DESA TRADISIONAL BUGBUG

LOKASI  : Desa bugbug merupakan salah satu desa  administrasi di Kabupaten Karangasem dengan luas areal mencapai 815 Ha berjarak sekitar 8 Km dari ibukota Kabupaten. Desa Bugbug memiliki batas – batas administrasi sebagai berikut  :

  • Sebelah Utara        : Pantai Kuek/Desa Batu Kuek
  • Sebelah Selatan    : Laut (Selat Lombok)
  • Sebelah Timur       : Sungai, Desa Pertima,Timbrah, dan Desa Asak
  • Sebelah Barat         : Batu Madeg

Desa Adat Bugbug merupakan salah satu desa Bali Age atau Bali Mula dengan 12 (dua belas) Banjar yang terdiri dari :  Banjar Baruna; Banjar Griya; Banjar Puseh; Banjar Benangan; Banjar Madya; Banjar Darma Laksana; Banjar Segahaa; Banjar Dukuh Tengah; Banjar Celuk Kauh;  Banjar Celuk Kangin;  Banjar Asah; Banjar Samuh.

Sebelum berubah menjadi Desa Pekraman Bugbug, Desa Adat Bugbug merupakan Desa Perbekalan yang membawahi 4 Desa Adat yaitu :

  1. Desa Adat Bugbug
  2. Desa AdaT Asak
  3. Desa Adat Timbrah
  4. Desa Adat Perasi

Lokasi Bugbug

Bugbug

JENIS DAN STATUS DESA : Desa Adat Bugbug merupakan salah satu desa Bali Age atau Bali Mula dimana Desa Adat Bugbug ini telah ada dari tahun 1103 Caka (1181 Masehi). Hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti tediri dari 10 lembar plat lempeng tembaga.

KONDISI GEOGRAFIS : Kondisi geografis Desa Bugbug dimana Desa Adat Bugbug terletak di daerah dataran rendah. Lokasi yang datar dan di dataran rendah ini sangat berpengaruh terhadap aktifitas masyarakat.

KONDISI TOPOGRAFIS : Letak topografis Desa Adat Bugbug terletak pada ketinggian antara 500 m, dengan suhu rata-rata 28 ºC perbukitan yang mengelilingi desa adat Bugbug. Dimana di sebelah Utaranya adalah Gunung Agung.

KONDISI GEOLOGIS :  Geologis atau jenis bebatuan yang ditemukan di Desa Adat Bugbug adalah jenis bebatuan pegunungan (vulkanik) dengan penampakan fisik adalah berupa bebatuan tua dengan dimensi sekitar + 100-200 cm.

Geografis

KONDISI GENEAKOLOGIS & SOSIOLOGIS : Kondisi sosiologis masyarakat Desa Bugbug dimana jumlah penduduk Desa Adat Bugbug sebanyak kurang lebih + 1200 orang, dengan kepadatan sekitar 94 orang/km2.  Yang unik dari desa adat Bugbug ini adalah dimana awalnya masyarakat di Desa Adat Bugbug terdiri atas berbagai golongan dan tingkatan dalam masyarakat. Lama-kelamaan hal ini memicu percekcokkan dan pemimpin kelompok masyarakat tidak mampu mengatasi perselisihan ini. Melihat hal ini Bendesa Mas mengambil keputusan untuk menyamaratakan kedudukan semua masyarakat di desa itu tanpa mengenal lagi tingkatan status sosial, khususnya bagi mereka yang ingin tetap tinggal di desa adat Bugbug.

Struktur organisasi pengurus desa adat Bugbug dipimpin oleh seorang Perbekel dibantu oleh sekretaris dan kelian banjar dinas.

Selain itu secara sosiologi atribut pokok dari suatu komunitas kecil yang terwujud sebagai desa adat di desa adat Bugbug tidak jauh berbeda dengan konsep desa adat pada umumnya di Bali tersimpul dalam konsepsi Tri Hita Karana sebagai berikut:

1. Kahyangan Tiga, yang terdiri dari tiga pura sebagai pusat pemujaan warga desa, yaitu pura puseh, Bale Agung dan pura dalem. Untuk satuan banjar yang merupakan sub bagian desa terdapat fasilitas umum berupa Bale Banjar yang dilengkapi Bale Kulkul dan pura banjar.

2. Pawongan Desa, yaitu seluruh warga desa yang bersangkutan. Sebagai warga inti adakah setiap pasangan suami istri yang telah berkeluarga. Menurut jumlah anggotanya, banjar di Bali dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: banjar besar, bila jumlah anggotanya lebih dari 50 kuren (kepala keluarga), banjar kecil bila anggotanya lebih sedikit dari 50 kuren. Besaran yang efektif dalam desa adat di Bali adalah sekitar 200 KK setiap banjar. Maka bila rata-rata masing-masing KK ada lima orang maka setiap banjar (penyatakan) terdiri sekitar seribu jiwa. Penelitian Prof. Antonic terhadap desa-desa adat dan dinas di Bali menyimpilkan besaran efektif untuk sebuah desa adalah lima ribu jiwa (Bappeda, 1976:14).

3.  Palemahan Desa, yaitu wilayah desa yang merupakan tempat perumahan warga desa. Perumahan berada pada kedua belah sisi megikuti pola jalan, Bale Banjar sebagai fasilitas sosial umumnya terletak pada posisi yang strategis, seperti pada satu sudut persilangan atau pertigaan jalan di tengah-tengah lingkungan bajar (Putra, 1988).

SISTEM RELEGI DAN KEPERCAYAAN : Dalam kepercayaan masyarakat Desa Adat bugbug Tantra merupakan mutiara Weda yang sangat Indah, bila dicari makna dalam makna. Karena bersumber dari percakapan antara Siva dan Parwati. Namun sayang sekali mutiara Weda itu ditafsirkan mentah bila pengetahuan seseorang masih rendah. Akibatnya Tantra disebut Aliran Sesat., dengan melihat perkembangan ini maka desa adat Bugbug memiliki kepercayaan terhadap Siwa

SISTEM SOSIAL MASYARAKAT : Konsep hidup masyarakat biasa dikenal dengan konsep Tri Hita Karana yaitu penyelarasan hubungan antar manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa untuk mencapai kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan. Aktifitas masyarakat sehari-hari sangat berpegang pada koinsep Tri Hita Karana tersebut.

SISTEM MATA PENCAHARIAN DAN EKONOMI DESA : Mata pencaharian masyarakat masih dominan bergerak di bidang agraris. Mata pencaharian yang lain yaitu di bidang perkebunan, wiraswasta, PNS, dan berdangang. Khususnya hasil bumi yang ada dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat sendiri dan kelebihannya dikelola untuk dijual di desa terdekat maupun pasar tradisional. Nilai – nilai ekonomi terlihat jelas saat kegiatan adat, dimana masing-masing warga turut serta dalam persiapan maupun pelaksanaan upacara adat tersebut.

POLA SPASIAL KAMPUNG TRADISIONAL :  Desa adat Bugbug menunjukkan pola spasial Linier dimana pada pola linear konsep Sanga Mandala tidak begitu berperan. Orientasi kosmologis lebih didominasi oleh sumbu kaja-kelod (utara-selatan) dan sumbu kangin-kauh (timur-barat).

Pada bagian ujung Utara perumahan (kaja) diperuntukan untuk Pura (pura bale agung dan pura puseh). Sedang di ujung selatan (kelod) diperuntukan untuk Pura Dalem (kematian) dan kuburan desa. Diantara kedua daerah tersebut terletak perumahan penduduk dan fasilitas umum (bale banjar dan pasar).

Pola linear pada umumnya terdapat pada perumahan di daerah pegunungan, daerah dataran di Bali, dimana untuk mengatasi geografis yang berlereng diatasi dengan terasering.

Spasial

Sedangkan pola perumahan pada masing – masing pekarangan di desa Bugbug mengikuti konsep pembagian ruang yaitu Sanga Mandala. Dimana bangunan suci menempati arah mata angin Timur Laut.

Gambaran situasi pekarangan perumahan masing – masing pekarangan di desa Bugbug adalah sebagai berikut :

Spasial

ORIENTASI : Orientasi desa Bugbug yang berpola linier mengutamakan arah utara-selatan, Pada bagian ujung Utara perumahan (kaja) diperuntukan untuk Pura (pura bale agung dan pura puseh). Sedang di ujung selatan (kelod) diperuntukan untuk Pura Dalem (kematian) dan kuburan desa. Diantara kedua daerah tersebut terletak perumahan penduduk dan fasilitas umum (bale banjar dan pasar).

KOMPONEN DESA : Komponen desa Bugbug antara lain :

a. Bangunan penunjang

Bangunan selain perumahan penduduk terdapat bangunan penunjang seperti Pura Agung, bale pertemuan, bale banjar, pasar, sekolah, puskesmas, dll.

Penunjang
b. Aksesibility

Desa Bugbug memiliki akses eksternal dan internal yang sangat fungsional. Akses eksternal menuju dan keluar dari desa berupa jalan aspal selebar kurang lebih 6 meter, dibangun oleh pemerintah daerah.

Aksesibility

Akses internal berupa jalan lingkungan selebar 3-4 meter. Perkerasan berupa semen dan batu alam dan PVC.

Jalan

c. Air bersih : Sumber air Desa adat Bugbug diambil dari Desa Bungaya, dengan jarak ± 8 km. Selain itu Desa adat Bugbug juga memiliki 3 buah bak penampung air (cubang). Ssaluran air di desa Bugbug dikelola secara swadaya dengan kerjasama denga oleh PDAB (Perusahaan Desa Air Bersih). Dimana PDAB ini melayani sekitar 900 KK dengan iuran + 45.000/bulan. Terdapat juga keran umum sebanyak 12 buah. Sumber air tanah ditampung dalam bak penampungan berukuran 4mX9mX3m.

Air Bersih

d. Air limbah : Air limbah di desa Bugbug dialirkan dari masing – masing rumah penduduk ke saluran draianese berupa got dengan lebar got sekitar 30 cm. Namun sangat disayangkan belum adanya intensitas kegiatan pembersihan got dari masyarakat. Bahkan banyak saluran drainase yang ditutup menggunakan papan atai trali besi oleh masyarakat.

Limbah

e. Persampahan : Untuk aspek persampahan masyarakat belum memisahkan antara sampah basah dan sampah kering. Masyarakat bahkan masih membuang sampah di teba (daerah belakang rumah). Sampah pada umumnya hanya dikumpulkan di depan pekarangan masing-masing penduduk, kemudian akan diangkut oleh truk ke TPS tiap 3 hari sekali. Sampah sudah harus dikeluarkan pukul 05.00 pagi. Pengelolaan pengankutan sampah tidak ipungut biaya.

Sampah

f. Listrik dan telepon : Sudah terpasang jaringan listrik dan telepon ke dalam desa. Besaran gardu listrik mencapai 1 MV, untuk melayani sambungan listrik ke masing – masing rumah. Line telepon melayani hampir tiap2 line/rumah.

UPACARA ADAT/TRADISIONAL : Di Desa Bugbug- Karangasem adalah desa dikategorikan Desa Spiritual dimana praktek-praktek keagamaan dalam menjalankan bhakti kepada Tuhan tergolong unik dan frekuensinya cukup banyak. Hampir setiap bulan ( purnama / tilem ) terdapat acara yang diselenggarakan oleh Desa Pakraman Bugbug untuk menjalankan kebaktian terhadap Hyang Pencipta. Acara keagamaan itu lazim disebut “Usaba”. Seperti : Usaba Manggung, Usaba Kelod, Usaba Bukit Gundul, Usaba Gumang, Usaba Pengalapan, Usaba Pasujan, Usaba Kaja,dan lain-sebagainya, selain itu keunikan dari ritual ini adalah panjangnya waktu pelaksanaan yang mencapai 8 bulan.

Namun dalam ritual itu terdapat praktek yang bernuansa mistis. Pada Usaba yang boleh dikatakan besar seperti Usaba Manggung dan Usaba Gumang kemistisan dari usaba tersebut bisa dilihat dengan adannya “Daretan”. Banyak dari sosok daretan bila diteliti merupakan pengaruh tantrayana, seperti roh asing ( roh selain dirinya ) yang memasuki raga daretan itu, ada lagi bersumber dari ajaran Tantar yang disebut Panca Ma, diantaranya alkohol ( tuak ), daging ( anak ayam / pitik ) yang dimakan. Fenomena ini jelas Tantrayana masih dijadikan sebuah tatanan prilaku menghayati kebesaran Tuhan di Desa Bugbug.

POTENSI PENGEMBANGAN : Potensi yang dapat dikembangkan dari desa Bugbug adalah sebagai berikut : Terdapat upacara – upacara besar dikenal sebagai karya tawur ggung tabuh gentuh, ngenteg linggih, mepedudusan agung, labuh gentuh dan usaba kaja. Untuk tahun ini, rangkaian upacara telah dimulai sejak Minggu  (3/1) lalu. Rangkaian upacara terdiri dari mendak aagia pulekerti dan penyegjeg jagat dari Pura Dalem ke Pura Bale Agung. Dimana hal ini banyak menarik minat wisatawan untuk menyaksikannya. Terdapat kesenian Genjekan (saling mengejek), Joged, Tetabuhan yang sering dipentaskan.  Terdapat sekaa gong yang mewadahi aktivitas kesenian tersebut. Masyarakat bersifat sangat terbuka akan lingkungan luar.

KENDALA PENGEMBANGAN : Kendala pengembangan di lapangan :

  1. Hanya terdapat satu akses untuk menuju desa
  2. Kebutuhan masih mengandalkan desa tetangga
  3. Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan peningkatan kualitas lingkungan hidup

STRATEGI PENGEMBANGAN : Kendala pengembangan di lapangan :

  1. Hanya terdapat satu akses untuk menuju desa
  2. Kebutuhan masih mengandalakan desa tetangga
  3. Masih rendahnya kesadaran masyarakat akan peningkatan kualitas lingkungan hidup

STRATEGI PELESTARIAN :  Strategi ppelestarian di lapangan : a.  Menghimbau adanya peraturan adat/awig-awig yang dapat mengatur tingkah laku masyarakat sesuai dengan filosofi dan kesepakatan masyarakat bersama. b.  Pelestarian akan potensi kesenian masyarakat. Peletarian akan konsep pola spasial desa sebagai ciri khas desa Bugbug

LANGKAH-LANGKAH PELESTARIAAN YG TELAH DILAKUKAN : Langkah – langkah pelestarian yang dilakukan belum banyak dilakukan, namun pengembangan dalam bentuk fisik dapat dipaparkan sebagai berikut : a.  Pengadaan truk sampah sendiri sejak tahun 1998 untuk kebutuhan pengangkutan sampah di Desa Bugbug. b.  Pelaksanaan/pengadaan jalan aspal pada tahun 2004 oleh Dinas PU setempat. di ujung selatan (kelod) diperuntukan untuk Pura Dalem (kematian) dan kuburan desa. Diantara kedua daerah tersebut terletak perumahan penduduk dan fasilitas umum (bale banjar dan pasar).

KONDISI KEASLIAN :  Beberapa bangunan masih menggunakan bahan tradisional, dan pola tradisional, namun sebagian besar telah berubah menggunakan bahan bangunan yang modern, serta pola yang telah berubah tidak sesuai dengan pola tradisional di Desa Bugbug.

KONSEP SIMBOLIK : Konsep bangunan di Desa Bugbug dengan konsep Hulu-Teben, dengan pola natah. Bangunan tempat tinggal menghadap ke Timur sebagai bentuk ungkapan masyarakat  pemujaan terhadap Siwa Mahadewa.

Sources : Sistem Informasi Arsitektur Tradisional Indonesia

Posted by : I Wayan Ardika

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: