TELAGA KAUH, CANDIDASA, CILIDASA DI TELUK KEHEN …

paradbali

 

Bugbug4

  1. Duke Nguni ana cukung ngawa inten mirah berlian pudi, paci engsut, punkur wekas ane Aci Candi Dasa”
  2. Sebuah Prasasti kerajaan dari abad ke-11 menyebutkan mengenai 
    terdapatnya sebuah permukiman bernama Tranganan di pesisir pantai 
    Candi Dasa. Prasasti tersebut juga menerangkan mengenai terjalinnya 
    hubungan erat antara penduduk desa itu dengan Empu Kuturan, seorang 
    pendeta Hindu visioner yang amat berjasa bagi perkembangan Hindu di 
    Bali. Babad Bali Pulina, kitab mengenai catatan peristiwa sejarah di 
    Bali, juga menyebutkan mengenai mendaratnya para pemeluk Hindu sekte 
    Indra di pesisir Candi Dasa sesudah kapal mereka kandas“. Sumber : library.ohio.edu, Desa  Adat Tenganan Pegringsingan, Kompas 23 Maret 1997.
  3. “Babad duk wahu nyeneng Candi Dasa, Tampak Ing Wong Tunggal, 112.”  The time when  Candi Dasa is established, 190. It originally consisted of two small temples consecrated to Siwa and Hariti. According to modern belief, the construction of the complex was supervised by Saivite and Buddhist sages, associated with the ancient Balinese king Jayapangus (fl. 1178-81), and the date of construction is given as 1112 (1190 A.D.) (Soebandi 1983:27-30). So perhaps modern tradition just added one digit in the year. Cf. Babad Bhumi 39; Babad Bhumi:98; Korn 4:4; Korn 5:18; Tattwa Batur Kalawasan:4; Pangrincik Babad 4; Sara Samuscaya Pakenca:3;  Pawawatekan:19. Sumber : Candra Sangkala The Balinese Art of Dating Events, Hans Hagerdal, Department of Humanities, University of Vaxjo, Sweden, 2006: 14-15.
  4. “Demikian riwayat baginda pada jaman dahulu. Dalam pemerintahan Sri Aji Jayapangus ini, telah mengangkat tiga pendeta yaitu : Ida Pendeta Resi Bhujangga Waisnawa, Ida Pendeta Bodha, dan Ida Pendeta Siwa, yang umum kini disebut Ida Resi, Ida Siwa, dan Ida Sogatta, setelah baginda dapat menyelesaikan pembambangunan sebuah prahyangan Widhi (Pura) yang diberi nama Candi Dasa. Selesai pada sakala : wani sasih angalih, Içaka 1112 (1190)”. Sumber : Bhuwana Tattwa Maharsi Markandeya, Integrasi Budaya Tionghoa Pada Budaya Bali dan Indonesia (Sebuah Bunga Rampai), Prof.Dr.Ir.Sulistyawati,MS.,MM.,MA., Universitas Udayana 2011:115.

“ Nama Candi Dasa ini yang sebelumnya bernama Teluk Kehen diambil dari nama Pura yang ada di sini.  Dengan akses ke lokasi Pura yang cukup mudah, baik itu untuk keperluan beribadat maupun berwisata, membuat Pura ini selalu ramai dikunjungi, sehingga Kahyangan ini menjadi terkenal baik di dalam maupun di luar negeri. Pura Candidasa dibangun pada tahun Isaka 1112 (1190 M) selesai pada Sakala Wani Sasih Angalih pada jaman bertahtanya raja Bali Kuno : Raja Jayapangus Arkajacihna (Arkajalancana) di Bali.  Pura ini merupakan lambang penyatuan paham Siwa dan Bhuda di Bali, sehingga di dalam pura bisa kita temukan 2 pelinggih, yang satu merupakan pemujaan Siwa dalam bentuk wujud Lingga Yoni dan yang satunya lagi sebagai pemujaan Buddha dalam wujud Hariti, sebuah patung yang menggendong 10 anak. Cilidasa sendiri berarti Sepuluh anak. Bagi masyarakat sekitar, tidak jarang pasangan suami istri yang yang tidak mempunyai keturunan memohon keturunan di sini”.

Dalam sebuah naskah kuno disebutkan bahwa Pura Candi Dasa dibangun sekitar abad ke-12. Namun ada juga yang mempercayai jauh sebelumnya sudah terdapat “lingga” di dalam candi yang dipercaya sebagai simbol Dewa Siwa. Menurut cerita masyarakat sekitar ditempat ini seseorang bisa mendapatkan penghargaan tertinggi berupa Dasa Aksara. Cerita lainnya juga menyebutkan bahwa nama Candi Dasa terinspirasi oleh sebuah patung dekat lingga. Patung tersebut merupakan patungnya Dewi Hariti yang dikelilingi oleh Sepuluh Anak. Dewi Hariti (dalam mithologi Budha disebutkan bahwa Dewi Hariti pada mulanya adalah seorang Yaksa yang gemar makan daging anak-anak. Kemudian setelah mendapatkan pencerahan akhirnya menjadi pelindung dan penyayang anak-anak), Dewi Hariti sendiri dipercaya sebagai pemberi berkah yakni berupa kemakmuran dan kesejahteraan kepada siapapun yang bersembahyang disana.

“Dalam konsep Siwa Budha menurut Ida Pandita Mpu Paramadaksa Purohito bahwa : Siwa diwujudkan dengan Lingga, sedangkan Budha dilambangkan dengan Hrih. Dalam Siwaisme Ciwa dinamai Siwa-Parwati (Uma), sedangkan dalam ajaran Budha dinamai Adwaya-Prajnyamitha. Rwabinedha itu disebut dengan Ardanareswari. Kemudian Ardanareswari Murti adalah wujud Bhatara Siwa dan Dewi Parwati yang berbadan setengah pria (Ardha) dan setengah wanita (Nari) juga berwujud Acintya yang menyatakan tidak laki-laki dan juga tidak perempuan. Dalam ikonografi klasik patung Ardanareswari disebut juga Harihara. Hari sebagai unsur pria (Purusha), dan Hara sebagai unsur wanita (Pradhana) dan persatuan dari Purusha dan Pradhana ini sebagai Hyang Tunggal. Dan bersatunya Purusha dan Pradhana, Akasa dan Pertiwi dalam kepercayaan Bali diyakini sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran”.

Dalam konteks Pura Candi Dasa sebagai perspektif Siwa Budha, Linggih Dewi Hariti dengan 10 anak pada relung ceruk bukit adalah simbolik Budha, Pradhana. Dan Lingga ring dulu jeroan linggih Bhatara Siwanatha adalah perlambang Ciwa, serta Palinggih ring dulu jabayan Palinggih Bhatara Luhuring Akasa adalah Acintya penyatuan Siwa dan Budha, penyatuan Purusa Pradana yang melahirkan Telaga Kauh sebagai sumber kehidupan, kesuburan dan kemakmuran bagi masyarakat Bugbug khususnya dan kemanuasiaan pada umumnya.

We intentionally tittled this report as Telaga Kauh (means western pond), since among the villagers of Bugbug and Samuh Candi Dasa or Cili Dasa is wellknown as Telaga Kauh.   Previously Candidasa was known as Teluk Kehen (Kehen Bay).  But when this area was finally opened as tourism development area the name Candidasa was started to be used.  There is no certain report about the historical background of the name.  However it is assumed that the choice of this name is connected with the story of lingga inside the temple lies on the top of Candidasa hills.  An old manuscript found here mentions that Candidasa Temple was built on the 12th Century.

There is a remain called lingga inside the temple, which is believed as the symbol of God Siva.  In this holly place hermits often received their highest solitude or heaven by uttering 10 letters called Dasa Aksara.  Another story says that the name of Candidasa was inspired by a statue near the lingga.  It is a statue of Goddess Hariti that surrounded by 10 children.  It is believed that Goddess Hariti (narrated in the beginning was a Yaksa in Budhism) could give blessing of welfare and prosperity to the people who pray here. That is why this temple is also famous for every Balinese people who for long time dreaming to have child but is not blessed yet by their anchestor or even The Goddess.  For such these people the temple is also called as Men Brayut Temple.

The temple which is located at Banjar Samuha Desa Pakraman Bugbug Karangasem along the seashore of lonely Candidasa beach, every year held its temple ceremony after the huge ceremony celebrated at Pura Bale Agung at Bugbug Village called Usaba Manggung or Usaba Sumbu. These ancient scripts may explain a little about the temple of CANDI DASA : “duke Nguni ana cukung ngawa inten mirah berlian pudi, paci engsut pungkur wekas ana Aci Candi Dasa”

These report was made taken from many sources, edited by I Wayan Ardika

candidasa-bugbug-purbakala

Candidasa Lingga

1222222

Candi Dasa 3

Candi Dasa 1.jpg

Candi Dasa 2

Candi Dasa 4.jpg

10922808_616261561852435_6672701122180452944_n11192587_582355008573788_842292599_n.jpg

Candidasa 1930

Candi dasa.jpg

umi (40)

candidasa78

inu

CandiDasa

IWB Candidasa

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: