Dokumentasi Usaba Gumang

Prosesi Mabiasha, diplesetkan ‘Dewa Mapalu’

Usabha Gumang Tahun Genap. PROSESI upacara Usabha Gumang yang berlangsung di Bukit Gumang Sanghyang Ambu Desa Adat/Pakraman Bugbug, Kecamatan Karangasem, memang fenomenal. Tiap kali berlangsung pujawali pada tahun genap (termasuk tahun 2010),  sudah dipastikan jalur transportasi macet total, mengingat ribuan kendaran roda dua dan mobil memenuhi area Bukit Sanghyang Ambu, ditambah ribuan umat yang datang memedek.
Saat berlangsung upacara Selasa (21/9) hingga Kamis (23/9) – saat Ida Ratu dari empat Desa Adat yakni Bugbug, Bebandem, Jasri, dan Ngis, tedun ke Puncak Bukit Gumang dan melakukan prosesi upacara hingga malam – cuaca di puncak Bukit Gumang cerah tanpa hujan. Namun, di bagian bawah bukit sekitar pukul 01.00 hujan lebat turun mengguyur pemedek. Rabu (22/9) seluruh pratima yang diarak dengan jempana dari semua desa adat itu melakukan prosesi mebiasa di Catus Pata Desa Adat Bugbug. Saat itu sekitar pukul 11.00 hingga pukul 13.00 jalur transportasi macet total. Saat itu jempana mesuuk untuk melakukan pertemuan sebagai simbol mekenak-kenak bertemu dengan semeton.

Prosesi  pengawit upakara Usabha Gumang sudah dimulai sejak pagi hari ditandai menyemutnya pemedek menuju puncak. Puluhan polisi dan pecalang yang mengatur lalu lintas tampak kewalahan menghadapi kondisi jalur Sanghyang Ambu yang di kanan kirinya sudah dipadati kendaraan yang parkir. Penjinjing ratusan ekor babi guling untuk persembahan acara mepiton bagi keluarga-keluarga yang hendak maturan, menanti untuk bisa mendekati areal pura untuk mempersembahkan aturannya.
Menurut Prajuru Desa Adat Bugbug I Wayan Mas Suyasa, S.H. Selasa (21/9), pelaksanaan upacara Ngusabha Desa pada tahun genap termasuk tahun 2010 dilakukan  prosesi upacara tingkatan utama, ditandai tedun Ida Ratu Manca Desa, “Untuk tahun genap tingkatannya utama, sedangkan untuk tahun ganjil hanya dilakukan pengusaban kecil tingkatan nista,”  ujarnya. Untuk prosesi upakara tahun ini puncak upakara berlangsung di Pura Gumang menjelang senja setelah Ida Ratu dari Manca Desa (Bebandem, Ngis, Jasri dan Pengayengan Betara dari Datah) sudah napak.

Terlebih dahulu Ida Ratu katuran upakara dilengkapi sarana bebanten suci pebangkit, meruntutan sambleh ayam. Setelah itu, Ida Ratu melakukan ngider mresawya berlawanan arah jarum jam, sebagai pertanda menyeimbangkan alam semesta beserta isinya menuju kerahayuan jagat. Saat prosesi mebiasa memang pengiring mundut Ida Ratu berlari-larian sesuai ideran, namun selama ini belum pernah terjadi kecelakaan/risiko berbahaya di kalangan pengiring atau benturan fisik yang menimbulkan cedera.
Saat Ida Ratu katuran di Pura Gumang, dilakukan upacara mapinton yang dipimpin Jro Mangku Gumang, yang mengandung makna simbolis agar semua pratisentana krama Bugbug di mana pun tetap eling terkait penyungsungannya, serta  selalu taat dan ingat kepada Hyang Widhi penguasa alam semesta. Ida Ratu Gede Gumang yang di-sungsung dan katuran upakara saat usabha,  disimbolkan dengan prosesi mabiasa atau bertemu dengan semeton-semeton Ida, seperti putran Ida dari Bebandem dan putrin Ida dari Ngis, Jasri, dan Datah.

Setelah nyejer sehari di Pura Gumang keesokan harinya dilakukan prosesi mabiasa di Catus Pata Desa, Ida Betara katuran mekenak-kenak dengan semeton Ida. Hal ini menurut Mas Suyasa, sering diplesetkan dengan sebutan  ‘Dewa Mepalu’, padahal hanya merupakan momentum pertemuan antara Ida Ratu yang diiringi umat menggunakan jempana saling bertemu. “Biasanya saat itulah terjadi prosesi pertemuan yang unik, yakni pengiring melakukankannya dengan penuh semangat dan didorong kekuatan gaib untuk saling mesuuk/mendorong sehingga seolah terjadi mepalu, padahal tidak demikian,”  jelas Mas Suyasa. Setelah upacara mabiasa di Pempatan Agug barulah Ida Ratu nyejer lagi satu hari, Ida Betara Bandem dan Ngis di-stana-kan di Bale Panggungan dan Ida Betara dari Jasri melinggih di Pura Pasuikan, untuk selanjutkan kembali ke masing-masing desa adat keesokan harinya.

Jro Mangku Gumang yang didampingi Jro Mangku Suti dan pinandita  lainnya mengatakan, pemargi pengiring jempana yang seluruhnya berjumlah sekitar 50 buah saat memargi nglunganin ke Bugbug diawali Ida Betara dari Bugbug; nglunganin pertama ke Pura Luhur Gumang disusul Betara dari Ngis, Jasri dan Bebandem. “Yang nglunganin pertama itu Ida Betara dari Bugbug, baru betara dari Ngis, Jasri dan Bandem,” ujarnya. Ia menambahkan, saat metemu mabiasa kerap kali pengiring, ngiring dengan penuh emosi namun tetap dikendalikan prajuru dan jro mangku agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Tradisi mapinton yang berlangsung turun-temurun  tiap kali pelaksanaan Usabha Gumang diyakini semua krama Bugbug sebagai kesempatan memperoleh berkah keselamatan dan krahayuan terhadap pratisentana. Krama Bugbug yakin terhadap keselamatan anaknya yang sudah mapinton. Jika anak laki, maka gulingnya juga babi jantan, dan jika anaknya  perempuan gulingnya babi betina. Mapinton tidak hanya melibatkan krama di Desa Bugbug. Tetapi, diyakini krama Bugbug yang sudah kawin keluar,  tidak berani tidak melakukan mapinton terhadap semua anaknya yang  ditaati hingga kini.
Dalam prosesi upacara Usabha Gumang  sejak sekitar pukul 13.00, ribuan krama yang akan mapinton ke Pura Gumang sudah mulai memenuhi jalanan menuju Pura di Puncak Bukit Gumang sambil membawa guling, tumpeng dan banten lainnya. – arya/Peserta Pelatihan Jurnalistik Koran Tokoh dan FIK Dwijendra.\Tokoh/27092010

 

‘Ngusaba” di Pura Bukit Gumang
Ribuan Babi Guling Dihaturkan
Puncak ngusaba di Pura Bukit Gumang, Desa Pakraman Bugbug Karangasem pada purnamaning kapat, Kamis (23/9) ini. Tak kurang 1.000 babi guling dihaturkan warga ke Pura Bukit Gumang, Selasa (21/9) malam menjelang warga mapinton, masosot atau membayar kaul. Pohon jepun atau pepohonan lainnya di sekitar pura ”berdaun” babi guling. Soalnya, warga kerap menaruh babi guling di dahan pohon karena sempitnya areal dataran pura di puncak Bukit Gumang itu. 

Hampir tiap KK mengaturkan minimal satu babi guling. Tak kurang 10.000 ribu warga Bugbug dan pengiring empat desa lainnya yakni krama Desa Pakraman Bebandem, Ngis Manggis, dan Jasri serta krama Bugbug beramai-ramai naik Bukit Gumang yang cukup tinggi. Tak hanya warga lokal, pria asing yang beristrikan warga Bugbug pun ikut mengajak anak-anaknya sembahyang mapinton (semacam melapor sekaligus mohon anugerah dan perlindungan) kepada sesuhunan Ida Batara Lingsir yang di-sungsung di Pura Bukit Gumang.

Seluruh jempana (pratima) Ida Batara dari tiga desa penyatur yakni Ngis Manggis, Jasri, dan Bebandem diusung pemundut dan disertai pangringin ke Pura Gumang. Sementara Ida Batara yang malinggih di Datah, Abang hanya di-ayeng (di-tuur) simbolis.

Klian Desa Bugbug, I Wayan Mas Suyasa, S.H., Rabu kemarin, mengatakan pelaksanaan upacara ngusaba tiap purnamaning kapat tahun genap, termasuk tahun ini dilakukan prosesi upacara tingkatan utama. Ditandai tedun Ida Ratu Manca Desa, sedangkan jika tahun ganjil hanya dilakukan pengusaban kecil. Pada saat Ida Batara katuran di Pura Gumang dilakukan upacara mapinton yang dipimpin Jero Mangku Pura Gumang. Mapinton mengandung makna simbolis agar semua pratisentana krama Bugbug di mana pun tetap eling (ingat) dan terkait dengan penyungsungannya, serta selalu taat dan ingat kepada Hyang Widhi penguasa alam semesta.

BP/23092010

Malam itu langit di atas Pulau Dewata memberi tanda. Ritual Aci Gumang Kadulu Gede harus segera dilaksanakan. Sebuah ritual ucapan rasa syukur atas kedamaian dari Sang Hyang Widi Wasa yang berlangsung di atas Bukit Gumang, Kabupaten Karangasem, Bali. Tanda itu adalah bulan purnama di bulan keempat tahun genap penanggalan Hindu Bali.

Ritual ini berasal dari sebuah legenda perseteruan Desa Bugbug, Babandem, Jasri, dan Ngis. Putri ketiga Bhatara Gede Sakti dan Dewa Ayu Mas akan dilamar pemuda Desa Babandem. Namun ternyata, sang putri sudah terlebih dahulu dilamar pemuda Desa Jasri. Perselisihan pun terjadi hingga melibatkan empat desa.

Namun perseteruan empat desa yang masih satu leluhur ini tak berlangsung lama. Warga Bugbug sebagai saudara tertua bersikap bijak. Konon, desa ini adalah tempat Bhatara Gede Sakti atau Bhatara Gede Gumang sang leluhur empat desa. Dan, ritual Aciaci Gumang Kadulu Gede adalah upacara yang merekonstrusi legenda itu.

Berbagai piranti ritual disiapkan mulai dari daging persembahan hingga alat musik yang akan mengiringi jalannya upacara. Setiap jempana atau bathara-bathari masing-masing desa juga dikeluarkan dari pura-pura. Jempana itu diarak menuju desa tertua sebelum ritual di Bukit Gumang.

Jempana kemudian diusung menuju puncak Bukit Gumang yang berjarak sekitar lima kilometer dari Desa Bugbug. Sebelum ritual dimulai, rombongan tiga kali mengitari Pura Gumang sebagai tanda penghormatan terhadap tiga unsur. Brahma sebagai pencipta, Wishnu sebagai pemelihara segala yang ada di bumi, dan Shiwa sebagai pelebur. Kumandang doa dari bedanda menjadi tanda ritual dimulai.

Saling mengadu jempana atau ngiring matuwuk mewarnai prosesi ritual. Prosesi ini menjadi rekonstruksi legenda perselisihan antardesa itu. Perseteruan ini pun berhenti saat Desa Bugbug turun untuk mendamaikan. Prosesi berakhir ketika desa-desa yang berselisih kembali bersatu.

Tak hanya di atas Bukit Gumang, ritual kembali dilakukan di Desa Bugbug keesokan harinya. Seluruh jempana dan warga keempat desa kembali menggelar ngiring matuwuk. Mereka seakan masih menyimpan kekesalan terhadap desa lain. Namun pertikaian kembali berhasil dilerai Desa Bugbug. Setelah perdamian dicapai, seluruh jempana dari keempat desa bersatu menuju Pura Agung Desa Bugbug sebagai bentuk pengakuan bahwa Desa Bugbug adalah kakak tertua.

Rangkaian ritual Aciaci Gumang Kadulu Gede diakhiri perpisahan jempana keempat desa. Ritual ditutup dengan persembahkan tarian kepada bathara-bathari. Lima ekor anak ayam dengan warna berbeda juga dipersembahkan sebagai simbol ucapan terima kasih.

Keempat jempana kembali ke desa masing-masing. Ritual Aciaci Gumang Kadulu Gede pun usai. Yang tertinggal hanyalah kedamaian di hati seluruh warga. Mereka berharap suasana damai tanpa perselisihan senantiasa menaungi Desa Bugbug, Babandem, Jasri, dan Ngis.

Sumber : Liputan 6 SCTV Oct.14, 2006 15:51

”Ngusaba” di Pura Bukit Gumang
Ribuan Babi Guling Dihaturkan
Amlapura (Bali Post) – September 23, 2010
Puncak ngusaba di Pura Bukit Gumang, Desa Pakraman Bugbug Karangasem pada purnamaning kapat, Kamis (23/9) ini. Tak kurang 1.000 babi guling dihaturkan warga ke Pura Bukit Gumang, Selasa (21/9) malam menjelang warga mapinton, masosot atau membayar kaul. Pohon jepun atau pepohonan lainnya di sekitar pura ”berdaun” babi guling. Soalnya, warga kerap menaruh babi guling di dahan pohon karena sempitnya areal dataran pura di puncak Bukit Gumang itu. 

Hampir tiap KK mengaturkan minimal satu babi guling. Tak kurang 10.000 ribu warga Bugbug dan pengiring empat desa lainnya yakni krama Desa Pakraman Bebandem, Ngis Manggis, dan Jasri serta krama Bugbug beramai-ramai naik Bukit Gumang yang cukup tinggi. Tak hanya warga lokal, pria asing yang beristrikan warga Bugbug pun ikut mengajak anak-anaknya sembahyang mapinton (semacam melapor sekaligus mohon anugerah dan perlindungan) kepada sesuhunan Ida Batara Lingsir yang di-sungsung di Pura Bukit Gumang.

Seluruh jempana (pratima) Ida Batara dari tiga desa penyatur yakni Ngis Manggis, Jasri, dan Bebandem diusung pemundut dan disertai pangringin ke Pura Gumang. Sementara Ida Batara yang malinggih di Datah, Abang hanya di-ayeng (di-tuur) simbolis.

Klian Desa Bugbug, I Wayan Mas Suyasa, S.H., Rabu kemarin, mengatakan pelaksanaan upacara ngusaba tiap purnamaning kapat tahun genap, termasuk tahun ini dilakukan prosesi upacara tingkatan utama. Ditandai tedun Ida Ratu Manca Desa, sedangkan jika tahun ganjil hanya dilakukan pengusaban kecil. Pada saat Ida Batara katuran di Pura Gumang dilakukan upacara mapinton yang dipimpin Jero Mangku Pura Gumang. Mapinton mengandung makna simbolis agar semua pratisentana krama Bugbug di mana pun tetap eling (ingat) dan terkait dengan penyungsungannya, serta selalu taat dan ingat kepada Hyang Widhi penguasa alam semesta. (013)

Posted by : I Wayan Ardika

4 thoughts on “Dokumentasi Usaba Gumang

  1. Haloo Contennya sangat bagus dan sangat menarik. Perlu di sebarkan agar seluruh warga desa bugbug di seluruh dunia bisa access dan mengetahui perkembangan desa bugbug tercinta.
    Usaba Gumang ne lakar tekalakar nguling ane gede apang liu maan lungsuran lan?

    Suka

  2. megah meriah unik, pura gumang di lombok hampir sama pelaksanaannya…..tmpatnya di peninjoan narmada……….du mogi sareng sami pulih kerahayuan

    Suka

  3. contennya sudah bgus,tetapi sya ingin bertanya:
    1).adakah makna lain dari mabyasa,selain dewa mepalu?krena sya msih bngung,msak ada dewa yang mepalu?
    2).tlong jelaskan,kenapa antara jempana dari jasri dngan jempana dari bandem tidak boleh bertemu/mepalu?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: