Daretan …

 

 

 

Daretan

Daretan atau Ngurek


Daretan atu NGUREK adalah tradisi yang sudah tua. Tradisi ini banyak bisa dilihat di Desa-desa adat di Bali, termasuk salah satunya di Desa Adat Bugbug.  Menusuk diri dengan keris atau tombak ini tadinya saya kira hanya tradisi masyarakat Bali tradisional tatkala melakukan ritual keagamaan. Ternyata di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, juga ada tradisi ngurek. Itu dilakukan oleh semacam juru doa, kalau di Bali barangkali sama dengan balian atau dukun. Para “juru doa” ini diundang oleh sebuah keluarga untuk memimpin hajatan. Ritual pun dilakukan, dan ketika para “juru doa” itu trance, mereka mengambil keris kecil yang terselip di pinggangnya. Mula-mula yang ditusuk telapak tangannya, lalu dada dan perut.

Jadi sama saja dengan di Bali, orang yang ndaret itu pasti adalah orang yang trance atau di Bali sering disebut kerauhan. Orang yang tidak kerauhan tak akan mau atau tak akan bisa ikut ndaret. Apakah mereka tidak sadar sama sekali? Tidak, mereka sadar ketika meminta keris, sadar ketika berjalan, dan pada saat ngurek pun sadar. Cuma ada sesuatu yang di luar kontrol, yakni kenapa melakukan hal itu, kekuatan apa yang mendorongnya. Ini yang tak bisa diterangkan sama sekali. Saya tahu hal-hal seperti ini karena saya mengamati para juru ndaret yang sampai kini masih melaksanakan tugasnya sebagai sutri atau dasaran jika ada piodalan.

Apa makna ndaret itu? DARETAN dalam kaitan piodalan di desa saya adalah pertanda turunnya Batara-Batari menyaksikan upacara ritual. Acara ini memang ditunggu-tunggu saat piodalan, karena umat ingin tahu apa yang terjadi dengan piodalan. Apakah diterima dengan baik, apakah ada kekurangannya, apa ada sesuatu yang tidak beres di desa sehingga ada “pencerahan”. Nah, Batara yang turun lewat dasaran itu bisa menjelaskannya. Itu kalau dikehendaki. Hubungan dengan daretan? Daretan  ini semacam pembuktian bahwa dasaran itu benar-benar kerauhan, bukan dibuat-buat. Istilah para remaja di kampung saya, mereka itu tidak acting, tetapi murni kesurupan. Kalau tidak pakai ndret, umat sering tidak percaya: ah, jangan-jangan pura-pura kerauhan.

Untuk ritual ini keris yang digunakan lebih kokoh, logamnya lebih tebal, tidak goyang dengan gagangnya. Kalau kerisnya tipis, bisa melengkung dan ini membahayakan buat sang pengurek. Ketika orang sedang ngurek, kekuatan itu datang tak terduga, karenanya dibutuhkan keris yang juga kuat.

Jika ada piodalan di Pura Batur Sai, Kecamatan Pupuan, tradisi ngurek ini lebih meriah, lebih ramai dari Pengerebongan, Kesiman. Dasaran datang dari berbagai desa, termasuk dari desa saya. Di sini ngurek memakai pengawin (tombak yang bertangkai panjang). Caranya, tangkai tanpa tombak dijulurkan ke atap balai gong, lalu ujung tombak menancap di dada pengurek. Jadi, ngurek dengan tombak posisi tubuh seperti menoleh ke atas, ngurek dengan keris posisi tubuh menunduk ke bawah. Jika dasaran masih muda, biasanya pakai berguling-guling di tanah. Ya, tingkah polah dasaran saat ngurek juga dipengaruhi oleh usia dan perilakunya sehari-hari tatkala tidak kerauhan.

SAYA tahu banyak soal ngurek karena saya mantan pengurek. Seseorang itu biasanya berhenti sebagai dasaran dan berhenti ngurek jika ia bisa mengendalikan diri dengan baik di saat ada piodalan dengan melantunkan berbagai doa maupun “permohonan dalam hati”. Agak sulit menjelaskan, karena ini menyangkut jenjang-jenjang spiritual. Lagi pula, permohonan agar tidak kerauhan itu tak selalu mempan. Pada piodalan Purnama Kedasa yang lalu di kampung saya, lagi-lagi saya kerauhan dan melakukan ritual ngurek setelah bertahun-tahun absen. Setelah saya analisis, penyebabnya karena saat itu saya sedang menarikan topeng Sidakarya, dan ketika adegan nunas tirtha, penabuh membunyikan gamelan keras yang di kampung saya disebut gamelan mekale (gamelan nuwur Batara), dan langsung saya trance. Memang, hal-hal serba mendadak dan tidak diduga sering terjadi dalam ritual seperti ini.

Saya pernah mengadakan penelitian soal ngurek untuk kepentingan penulisan buku. Banyak pura saya datangi, termasuk juga tradisi ngurek dalam kesenian. Kesimpulan sederhana yang saya dapatkan adalah semua pengurek itu dalam posisi trance, tetapi mereka bisa mengendalikan diri dalam keadaan terbatas, misalnya dalam melihat suasana sekitarnya.

Dalam kesenian yang memakai rangda yang oleh masyarakat Bali disebut rangda matebekan (rangda ditusuk dengan keris oleh orang lain), pemain rangda itu harus trance lebih dulu. Baru kemudian para penusuk (disebut renying) yang trance. Jadi kedua-duanya trance. Tak mungkin renying trance tetapi pemain rangda tidak, bisa-bisa pemain rangda itu lari ketakutan.

Itu sebabnya, dalam tari barong untuk wisatawan di sekitar Singapadu, rangda tidak ditusuk oleh renying karena memang posisi pemain rangda tidak trance. Pemain yang berperan sebagai renying itu awalnya juga belum trance, boleh disebutkan mereka acting dulu di pentas dengan mengacung-acungkan keris. Ketika rangda selesai menari, pemangku memercikkan tirtha kepada pemain yang membawa keris, terjadilah “tontonan ngurek” karena pada saat itu trance terjadi. Kalau ada pemain yang saat itu tidak mau trance, ya… mereka minggir ke luar pentas. Contoh seperti ini sering terjadi dalam tari tradisi Bali, misalnya pada lakon-lakon Calonarang atau yang memakai barong dan rangda.

Tidak semua pemain yang diharapkan trance bisa trance pada saat dibutuhkan. Karena itu ada julukan sing nadi, artinya gagal kerauhan. Apakah ngurek bisa dilakukan dengan pura-pura tanpa trance? Saya kira ini sangat riskan dan bisa mengundang celaka, apalagi motifnya untuk memamerkan kekebalan tubuh. Seorang dasaran tidak akan melakukan hal itu. Di kampung saya, dasaran pemula tidak diizinkan ngurek jika tidak didampingi dasaran senior, dan ini pun kedua-duanya dalam posisi trance.

Ngurek memang tradisi sudah tua, dan akan terus ada jika ritual yang dilakukan masih menggunakan tradisi lama berupa sesajian, banten, kidung dan gamelan. Kalau sembahyang bersama di aula gedung dengan sistem bajan atau Agni Hotra, misalnya, tentu tidak akan ada ngurek.

Oleh : Putu Setia/08062003, posted by I Wayan Ardika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: