriak, sok galak, bahkan sok jagoan?

Pada beberapa masa yang lalu pernah terlihat yang mengesankan pecalang memperlihatkan sikap arogansi, sok jagoan, dan sok berani. Mungkin ini karena banyaknya muda-mudi yang terlibat sebagai pecalang, dan tanpa ada proses seleksi. Seleksi yang penulis maksud tidak harus seleksi secara formal cukup dengan seleksi informal, kepala desa atau masyarakat cukup memperhatikan muda-mudi yang kira-kira memiliki mental yang baik dan mampu melayani masyarakat, sehingga pecalang dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat sekitar, dan mampu berkomunikasi dengan baik dan ramah kepada masyarakat lain, sehingga secara tidak langsung kita mempertahankan kesan masyarakat Bali yang ramah di tingkat internasional.

Beberapa daerah di pedesaan sudah melakukan hal ini, para pecalang ditunjuk oleh Kelihan Adat, dan mereka sangat menjaga sikap perilaku mereka, dengan bertutur kata yang sopan. Seharusnya kita di daerah kota yang secara umum tingkat pendidikan masyarakatnya lebih tinggi mampu menyerap hal positif seperti ini. Banyak sekali saat ini kegiatan upacara keluarga juga ada pecalangnya, sebut saja upacara pernikahan maupun ngaben, jalan yang digunakan ditutup dan dijaga dengan ketat, seenaknya memerintahkan para pengguna jalan untuk mencari jalan alternatif, tanpa ada penjelasan atau keterangan kepada pengguna jalan, mereka harus lewat jalan mana. Padahal ada beberapa diantara mereka yang mungkin akan pulang kerumah dan hanya tinggal sedikit lagi jarak kerumahnya, terpaksa memutar mencari jalan lain. Penulis yakin mereka terpaksa mau melakukan hal ini, karena tidak ingin ribut, dan mungkin takut kalau-kalau sampai dihajar massa hanya gara-gara ingin bernegosiasi. Wajar kah pecalang bersikap seperti itu? Penulis sangat yakin jawabanya tidak. Pecalang yang bertugas seharusnya mau berkomunikasi dengan pengguna jalan yang lain, minta permakluman kepada mereka jalan ditutup sementara karena ada kegiatan upacara adat. Apabila ada rumahnya yang dekat, setidaknya pecalang bisa memberikan dispensasi kepada mereka, dan apabila ada pengguna jalan yang bertanya harus lewat mana, seharusnya pecalang mau memberikan informasi yang benar dengan sikap persahabatan. Apakah susah? Ya. Inilah susah dan tanggung jawab sebagai pecalang, agar masyarakat merasa aman. Jangan asal menutup jalan dengan memasang tampang galak. Ingat ada kata-kata mutiara yang beredar di masyarakat kita, ”dadine ajak bisane anak melenan” artinya: boleh dan bisa itu berbeda. Semua orang bisa seenaknya menutup jalan tapi apakah kita boleh melakukan itu? Karena itu tugas polisi, dan tanggung jawab mereka, bukan tugas pecalang untuk menutup jalan. Apakah kita akan membiarkan kesan di masyarakat, pecalang tukang nutup jalan? Pecalang tukang mungut parkir? Pecalang galak?

Pecalang ditunjuk sesuai dengan kata ’celang’ agar mereka mampu bersikap waspada, hati-hati dalam bertindak agar keamanan dan kenyamanan desa adat terjaga, secara luas dapat memberikan perlindungan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat, bukan dengan cara menakut-nakuti masyarakat. Dalam menjaga keamanan jalannya upacara adat yang berlangsung di lingkungan desa, apabila harus menutup jalan, setidaknya bisa memberikan jalan alternatif kepada pengguna jalan yang lain, dan mampu memberikan penjelasan kepada mereka bahwa ada penutupan jalan dengan sikap yang ramah.  Mari kita berpikir bagaimana memberikan pelayanan dengan solusi (service with solution). Kita hidup di daerah pariwisata, bahkan banyak masyarakat kita hidup dari pariwisata, jika sikap ramah tidak ada sesama kita bagaimana kita memperbaiki pariwisata kita yang sudah terpuruk.  Mari kita sama-sama renungkan ini, dan introspeksi diri, sehingga kesan pecalang seperti diatas dapat kita hilangkan. Mari sama-sama mempertahankan kesan masyarakat Bali yang ramah dan murah senyum. Jika bukan kita, siapa lagi?

Posted by : I Wayan Ardika

suasana

Lawar dan Belawa

lawar_ayam

LAWAR

Lawar adalah makanan tradisional khas Bali yang sudah sangat terkenal di daerah Bali, dalam dan luar Negeri. Banyak hotel bertaraf International yang mencantumkan makanan khas Bali ini ke dalam menu yang disajikan bagi tetamu mereka. Lawar disamping digunakan sebagai sesajen, sajian dan hidangan juga telah dijual secara luas di rumah-rumah makan dengan merek lawar Bali. Lawar adalah salah satu jenis lauk pauk yang dibuat dari daging yang dicincang, sayuran, sejumlah bumbu-bumbu dan kelapa dan terkadang di beberapa jenis lawar diberikan unsur yang dapat menambah rasa dari lawar itu ialah darah dari daging itu sendiri, darah tersebut dicampurkan dengan bumbu-bumbu tertentu sehingga menambah lezat lawar tersebut. Lawar sendiri tidak dapat bertahan lama makanan ini jika didiamkan di udara terbuka hanya bertahan setengah hari. Sehingga timing penyajian benar-benar sangat diperhatikan oleh seorang belawa untuk menjaga rasa dan hygiene daripada lawar itu.

Penamaan lawar bervariasi, biasanya berdasarkan jenis daging yang digunakan atau jenis sayurannya. Bila yang digunakan daging babi maka lawar yang dihasilkan disebut lawar babi., demikian juga bila yang digunakan sayur nangka, maka lawarnya diberi nama lawar nangka. Ada juga pemberian namanya berdasarkan warna lawarnya yaitu lawar merah bila warna lawarnya merah, lawar putih bila warna lawarnya putih dan ada lawar yang bernama lawar padamare, yaitu sejenis lawar yang dibuat dari campuran beberapa jenis lawar. Khususnya di Desa Bugbug, penataan penghidangan lawar tidaklah lengkap jika di dalamnya tidak dilengkapi dengan lawar don blimbing.

Lawar tidak dapat dipisahkan dari berbagai pelaksanaan upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Pekraman Bugbug. Bagi Masyarakat Bugbug lawar merupakan makanan khas yang dibuat dari campuran daging, kelapa muda, kelapa yang agak tua, dengan bumbu lengkap (basa genep) Bali. Lawar biasanya dihidangkan sebagai lauk pauk teman makan nasi yang biasanya dilengkapi dengan komoh, tatimbungan, dan jukut ares yang disantap bersama sehabis atau sebelum melaksanakan upacara adat dengan cara megibung.

Secara umum, bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan lawar adalah sebagai berikut : Daging babi 300 g kelapa muda, kelapa agak tua 150 g Kulit babi bersih 100 g Minyak kelapa/minyak goreng secukupnya Bumbu Isen 2 jari Kencur 1 jari Kunir 1 jari Jahe 0,5 jari Base wangen 1 sendok makan Daun limo rajang 1 sendok teh Bawang putih 15 siung Bawang merah 15 siung Merica hitam 1 sendok makan Cabai merah 50 g Kemiri 10 biji Daun jangan ulam secukupnya Terasi secukupnya Garam secukupnya Kulit daging kelapa bakar secukupnya Daun salam secukupnya Daun jambu biji secukupnya.

Cara Pembuatan

Merica hitam diulek halus. Bawang putih dan kencur diulek halus dan digoreng bersama garam, terasi dan irisan cabai, sampai baunya harum (bumbu A). Bawang merah, bawang putih dan kemiri diiris-iris dan digoreng sampai harum, selanjutnaya disebut emba. Bumbu-bumbu lainnya diulek menjadi satu dan digoreng (bumbu B). Bumbu lengkap dibuat dengan mencampur merica hitam, bumbu A, bumbu B, mba dan limo rajang. Bumbu lengkap ini diaduk merata dan siap digunakan untuk pencampur. daging dibersihkan dari urat dan lemak dan dicincang halus serta ditambahkan darah segar dan daun salam. Pencincangan dilanjutkan sampai dagingnya halus. Daging yang telah dicincang halus kemudian direndam di dalam air daun jambu biji panas selama lebih kurang lima menit, selanjutnya disaring, diperas dan ditiriskan. batok kelapa mudah direbus selama 10 menit, kemudian didinginkan. Kelapa muda yang telah dingin kemudian diiris memanjang, kemudian diperas, airnya dibuang. Kulit babi dibersihkan dan selanjutnya kulit yang telah bersih direbus sampai matang, kemudian didinginkan, terus diiris-iris memanjang. selanjutnya dilakukan pencampuran bumbu dengan cara berikut. Kelapa muda ditambah bumbu lengkap dan diaduk merata. Kelapa muda, daging cincang dan kulit babi yang sudah dibumbui dicampur dan diaduk merata. Setelah tercampur merata, pada bagian atas ditaburi dengan bawang goreng, selanjutnya lawar siap dihidangkan.

penampahan_lawar_02

Belawa

Dalam kaitan pembuatan lawar di atas, ada sebuah peran dalam proses sebuah upacara yang tidak bisa di anggap enteng. Di dalam masyarakat Traditional Bugbug, dalam pelaksanaan berbagai kegiatan upacara dikenal istilah “Belawa” yang juga menentukan sukses tidaknya sebuah penyelenggaraan upacara dalam urusan penyediaan masakan untuk bebanten maupun pasuguh sangat bergantung pada keberadaan “Belawa”. Berbeda halnya dengan juru masak pada masyarakat lainnya, Belawa sepenuhnya melaksanakan pekerjaannya murni dengan status “ngayah” dan mapitulung. Walau tidak ada bayaran atas pekerjaan yang dilaksanakan oleh Belawa, Ia mendapatkan penghargaan sosial yang cukup tinggi akan halnya dengan kedudukan pemangku maupun tukang banten (srati) oleh sang manggala upakara. Meskipun tidak memerlukan banten pangendek panuur (banten uleman) seperti ketika nuur pemangku, masuaka untuk meminta belawa membantu pelaksanaan pekerjaan di bidang masakan sangatlah diperlukan.

Me Mangku

Belawa memiliki kecakapan yang lebih dalam hal meracik bahan-bahan untuk pembuatan lawar (ebatan), sate palipat, sate paliro, perhitungan-perhitungan akan kebutuhan bahan-bahan masakan dihubungkan dengan jumlah undangan, jumlah bebanten yang diperlukan oleh rangkaian upacara. Setelah upacara usai, sebagai ungkapan terima kasih atas jerih payah yang Belawa membantu kelancaran upacara dalam bidang masakan, ia mendapatkan sebuah sajian yang disebut “paliro” yang berisikan sajian lawar dan sate-sate kas Bugbug yang terdiri dari sate lilit, sate asem dan sate khas Bugbug lainnya.

Posted by : I Wayan Ardika

Meong Garong

Magenjekan

magenjekan

Kesenian genjek kini semakin populer di masyarakat. Dalam konteks pergaulan antar masyarakat Bugbug, Magenjekan juga cukup dikenal. Dalam komunitas pengguna teknologi mutakhir, Magenjekan juga dijadikan nada sambung dan nada dering handphone pada beberapa kalangan. Bahkan pada suatu kesempatan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali, seni yang dimainkan beberapa orang ini pernah pula dilombakan. Hasilnya cukup mengagumkan. Penonton begitu antusias menyaksikan seni satu ini. Selain dalam ajang PKB, genjek juga sudah masuk dunia rekaman. Cobalah bertandang ke toko penjual kaset, di sana akan ada terpajang rekaman genjek dari berbagai sekaa yang tersebar di seantero Bali. Komunitas purantara Bali di belahan Negara-negara lain seperti Amerika juga menggunakan genjek sebagai sarana hiburan dalama memeriahkan sebuah perayaan. Artinya, genjek memang sudah memasyarakat.

say no to ecstasy

Genjek berasal dari kata gagonjakkan yang artinya guyonan, senda gurau tokoh-tokoh orang Karangasem saat memenangkan perang ke pulau Lombok. Berawal dari sinilah kemudian kebudayaan genjek berkembang menjadi ikon serta trade mark khususnya di Kabupaten paling timur pulau Bali. Budaya magenjekan pada kalangan masyarakat Karangasem pun sudah melekat erat dan menjadi suatu identitas. Sehingga, kegiatan yang bersangkutpaut dengan komunitas masyarakat, seperti upacara pernikahan, upacara masesuuk yaitu suatu rangkaian penyambutan bayi lahir yang ditandai dengan putusnya tali pusar sang bayi, dan kegiatan sosial masyarakat lainnya, maka selalu berkaitan erat dengan genjek.

spyderman

“Magenjek” biasanya diiringi dengan kemong yaitu semacam alat musik sederhana yang biasanya terdiri dari bekas sandal jepit dan potongan bambu. Inilah suatu bentuk penyatuan antara unsur alamiah (bambu) dan unsur kimiawi (bekas sandal jepit). Melihat kondisi seperti ini, semestinya kita sebagai manusia bisa mencontoh bekas sandal jepit dan bambu yang bisa berdampingan dengan rukun serta berkolaborasi untuk menghasilkan instrument musik yang menarik. Dengan kemong inilah maka, magenjek akan dilangsungkan karena kemong merupakan instrument vital dalam magenjek. Genjek suatu nyanyian yang diiringi ritme dan gejolak masing-masing pagenjek, dan memiliki style tersendiri di dalam menyanyikan genjek tersebut. Perbedaan gaya magenjek bukan menjadi permasalahan melainkan menjadi suatu kekuatan yang dipadukan dengan rasa kebersamaan. Demokrasi di dalam magenjekan untuk meluapkan ekspresi seseorang merupakan sisi positif yang berdampak terhadap kondisi psikologi seseorang.

slide-globe

Sayang, beberapa tahun belakangan tradisi genjek sering dianggap berdampak negatif di kalangan masyarakat. Fenomena itu muncul dikarenakan kehadiran genjek yang sering kali dikaitkan dengan tabuh sajeng rateng dan sajeng mentah (mabuk-mabukkan). Anak-anak muda pun kerap mengidentikkan genjek dengan minuman keras setingkat tuak dan arak. Hal inilah yang sering menjadi kontroversi serta asumsi di kalangan masyarakat bahwa magenjekan itu tidak baik. Identik dengan tradisi mabuk-mabukan.
Untuk itu, alangkah bijaknya jika genjek yang telah pula dilombakan itu lebih dipelihara sebagai sebuah karya seni tinggi. Bukan menjadi ajang menegak minuman keras.
Jadikanlah dan angkat genjek ini hingga memiliki tujuan mulia. Misalkan saat ada keluarga yang memiliki kedukaan, orang yang magenjekan mestilah sifatnya menghibur. Membangkitkan rasa peduli dan memberikan semangat hidup pada yang ditinggalkan (sanak keluarga) agar mereka tabah menghadap rasa kehilangannya. Alhasil, magenjek dijadikan semacam sarana menyenangkan bagi mereka yang didera kesedihan, sakit hati, ditinggal pacar, dan lain sebagainya.

say no to drugsMagenjekan memang sulit dihilangkan dengan budaya menegak minum keras sejenis tuak atau arak tadi. Cuma, sebaiknyalah para peserta berusaha membatasi diri. Minum tuak dan arak bagi yang magenjek sebaiknya dibatasi, sehingga meminum minuman karya leluhur tersebut tak sampai membikin pagenjek tidak mabuk. Kalau mabuk, nantinya tak lagi bisa menghibur, tapi justru bisa berbicara ngelantur tanpa bisa diukur.
Kesimpulan genjek sebagai suatu pedoman gejolak individu dalam menjalani kehidupan serta cerminan menghadapi kompleksitas permasalahan yang ada, sebaiknya kita lestarikan ke arah lebih positif lagi. Karena dengan adanya genjek kita masih bisa menghibur saudara, teman, dan masyarakat tanpa mengeluarkan biaya yang mahal layaknya diskotek-diskotek yang berjejer di seputaran Kuta.

kamera

Posted by I Wayan Ardika,
Oleh : I Gede Sugiarta Fak. Ilmu Agama, Semester II, Unhi, Denpasar
Pada Sarad 99/Juli 2008

Gumang ; Cerita Untuk Anak

senja di gumang

Seorang laki-laki dari Pulau Jawa (Jaba – luar ?), entah siapa namanya, terlunta-lunta pergi ke Bali. Ia jatuh miskin. Pekerjaannya sehari-hari hanya berjudi dan bermalas-malasan. Tanah rumah dan harta bendanya habis terjual karena ia selalu kalah dalam perjudian.

Di Bali ia berharap dapat menghindari kebiasaannya yang sangat buruk itu. Sambil mengenang nasibnya yang malang itu, ia melangkah tak tentu arah. Berpuluh sungai terseberangi, berpuluh hutan dan gunung terlewati, akhirnya ia sampai di sebuah bukit di ujung timur Pulau Bali. Penduduk Desa Bugbug yang tinggal tidak jauh dari bukit itu, menamakan tempat itu Bukit Juru atau Bukit Gumang.

gumang dari jembatan

Bukit yang agak tinggi itu menjorok ke Pantai selatan, di lereng Barat dan Utara berjejer gugus-gugus hutan yang lebat dan menghijau, di lereng timurnya mengalir sebuah sungai, Sungai Buhu namanya dan di seberang sungai itu terbentang sawah yang luas, di bukit itulah ia merasakan ketenangan. Sekali-sekali ia melepas pandang ke selatan, memandang ombak yang menghempas ke pantai di Song Lawah di kaki Bukit Gumang sebelah selatan.

Di bukit yang berpuncak seperti prisma, puncak bukit yang bercabang tiga laksana lambang kedamaian – peace - ini ia beroleh kedamaian.  “Bukit ini tak kan kutinggalkan,” katanya sendirian. Ia duduk bersila menghadap ke timur laut  menjalankan tapa brata seolah hendak menghubungkan aura Gunung Agung di Utara dan Gunung Lempuyang di timur mewujudkannya menjadi garis imajiner Trikona. Berhari-hari berminggu minggu, bahkan berbulan-bulan, ia merenung : melupakan masa silam dan menyambut kehidupan yang baru.

Singkat cerita, laki-laki yang mula-mula berperangai buruk itu berhasil menjadi betara atau dewata. Karena menetap di bukit itu, lama kelamaan ia dikenal dengan nama Dewa Gede Gumang. Di alam dewata ia tidak lagi hidup menyendiri, tetapi hidup berkeluarga, punya seorang istri dan empat orang anak. Anak pertama laki-laki bernama Dewa Gede Manik Punggung, anak kedua ketiga dan keempat semuanya perempuan berturut-turut bernama Dewa Ayu Nengah, Dewa Ayu Nyoman dan Dewa Ayu Ketut.

Keluarga dewata itu hidup rukun dan damai. Mereka bukan saja berhubungan baik dengan dewa-dewa di Desa Bugbug, tetapi juga dengan dewa-dewa di luar desa itu, seperti Bebandem, Jasi dan Ngis. Bahkan Dewa Gede Gumang menginginkan putra-putrinya menikah dengan betara-betari dari desa tetangga.

Keinginan sang Ayah itu terpenuhi, putrinya yang pertama Dewa Ayu Nengah dinikahkan dengan Betara Bebandem itu tidak berjalan mulus. Konon Ida Betara Bebandem itu sangat buruk rupanya. Kepalanya botak dan bibirnya sumbing. Sedikitpun Dewa Ayu Nengah tidak tertarik pada pemuda itu. Setiap didekati, putri itu menjauh, bahkan menolak mentah-mentah.

Tibalah pada suatu kesempatan, Dewa Ayu Nengah minggat dari Bebandem, Ia tidak berani pulang ke Gumang, tetapi membuang-buang langkah di pesisir Pantai Selatan. Di sepanjang jalan ia menangis dan menyesali nasibnya yang malang. Ketika menyisiri Pantai Jasi, seorang Betara bernama Betara Gede Pesisi mendengar tangis yang mengiris hati.

gumang dari pasih kelod

“Apa yang terjadi atas dirimu Ayu Nengah ?” Tanya Betara Pesisi mendekati Dewa Ayu Nengah. “Dan mengapa menangis di tempat seperti ini ?” “Tolonglah hamba yang malang ini Betara Gede,” jawab Dewa Ayu Nengah sesenggukan. Kemudian menjelaskan kenapa ia meninggalkan Betara Gede Bebandem.

Sebelumnya kedua Betara-betari itu sudah sejak lama saling menaruh perhatian. Akan tetapi karena takut dengan Dewa Gede Gumang, kedua muda-muda itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk saling bercengkerama. Kini saat yang baik itu dipergunakan oleh Dewa Gede Pesisi untuk menyatakan isi hatinya.

Pertemuan yang tak terduga-duga itu ternyata melahirkan benih-benih saling mencintai. Petang itu juga keluarga Dewa Gede Pesisi menyampaikan pejati kepada Dewa Gede Gumang. Tentu saja Dewa Gede Gumang marah luar biasa. Ia merasa hubungannya dengan Dewa Gede Bebandem sengaja dihancurkan, Kalau saja beberapa orang pengiring tidak melerai kejadian petang itu, pastilah terjadi pertumpahan darah.

Setelah kemarahannya mereda, barulah Dewa Gede Gumang menyadari kekeliruannya. Pernikahan antara putrinya dengan Dewa Gede Pesisi adalah atas dasar cinta sama cinta. Sedangkan pernikahan dengan Betara Bebandem atas dasar kehendak orang tua masing-masing. Hubungan cinta yang murni itu haruslah direstui, demikian kata hatinya.

Sepeninggal Betara Gede Pesisi tak lama kemudian datanglah Betara Bebandem. Ia mengira Ayu Nengah yang minggat dari rumahnya, pastilah pulang ke Gumang. Mendengar penjelasan bahwa Ayu Nengah telah dinikahi oleh Dewa Gede Pesisi, seketika itu ia naik darah. Ia menuduh Dewa Gede Gumang tidak bertanggung jawab, dan menghina keluarga Bebandem. Tanpa berpikir panjang ia segera berangkat ke Jasi untuk merebut kembali kekasihnya.

“Maafkanlah aku anakku”, kata Betara Gede Gumang sambil menahan keberangkatan Betara Bebandem. “Rupanya Ayu Nengah bukan jodohmu. Kita tidak boleh memaksakan perkawinan yang bukan jodohnya. Kalau nanda berkenan ambillah anakku Ayu Nyoman sebagai istrimu.
Dengan demikian hubungan keluarga Gumang dengan Bebandem tetap terjalin”. Walaupun kemarahan yang meluap itu terobati, Betara Bebandem masih meragukan kata-kata Betara Gede Gumang. Ia takut kalau-kalau kejadian yang memalukan itu terulang kembali dan tentu saja hubungan antara dua keluarga itu akan retak selamnya.

“Baiklah hamba bersedia memperistri Dewa Ayu Nyoman, tetapi ada satu permintaan hamba”, kata Dewa Gede Bebandem. “Hamba minta putra ayahanda yang pertama, Manik Punggung menyertai Ayu Nyoman untuk menetap di Bebandem. Dialah yang akan memperkuat hubungan keluarga kita”.  Kata Gede Bebandem.

Bagi Betara Gede Gumang, usul menantunya itu bagaikan gayung bersambut. Hubungan Bukit Gumang dengan desa desa lain di sekitarnya akan selamanya terjalin dengan aman dan damai. Apalagi Manik Punggung dipercaya ikut memelihara hubungan kekeluargaan itu. Itu terlukis dalam prosesi yang berlangsung dalam Upacara Usaba Gumang yang tetap diadakan sampai sekarang.

Setiap orang boleh mengingat kejadian pahit di masa lampau, tetapi jangan sampai kenangan itu dapat meretakkan hubungan erat yang sudah terjalin dengan baik.  Demikian pesan cerita di atas.

buku gumang

  • Posted by : I Wayan Ardika
  • Karya : Made Taro
  • Judul Asli : Pergumulan Jempana di Bukit Gumang
  • Dalam buku berjudul : Perang Leak
  • Halaman : 36,37,38,39,40,41,42
  • Penerbit : Grasindo Jakarta, 2008

Cerita untuk anak mengenai Pura Gumang di atas juga diresensi oleh sastrawan Bali Mas Ruscita seperti di bawah ini : MEMILIKI nuklir yang canggih dengan alasan untuk menjaga perdamaian, bagi sebagian orang, pasti dianggap alasan yang mengada-ada. Mereka akan mempertanyakan, bagaimana mungkin sebuah senjata canggih yang diperuntukkan untuk perang atau membunuh akan melahirkan perdamaian? Senjata dan perang hanya akan melahirkan dendam dan pembunuhan yang tak henti-hentinya.

Sebagian orang lagi bisa dengan ngotot mengatakan bahwa hanya dengan memiliki kekuatan militer adidayalah seseorang bisa didengar perkataan maupun perintahnya. Dalam hal ini, tentu yang dimaksud adalah sekelompok orang atau bangsa mau menuruti perintah kelompok maupun bangsa itu karena takut akan diserang dengan senjata sakti tersebut. Atau alasan yang lain lagi, bahwa hanya dengan perang orang-orang bisa menghargai keberadaan orang lain.

Bagi beberapa orang, perang bisa dipakai sebagai media pembelajaran dan juga kesempatan untuk introspeksi diri.

Melakukan perang, mempertunjukkan kesaktian dengan mengorbankan nyawa untuk menuju perdamaian, juga ada dalam salah satu cerita rakyat Bali yang terkumpul dalam buku berjudul “Perang Leak” yang diceritakan kembali oleh Made Taro ini.

Cerita yang juga dijadikan judul dalam buku yang memuat 10 cerita ini berkisah tentang seorang tokoh sakti bernama Ki Balian Batur. Diceritakan bahwa Ki Balian Batur yang semula tinggal di Wintang Danu mendapat anugerah kesaktian dari Batari Danu. Ki Balian Batur kemudian meninggalkan tempatnya yang indah dan tenang untuk menetap di sebuah desa bernama Karang Kedangkan.

Kebaikan hati Ki Balian Batur yang sakti dan keluarganya membuat orang-orang segan dan hormat kepadanya. Salah seorang putrinya yang bernama Ni Made Wali berjualan nasi di Desa Cau yang terletak di sebelah timur Desa Karang Kedangkan. Karena makanannya juga enak dan pelayanannya yang bagus membuat jualan Made Wali laris. Tetapi semuanya berubah saat adat memfitnahnya bahwa yang dijual Made Wali adalah daging manusia. Hal ini tentu saja membuat orang muntah-muntah dan mencaci maki Ni Made Wali.

Ketika hal itu disampaiakn kepada ayahnya, Ki Balian Batur, beliau marah dan bersumpah akan menjadikan Desa Cau sebagai tempat pengembalaan badak dan lembu. Apa yang dikatakan Ki Balian Batur terjadi, hal ini membuat raja Kawiapura, Cokorda Sakti Blambangan marah dan mengutus De Bendesa yang juga sakti untuk memerangi Ki Balian Batur. Tetapi kesaktian Ki Balian Batur tidak terkalahkan, sambil terbang di angkasa ia mengejek De Bendesa dan mengatakan bahwa ia hanya bisa dikalahkan oleh senjata bedil Ki Sliksik Narantaka.

Perkataan Ki Balian Batur membuat De Bendesa dan Raja berpikir keras untuk mencari di mana senjata itu disimpan. Sayangnya Raja ingat bahwa senjata itu disimpan oleh Dewa Agung Raja Semarapura, yang merupakan musuh leluhurnya di masa lalu. Permusuhan itu berlangsung sampai sekarang. Namun, demi mendapatkan senjata itu dan demi bisa membunuh Ki Balian Batur, Cokorda diminta untuk berdamai dengan Raja Semarapura dan melupakan pengalaman pahit masa lalu.

Akhirnya Cokorda Blambangan menghadap ke Semarapura menghadap Raja Dewa Agung. Kedatangannya ternyata disambut hangat. Dengan senang hati Raja Semarapura meminjamkan senjata itu dan memberi bantuan prajurit-prajurit handalnya yang dipimpin oleh Anom Sirikan. Akhirnya Ki Balian Batur dapat dikalahkan oleh senjata itu. Tetapi sebelum tewas, Ki Balian Batur meminta maaf karena telah merepotkan kedua raja tersebut.

Diungkapkannya bahwa pertempuran dahsyat antara pasukan Ki Balian Batur dan Cokorda Blambangan serta raja Semarapura terjadi atas perintah Batari Danu, yang menginginkan agar kerajaan Kawiapura dan Semarapura damai dan bersatu. Karena pengorbanan Ki Balian Batur tersebut, kedua raja mendirikan tempat suci untuk mengenang peristiwa itu. Hutan yang timbul akibat pertempuran menjadi kerajaan Sukaati dan dihadiahkan kepada Agung Anom Sirikan sebagai raja. Konon nama Sukaati diberikan karena pertempuran itu membuat hati suka. Sekarang daerah itu bernama Sukawati.

Selain memuat kisah tentang kepahlawanan Ki Balian Batur, buku ini juga memuat kisah-kisah berjudul “Ular yang Bertapa di Danau Beratan”, “Riwayat Pisang Gedang Saba”, “Bima Mencari Tirta Amerta”, “Sang Matali Mencari Menantu”, “Pergumulan Jempana di Bukit Gumang”, “I Cupak dan I Grantang”, “Penyu pun Tak Mau Punah”, “Cincin Emas” dan “Si Harimau Belang”.

Buku ini menarik dibaca karena di dalamnya berisikan cerita-cerita tentang filsafat hidup maupun kepercayaan masyarakat Bali yang sulit ditemukan pada buku-buku dongeng lainnya. I Made Taro bisa menceritakan hal-hal seperti ini dengan cara bercerita yang mudah dicerna anak-anak, karena selain seorang penulis, pendiri Sanggar anak-Anak “Kukuruyuk” ini adalah juga seorang pendidik dan pelestari budaya.

buku gumang

« Entri lama Entri Lebih Baru »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.