Gumang, dalam Purana Bangsul

bugbug-dari-gumang1

Dalam phalawakya prasasti Abasan tertulis : ” Ksamakna hulun de Hyang Mami, mwang Dewa Batara makadi Hyang Kawitan, moghi hulun tan kneng upadrawa tulah pamidi, nimitaning hulun, ngutaraken katatwan ira, sang wusamungguh ring tmagawangsa, lepihaning kawitan, kang wenang kasungsung de treh ..”

Yang artinya : “Maafkanlah hamba oleh junjungan hamba, dan para dewa-dewa pelindung, seperti halnya para leluhur, semoga hamba tidak mendapat kutukan, lancang, sebab hamba akan menuturkan perihalnya beliau, yang telah bersthana pada lempengan tembaga, lempiran leluhur, yang seharusnya dijunjung oleh turunan ..,”  Demikian pendahuluan dalam mengutarakan suatu artikel yang telah berwujud gaib, menyatu dengan Hyang Widhi, dengan harapan dapat dimaafkan atas kelancangan menyebut-nyebut nama beliau, semoga tidak dapat kutukan bagi para penuturnya.

Salah seorang Anggota Nayaka wakil IWB Denpasar yang sekaligus penasehat IWB Denpasar Ir I Wayan Tengah, saking semangatnya mendapati webblog IWB Denpasar ini, dengan antusias menyodorkan saya sebuah salinan tentang Pura Gumang jika dihubungkan dengan Desa Adat Bugbug.  Salinan itu, menurut Ir I Wayan Tengah di dapat dari Ketua Baga Parahyangan Desa Adat Bugbug I Wayan Terang Pawaka.  Semoga dengan artikel ini ada pengayaan pengetahuan kita akan keberadaan Pura Gumang sehingga dapat menjaga dan meningkatkan srada bakti kita terhadap Ida Betara Penyungsungan.  Artikel ini juga kami kombinasikan dengan artikel serupa yang kami kutipkan dari Majalah Sarad Edisi 82 Februari 2007 halaman 40,41,42 yang juga mencantumkan artikel berkaitan dengan Upacara Mapinton di Pura Gumang.

Berikut adalah petikannya :

Halaman 41 Sarad Bali edisi 82 : Keberadaan Pura Bukit Gumang diperkuat dalam Lontar Kutarakanda Purana Dewa Bangsul Pura Sada (Lontar ini kini tersimpan di Pura Tuluk Biyu, Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, dan disebut-sebut sebagai Sari Manik Pura Tuluk Biyu).  Dalam Lontar ini ada tertulis : “Puacapa rilami nira Batara Guru a ning Bumi Bangsul, ana putra nira kangingaran Sang Hyang Sinuhun Kidul, malingga maring Bukit Uluwatu, ngamet rabi putra nira Batara Bukit Biyaha sang apangaran Dewa Ayu Mas. Sampunya ardanareswari, jumujug maring Ukir Gumang angawa tattwa usada mwang tattwa kadyatmikan.  Papareng sira Bhagawan Magasatru, Bhagawan Manggapuspa, Mpu Sewa Sogata, ingaranan Batara Gede Gumang”. Syahdan pura Gumang berasal dari Pura Bukit Byaha yang terletak di sebuah gili yang disebut Byaha yang terletak di tengah laut di sebelah selatan Bukit Gumang.  Selama Betara Guru ada di Bali berstana di Pura Sada, tersebutlah putra beliau yang saat itu bernama Sang Hyang Sinuhun Kidul dan berstana di Bukit Uluwatu, mempersunting putri Bhatara di Bukit Byaha yang bernama Dewi Ayu Mas untuk dijadikan prameswari. Setelah Beliau menjadi ardhanareswari (suami-istri), lalu beliau menuju Bukit Gumang dan mendirikan kahyangan (pura) sebagai sthana beliau, disini beliau berparab Bhatara Gede Gumang. Disinilah beliau tetap menetap sampai sekarang dan dipuja oleh masyarakat Bugbug dengan sebutan Ida Gede dan mengajarkan masyarakat Bugbug tentang tata krama, bermasyarakat, bertani, berternak, melaut, membuat peralatan baik dari kayu maupun dari besi dan sebagainya.

Ida Gde (Bhatara Gede Gumang) lalu memulai membuka areal persawahan dan mendirikan gubuk-gubuk, mengajarkan orang-orang disekitar Bukit Gumang membajak, berternak dan sebagainya, yang terletak di Sabuni, Tegakin, Malegok, Lumpadang (Ulun padang ), Belong dan mendirikan tempat memande di Malegok yang sekarang menjadi Pura Pande.

gumang sadina1

Kemudian dilanjutkan di Mel Pahang, Pangiyu, Gantalan, Gorek, Lebah Kangin (Teba Kangin) dan Delod Poh. Tentang jumlah orang pada saat itu berjumlah kurang lebih 120 orang yang terdiri dari 8 orang pemimpin yang disebut Luput dan 112 orang Pengayah yang disebut Krama. Orang-orang inilah yang menjadi asal mula terbentuknya desa Bugbug dan krama desa Bugbug yang disebut “Krama Desa Ngarep i satus roras muwah luput akutus” dengan memberikan bukti tanah sawah yang dibagi-bagikan kepada krama (masyarakat) saat itu hanya untuk kesejahteraan dan biaya pengaci-aci (upacara keagamaan), yang terdiri dari 8 petak (kutus saih) tanah sawah dengan ayah “luput” dan 112 petak (satus roras saih) tanah sawah dengan ayah krama. Selanjutnya untuk mengairi areal sawah itu, lalu Ida Gede (Bhatara Gede Gumang) membuat sungai disebelah barat Bukit Penyu (Bukit Dukuh sekarang) yang disebut Tukad Buhu.Setelah berhasil membuat sungai, pada saat itu Krama Bugbug berjanji akan ngaturang pangaci( puja wali ) dan setiap anak yang lahir baik laki-laki maupun perempuan akan ngaturang guling (mapinton) pada saat usaba/ aci-aci besar di pura gumang yaitu yang datangnya setiap 2 tahun sekali.
“…mangkana denira mintonaken, matemahan kagiat watek dewatane ring gunung,” ( Salinan Lontar Pangaci-aci, I Nyoman Punia).  Demikian menurut Ketua Baga Parahyangan Desa Pekraman Bugbug ; I Wayan Terang Pawaka.

Dilanjutkannya lagi : setelah lama mendiami gubuk-gubuk di areal persawahan itu, lalu pada sasih kawolu terjadilah hujan deras tiada henti-hentinya dan meyebabkan banjir dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga menjadi penghambat bagi masyarakat untuk melaksanakan aktifitas, termasuk penguburan mayat dan sebagainya. Maka timbul keinginan Ida Gede (Bhatara Gede gumang) untuk mempersatukan gubuk-gubuk itu mnejadi satu.

Tempat yang dipilih pertama adalah Pangiyu (Lateng Ngiyu), namun setelah diperhatikan secara seksama tempat itu kurang bagus. Maka ditinjaulah kembali daerah sebelah timur Bukit Penyu dan terdapat sebuah telaga berwarna biru yang bernama ” Banyu Wka” atau Telaga Ngembeng yang merupakan tempat yang datar, luas dan indah.  Disnilah beliau membuat sebuah desa dengan menimbun (ngurug) Telaga Ngembeng tersebut dengan mempersatukan gubuk-gubuk yang tersebar di areal persawahan itu, dengan nama Desa Bugbug. Arti kata Bugbug berarti berkumpul atau bersatu.

“….reh sapa kwehing roang, dwaning kabugbug, ana seket, ana satus….tan tuna atunggalan bambang kabugbug…..”
(AA. Ngurah Mangku, Puri Anom Jambe Merik Pucangan, 1976).
artinya: ….sebab berapapun jumlah kawan (anggota), karena sudah terkumpul, ada lima puluh, ada seratus jumlahnya, tanpa kecuali dikumpulkan menjadi satu tempat (bambang).  Disinilah beliau lalu menjadi satu (bersama-sama) dengan Bhatara Kala berstana di Bale Agung dengan sebutan Bhatara Gede Sakti

Hal ini termuat dalam beberapa lontar ataupun purana yang menyatakan bahwa Pura yang dikenal sebagai Pura Gumang saat ini, berawal dari Pura Bukit Byaha antara lain:

Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul menyebutkan sebagai berikut : ” …hana katmu denta gunung tinengeran giri radja maring airsanya ya ta gunung mas mapucak manik adasar ratna komalawinten akrikil mirah apasir podi, ya tika agranira hyang mahameru nguni, ingsun ginawa mareng bangsul, sun parah tinagen, kang sebagi dadi gunung batur makadapur sandi hyang agni siring pretiwi tala, ikang sabagi isornya sun dadiakna gunung rinjani, ikang pucak iradadi hyang tolangkir ngaran gunung agung, ikang pucaknya manadi pagunungan mwah, geger sasor nikang gunung agungika lwirnya, saka purwa amilangi, kawruh akna pangaranya, gunung tasahi, kulonya gunung pangelengan, kulonya gunung mangu, kulonya gunung silanjana, kulonya gunung beratan, kulonya gunung watukaru, kulonya mwah pagunungan naga loka, kulonya wahngaran gunung pulaki, mangidul wetan sangke rika hana gunung puncak sangkur, bukit rangda, trate bang, mangetanya mwah padang dawa, mwah ikang ikang kasisi kidul hana gunung adakasa, mwang huluwatu, terus mangetan maring Ghneya desanira hana Gunung byaha, mwang byasmuntig, ikang maring purwa hana gunung lempuyang, mangalor sangke rika hana gunung sraya, samangkana prasama dadyaning acala sumimpa mareng bangsul….”
( Sejarah Pembangunan pura-Pura di Bali, ketut Soebandi, CV. Kayu Mas Denpasar, 1983).

gumang daily

Artinya : “…. kamu akan menjumpai gunung agung sebagai tanda gunung yang besar , di sebelah timur laut itulah sebagai gunung mas yang berpuncak manik berdasar ratna komala winten berbatu mirah berpasir padi, itulah puncaknya hyang mahameru dahulu, aku bawa ke bali, aku bagi menjadi tiga, yang sebagian menjadi gunung batur sebagai dapur sandi hyang agni di bumi yang ada di bawahnya, yang sebagian dibawahnya aku jadikan gunung rinjani, sedang puncaknya menjadi hyang tolangkir, bernama gunung agung, puncaknya menjadi pegunungan dan gundukan dibawahnya gunung agung itu seperti dari timur mengjitungnya, ketahuilah namanya gunung tasahi, dibaratnya gunung pangelengan, di baratnya gunung mangu, dibaratnya gunung silanjana, di baratnya gunung beratan, di baratnya gunung watukaru, di baratnya pegunungan nagaloka, di baratnya bernama gunung pulaki, ke selatan dan ke timur (ketenggara) dari sana terdapat gunung puncak sangkur, bukit rangda, trate bang, ke sebelah timur lagi ada padangdawa, sedangkan di pantai selatan ada gunung adakasa dan uluwatu, terus ke timur di sebelah tenggara tempatnya ada gunung byaha dan byasmuntig, yang di sebelah timur ada gunung lempuyang, ke sebelah utara dari sana ada gunung sraya, demikianlah semuanya tentang gunung-gunung yang mengelilingi pulau bali,…dst”.

Keberadaan Bukit Byaha juga dapat dilihat pada postingan ini.

Lontar Babad Dukuh Jumpungan, menyatakan sebagai berikut:
1b-2a “..i Renggan luas mangalih pakarangan ka Bias Muntig, apanga dadi tenget, mangaji ada I Gotra, I Gotra manunas kasiden teken Dewane di bukit Byaha, manunas Gumi Nusane sing mangwasayang, wenang I Macaling managih peti…”
(Gedong Kirtya Singaraja, No. 819)
Artinya : …. i Renggan pergi mencari tempat tinggal di Bias Muntig, agar menjadi angker disana, lalu bermeditasi lahirlah I Gotra, I Gotra memohon keberhasilan (kawisesan) kepada bhatara di Bukit Byaha, memohon agar Bumi Nusa (Nusa Penida) siapa saja yang memimpin. agar tetap I Macaling yang meminta Upeti (korban manusia)…

Mantra Pawungu Bhatara Ring Byaha, menyebutkan sbb:
….niyan iki kaweruhakna denta wang pakraman I Bugbug…kahyangan niramaring agraning gunung juru ngaran kahyangan bhatareng byaha, nga, …//…iti wuwus ira…, ma, Ong Ung Manik Anrawang Suksmantara dewa ya namah swaha,… (Salinan lontar satu lembar, I Nyoman Punia).
Artinya :  … inilah yang perlu diketahui oleh masyarakat di Bugbug… pemujaanKu yang di puncak Bukit Juru adalah pemujaan Bhatara di Byaha…//…ini sabdaKU…ma,… dst.

Weda Mantram penghormatan Ring Bukit Byaha, ma:
Om Ung Manik Anrawang Suksma Anantara Dewa Ya Namah Swaha.
(Dasar ke-Pemangkuan/ke-sulinggihan, I Nyoman Satrya Atmanandi, BA, 1973, Mantram no.46).

KISAH DARI BUKIT BYAHA KE ULUWATU KEMUDIAN KE UKIR GUMANG

Mengulang cerita kami di awal, diceritakan bahwa Bhatara Sasuhunan di pura Gumang bermula dari Bhatara Sasuhunan yang saat itu bernama Sang Hyang Sinuhun Kidul yang berstana di Pura Bukit Uluwatu mempersunting putri Bhatara di Bukit Byaha yang bernama Dewi Ayu Mas (Bhatara Ayu Mas). Kemudian setelah beliau menjadi ardhanereswari (suami-istri), bersama-sama menjadi sasuhunan, panembahan di pura Bukit Uluwatu dengan nama Bhatara Gede Sakti. Setelah beliau diberikan membawa tattwa usadha dan tattwa kedyatmikan bersama-sama dengan Bhagawan Sakru, Bhagawan Mangga Puspa, Mpu Siwa Sogata (siwa-Budha), menuju Ukir Gumang yang akhirnya beliau menetap dan menjadi Sasuhunan/panembahan di Bukit Gumang dengan nama Bhatara Gede Gumang sampai sekarang. Hal ini termuat dalam Kutara Kanda Purana Dewa Bangsul yang menyebutkan sebagai berikut:
“…tucapa ri laminia Bhatara Guru alungguh ring candipura sada kang maka wit jagat bangsul kapertama, mangke kawinuwus malih kawangsul turunaniara Hyang Puru Sada, sira mangreka jagat ring banwa asya, kang inagaran Bhagawan Manggapuspa sira agung tan sepira, kaya gunung tur apanjang alingga ring tengahing sagara, nagwetuaken putra sawiji, subaga aluhur, kaya sang yayah, agung ira hyang leluhur, doning mangkana, sira kabaweh aran, nga, tasira Dewa Gde Kebo Iwa, ring mangkana dewa gde Kebo iwa kahinadehaken pajenengan ring bangsul, ingaran sira Radja Pajenengan, riwus sira angadeg pajenengan ingaran Sang Hyang Sinuhun Kidul, salamenira angadeg pajenengan ring bangsul, sira akahyangan ring Bukit Uluwatu, salamenira ingkana tucapa sira angamet prameswari saking putra nira Bhatara ring bukit Byaha , kang apanengeran Dewi Ayu Mas. riwus sira aprameswari angadeg pejenengan ingaran Radja Sinuhun Kidul, prasama den prameswarinira kang ngaran Dewi Ayu Mas. Hyang Sinuhun Kidul juga kaginucap Bhatara Gede Sakti , ri mangkana wenang kwruhakna denta lingganing Bhatara, nga, lwirnia: Duk kari jajaka , nga, sira Ki Taruna Bali, Duknia angadeg pajenengan, sira ngaran Sang Hyang Sinuhun Kidul, Duknia mamundut tattwa usada mwang tattwa kedyatmikan, nga, sira bhatara Gede Sakti Ngawa Rat. Duknia mamundut tattwa usada mwang tattwa kedyatmikan, papareng sira Bhagawan Sakru, Bhagawan Manggapuspa, Mpu siwa sogata, jumujug maring Bukit Gumang,nga, sira Bhatara Gede Gumang,
Duk sira manunggal lawan BHatara Kala alingga ring bale agung, nga, Bhatara Gede Sakti, Duk sira angrencana ring banwa bangsul, nga, sira Dewa Gede Kebo Iwa,  Duk sira lamaku mamundut sampir magelang kana , masalimpet kiwa tengen, nga, Bhatara Guru,  Duk sira mamundut sulambang manggawe linggih tirta, nga, tirta tlaga waja, tirta bima, tirta wayu, tirta sudamala, tirta erabang, tirta mambar mumbur, tirta sapuh jagat, tirta pasupati, tirta pariampeh, tirta bungkah, tirta sampyan mas, duking mangkana sira maharan Bhatara Amurbeng Rat,….”

(salinan Tambra Prasasti , Sari Manik Pura Tuluk biyu, yang aslinya tersimpan di Pua Tuluk Biyu Batur Kintamani, oleh I Ketut sudarsana, Br. Basang Tamyang Desa Adat Kapal).

22patokan-dan-agung

Artinya:
…diceritakan selama Bhatara Guru berstana di Candi Pura Sada yang merupakan awal dari pulau Bali yang pertama, lalu diceritakan lagi tentang keturunan Beliau Hyang Pura Sada, beliaulah yang membentuk (mengelilingi) “banwa asya” dengan nama Bhagawan Manggapuspa. beliau maha besar , bagaikan gunung yang menjualang tinggi yang terdapat di tengah lautan , melahirkan seorang putra dengan bangga karena Hyang Leluhur dengan demikian beliau diberi nama dengan sebutan Dewa Gede Kebo Iwa, sejak itulah Dewa Gde Kebo Iwa dinobatkan sebagai junjungan (sasuhunan) di pulau Bali, dengan sebutan Radja Pajenengan (Sasuhunan)setelah beliau dinobatkan sebagai junjungan (sesuhunan) bernama Sang Hyang Sinuhun Kidul ,selama beliau dinobatkan menjadi junjungan (sasuhunan) di pulau Bali beliau berstana di Bukit Uluwatu, sejak beliau disana, diceritakanlah beliau mempersunting putri ardhanareswarii (suami-istri) dan menjadi Junjungan (sasuhunan) bernama Radja sinuhun Kidul bersama-sama dengan istri beliau yang bernama Dewi Ayu Mas, Hyang Sinuhun Kidul juga disebut Bhatara Gede Sakti, dengan demikian perlu diketahui oleh kalian semua tentang sebutan dan stana Bhatara antara lain:
Saat beliau masih muda , bernama Ki Taruna Bali, Ketika beliau menjadi junjungan (sasuhunan), beliau disebut Sang Hyang Sinuhun Kidul,  Ketika beliau membawa (memahami) pengetahuan (tattwa) tentang usada dan pengetahuan (tattwa) tentang kesucian beliau disebut Bhatara Gde Sakti Ngawa Rat,  Ketika beliau membawa (memahami) pengetahuan (tattwa) tentang usada dan pengetahuan (tattwa) tentang kesucian bersama-sama dengan Bhagawan Sakru, Bhgawan Manggapuspa, Mpu Siwa Sogata(Siwa-Budha), menuju Bukit Gumang disebutlah beliau Bhatara Gde Gumang,  Duk beliau menyatu dengan Bhatara Kala, berstana di Bale Agung bernama Bhatara Gede Sakti,  Ketika beliau merencanakan perbaikan-perbaikan di pulau Bali , sebutan beliau adalah Dewa Gede Kebo Iwa,  Ketika beliau pergi membawa sampir dan bergelang kana, masalimpet (berselendang) kiri kanan, beliau disebut Bhatara Guru.
8. Ketika beliau membawa Salumbang membuat tempat tirta, yang disebut tirta telaga waja, tirta Bima, tirta Bayu, tirta sudhamala, tirta bang, tirta mambar mumbur, tirta sapuh jagat, tirta pasupati, tirta pariampeh, tirta bungkah, tirta sampian mas, ketika itu beliau bernama Bhatara Amurbeng Rat…….

Sarad Bali, edisi 82 Februari 2007 Halaman 42 menuliskan Upacara Usaba Kadulu di Ukir Gumang dilaksanakan pada Purnama Kapat tanggal ping 13,14,15 nuju beteng, artinya yang mana di antara ketiga tanggal ini bertepatan dengan Beteng, maka saat itulah puncak upacara yang selalu dipadati para pemedek.  Warga yang menghadirinya bukan hanya dari Desa Adat Bugbug, banyak pula dari Jasri, Bebandem dan Ngis.  Mereka datang ngiring sesuhunan yang memiliki pertalian erat dengan Ida Betara Gede Gumang.  Dalam kisahnya Ida Betara Gede di Ukir Gumang berputra lima : Batara Gede Manik, Batara Ayu Made, Batara Ayu Nyoman, Batara Ayu Ketut dan Batara Ayu Pudak.  Putra pertama berstana di Pura Puseh Desa Pekraman Bebandem, (Sidemen).  Putra kedua berstana di Pura Mastina di Desa Pekraman Jasri, dan yang ketiga berstana di Pura Puseh Desa Pekraman Ngis (Manggis), dan putra terakhir berstana di di Pura Puseh Desa Pekraman Datah (Abang).

Posted by : I Wayan Ardika

3 thoughts on “Gumang, dalam Purana Bangsul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: