Memaknai Gumang

gumang-sadina

Om Swasti Astu ….,

Dalam perjalanan pendakian ke Pura Gumang sebelum melewati jalanan Sang Hyang Ambu di dekat Malegok, seorang laki-laki plontos, teman lama yang baru saja datang dari kapal pesiar datang menghampiri saya.  Gayanya masih seperti dulu.  Kepala plontosnya dan badanya yang tegap harusnya ikut ngayah jadi Pecalang. Walau sudah hidup dengan gemerincing dollar, cara busananya tidak berubah, bersahaja.   Ia masih menggunakan kata pale untuk mengganti kata aku dalam setiap kalimatnya.  Saya biarkan kata cai diucapkannya untuk mengakrabi saya untuk mengganti kata kamu.  Walau mungkin, terdengar aneh bagi krama desa lain, gaya bicara jalebag-jalebug Bugbug ini mengakrabkan kami walau kami berpisah cukup lama.  Perbincangan kami masih seputar kehidupan di rantau setelah akhirnya ia mencerca dengan banyak pertanyaannya yang langsung menohok dan membuat saya pusing juga, memikirkan jawabannya.  Yang ditanyakan sebenarnya simple,  namun kritis, khas pertanyaan anak muda tentang fenomena upacara yang dilihat di depan matanya.  Cara bertanyanya juga khas anak gaul sebayanya dengan kata tanya ” Kenapa sih ?” Barangkali pertanyaan itu juga pertanyaan ribuan anak muda lainnya yang mungkin sungkan untuk menanyakannya …

” Kenapa sih …, para tetua kita membangun pura di tempat-tempat yang tinggi, seperti halnya Pura Gumang ?, Mengapa tidak dibangun di pinggir jalan raya saja, sehingga lebih mudah dan nyaman ketika kita melakukan persembahyangan, tidak perlu berjalan jauh lagi “ tanyanya seru tanpa memberi kesempatan saya untuk memikirkannya.

” Kenapa sih.., para tetua mencari dewasa Usaba Gumang, tepat di Purnama Kapat, bulan di mana bulan yang paling panas, melihat para pemedek yang tangkil dengan membawa haturan dalam keben atau sokasi, belum lagi pemedek lelaki lain yang berpeluh dan telanjang dada dengan tetegenannya berupa babi guling, tumpeng dan kelengkapannya menapaki jalanan terjal di Cangleg, menuju puncak Gumang yang serasa jauh ??.  Tambah mengenaskan lagi terlihat seorang nenek yang menuntun cucunya berjalan terseok, sesekali terpeleset oleh bebatuan kecil yang diinjaknya dalam perjalanan menuju Puncak Gumang.  Seorang Ibu muda mengusap peluh anaknya yang baru berumur 5 bulan, melangkah pelan sambil sesekali menudunginya dari terik matahari sasah Kapat, sejurus kemudian diungkapnya sokasi dengan mimik khidmat diletakkannya banten cacakan di sebuah tepas yang ditemui dalam perjalanan itu.  Setelah menghelas nafas panjang mengiringi desahan sakit bergetarnya lutut menahan beban tubuh dan keben di kepala, kami duduk sebentar sebelum akhirnya iring-iringan Jempana dari Desa Bugbug, Bandem, Jasi dan Ngis menderu debu duduk kami di sekitar Cangleg seolah memaksa kami untuk menepi.

Ngambeng di Gumang

Percikan tirtha dari pesaren sebelum akhirnya memasuki gerbang pura Gumang yang baru saja selesai direnovasi dengan batu tabas, deru debu mengiringi para pemedek yang dengan semangatnya mundut Jempana  Ida Betara mebyasa.  Mereka menyebutnya Ngambeng.., membawa kenangan saya ke masa terune dulu.  Banyak yang bilang bila ikut ngambeng, entah dari mana datangnya kekuatan, seolah onak, duri, debu, dan sesekali injakan dari pemundut lainnya tak terasa sama sekali.

Suasana riuh para pemedek menyemangati pemundut, diramaikan pula suara loudspeaker panitia yang mengatur jalannya aci.  Yang sesekali diselingi laporan ditemukannya anak kecil, laporan kehilangan dompet, dan laporan dana punia yang diterima oleh stand panitia.  Belum pernah dalam sejarah, pemaparan secara singkat sekalipun makna dari setiap eedan upacara disampaikan oleh panitia.  Justru sibuk mengumumkan berapa rupiah dana punia yang sudah masuk.  Setelah menghindar dari dampratan seorang penari daretan, kami berpisah untuk janjian ketemu di kelod kangin, tempat pavorit bagi pasangan muda-mudi, sambil makemit ? sebelum akhirnya pulang dan beberapa hari kemudian masuk angin kena ayub Gumang.

Negen Jempana


Menuruni tangga di sebelah utara Pelinggih Patokan, saya bergegas untuk bertemu keluarga yang sudah menunggu di pondok.  Saya seka cairan minyak yang jatuh dari ratusan babi guling untuk mepinton yang menghiasi ratusan pohon Jepun tua di Pura Gumang di Bukit Juru itu.

Langit di barat Pelinggih Gaduh semburat merah sebelum akhirnya berubah ungu mengiringi kami menyelesaikan prosesi persembahyangan dengan Ayunan, Sodan sakasida lengkap dengan Cupetik Agungnya di Kelod Kangin,  Meru, Gaduh Istri, Gaduh Lanang.  Meru, Patokan.  Persembahyangan sebagai wujud pasrah atas kuasa-Nya.  Penangkilan dalam rangka Usaba Kadulu yang dihadiri oleh warga Catur Desa Bandem, Jasi, Bugbug, Ngis itu terasa lain.

Di Kelod Kangin menerawang pasisi kelod, pertanyaan tadi meluncur lagi di telinga, yang walau belum siap untuk saya jawab.  Saya lepas udeng putih berdebu.  Udeng putih pengganti udeng merah (warna arah selatan) sebagai ceciren pemedek Bugbug, udeng hitam (untuk warna uttara) sebagai ceciren pemedek dari Bandem, udeng putih (untuk warna arah timur) sebagai ceciren pemedek dari Jasri, dan Udeng Kuning (untuk warna arah barat) untuk menandai pemedek dari Desa Ngis.  Ah …, pikiran saya jadi berwarna warna, barangkali karena dekat Pemilu ya ….

Disodorkannya sate languan yang dijual oleh semeton Timbrah dan Bungaya, cukuplah jadi menu tambahan setelah menikmati lungsuran sore tadi.  ” Beberkateka siyep cai !!! ” teman ini mendesak saya dengan nada tinggi untuk mendapatkan pendapat saya atas segala tanyannya tadi …

Sambil memandangi Gili Byaha di tengah lautan di selatan Bukit Gumang, saya awali perenungan saya akan berbagai pertanyaan tadi.  Ada makna mendalam tentu didapat jika kita mau merenung dan memaknai setiap adat dan acara selama pendakian ke Bukit Juru ini.  Bukit yang barangkali ada yang mengusulkan untuk di bangun villa karena keindahan pemandangannya.  Bukit yang mungkin oleh pemedeknya yang simplicity diusulkan dipasang elevator untuk memudahkan dan menyamankan pemedeknya untuk tangkil.  Barangkali kata tidak tepat untuk mewakili ketidaksepahaman akan kalimat tadi.

Di bulan yang paling panas dalam satu tahun, panas yang seolah penuh siksa, dengan tetegenan guling, sokasi dan keben, anak kecil dalam gendongan, jalanan yang di awalnya datar, menapaki tangga terjal dalam jalan berbatu licin mudah menggelincirkan, jalan menurun yang menghanyutkan, membuat kita tertegun ketika mendapati akan terjalnya pendakian mencapai Cangleg.  Akankah aku terhenti dan terbenam selamanya di Cangleg ? Seketika asa terhenti seolah mati sebelum dapat mengakhiri deraan wilayah Cangleg.  Teringat akan kata tetua dulu … “Nah tutugang, masi suba di Cangleg, buin abedik …”

Disadari atau tidak, setuju ataupun tidak, perjalanan menapaki Gumang adalah perjalanan Yoga.  Pendakian yang memberi kita pelajaran berharga betapa hidup ini adalah sebuah Tapa dan Yasa di bawah terpaan panas Sasih Kapat di bulan Kartika, seolah ujian akan kuatnya tapa dan bakti kita menuju puncak Gumang, puncak spiritualitas ala Catur Desa.  Akan halnya jalanan mendatar, menanjak, tetegenan dan gendongan anak, seakan mengajarkan kita betapa hidup ini tidaklah mudah tanpa usaha, tanpa tantangan.  Ada irama di dalamnya, ada bahagia, ada nestapa, ada petuah ketegaran ketika mendaki Cangleg, ada spirit untuk tidak menyerah sekalipun hidup ini keras, jalani ia dengan tekun landasi ia dengan dharma, ada kebersamaan dan rasa berbagi, ada jalan untuk mengungkap rasa syukur setelah menapaki jalanan itu, niscaya Puncak Gumang tercapai.  Segala nafas di hela sepanjang jalan, tarikan nafas panjang pendek, sambil memandangi Bukit Asah, Bukit Dukuh, Tukad Buhu di bawah sana membawa kita pada waktu dan kesempatan untuk merenungi kehidupan ini lebih lama, tidakkah kita tahu itulah jalan-jalan yoga.  Ini seolah cermin bagi kita akan pelajaran tanggung jawab atas berbagai hal yang kita perbuat.  Berani mengambil nikmatnya dari istri yang dinikahi, ambil pulalah bebannya jangan pengecut, tegenlah guling dalam panasnya sasih kapat itu untuk mepinton, untuk mintonin menguji seberapa kuat dan tegar kita untuk melanjutkan tanggung jawab keluarga, masyarakat dan kehidupan.  Ketidakkuatan menghadapi beban hanya akan mengantarkan kita pada jurang keputusasaan dan kemalasan.

Muspa di antara deru debu, hiruk pikuk pemedek yang  mundut Ida Bethara mebyasa, seolah cermin dan tantangan kita, dapatkah kita kuat dalam keheningan pikiran memuja Dia sementara riuhnya suasana luar laksana bidadari menggoda Tapa Sang Arjuna.  Dalam kerasnya kehidupan kita diajarkan untuk tetap teguh berpegang padaNya, memundutnya, niscaya bahagia bersua.  Tanyalah pada setiap pemundut, ada rasa puas dan bahagia tak terucap manakala usai mundut Jempana atau Joli.  Ada spirit dan kekuatan baru merasuk sebagai kekuatan untuk kembali menjalani hidup dan berkarma.

Jika Pura Gumang di pinggir jalan, tentu jalan-jalan spiritual seperti ini akan sirna, Jika Usaba Gumang dilaksanakan di musim hujan, basah deh …, Jika dari Sabuni hingga Gumang dipasang elevator maka  makna-makna terdalam akan kehidupan tidaklah terasa, hambar.  Memandangi Bukit Dukuh, Tukad Buhu, Jalan Telaga Ngembeng dari ketinggian Gumang, menuntun kita, betapa kecilnya kita di jagat raya ini, menghindarkan kita dari rasa angkuh dan jumawa.  Memaknai jalan-jalan sepanjang Gumang, adalah pemaknaan ajaran kehidupan yang dalam.

Salah satu hal yg paling mengagumkan dalam praktek ajaran leluhur kita (Hindu) adalah konsep penyatuan dengan alam, hampir semua Pura termasuk Pura Gumang di bangun di areal yang susah dilalui namun semua kesulitan akan berakhir di sebuah lokasi yang sangat indah, semua hal ini merupakan sebuah implementasi dari ajaran Hindu Dharma sendiri bahwa untuk mencapai sebuah tujuan kita harus berani melewati berbagai halangan dan rintangan karena dibalik semua halangan, rintangan dan segala sesuatu yang nampak sebagai sebuah penderitaan menanti sebuah swarga yang indah yang serta merta akan membuat semua kelelahan, penderitaan, kesulitan menjadi sirna dan bagi orang yang sudah mengalami mereka akan menginginkan lagi untuk mendapatkan pengalaman yang sama dengan persipan diri yang lebih matang. So jangan pernah berhenti dalam melewati segala rintangan dan halangan yang sedang menghadang di depan karena dibalik semua itulah menunggu sebuah keindahan dan tempat yang hendak kita tuju, termasuk indahnya Bugbug dari Puncak Gumang ….

Suksma, kasurat olih I Wayan Ardika

2 thoughts on “Memaknai Gumang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: