Nyepi : Berguru Kepada Sepi

padmaOm Swasti Astu, Selamat Nyepi tahun Baru  Caka 1931.  Perayaan Nyepi di Desa Pekraman Bugbug unik memang.  Selain Nyepi yang dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2009 ini, Desa adat sendiri telah melaksanakan Nyepi Desa beberapa minggu sebelumnya.  Jadinya Desa Pekraman Bugbug melaksanakannya Nyepi sebanyak 2 kali dalam setahun.  Lalu dari dua kali pelaksanaan Nyepi itu, apa yang sudah kita dapatkan ?.  Adakah Nyepi itu sudah dijadikan momentum untuk menjadikannya sebagai hari penuh renungan akan berbagai hal yang telah kita laksanakan di tahun sebelumnya.  Adakah Nyepi hanya dimaknai sebagai hari di mana kita tidak bekerja dan keluar rumah saja ?.  Guna perayaan ini, ijinkanlah kami menyajikan tulisan di bawah ini untuk menyertai perenungan kita di malam yang paling gelap dalam setahun itu. Perenungan ini kami sajikan dari petikan tulisan IB Darma Palguna pada Bali post 15 Maret 2009 yang lalu ;

BHUMI yang sangat ramai dengan segala isinya, menurut pandangan Samakhyadarshana ternyata berasal dari Sepi. Pikiran yang sangat ramai dengan segala yang dipikirkannya, ternyata berada dari Sunyi. Para guru yang membekali hidup dan mati kita dengan Shastra, dalam hidupnya ternyata beliau sangat memuja Suwung. Mahakarya shastra yang luwih yang diciptakan oleh para Kawi Wiku ternyata bersumber dari hati yang pada mulanya merasa Senyap. Masih banyak lagi penemuan-penemuan yang mengubah sejarah manusia dan membentuk peradaban bathin manusia ternyata berpangkal dari yang itu-itu saja, yaitu sunyi, sepi, suwung, senyap, lengang, nyap-nyap, kosong, shunya, dan sejenisnya. Lalu apa? Ternyata semua ini berguru kepada Sepi. Mari jangan bertanya apakah Sepi itu. Tapi bertanyalah pada nurani sendiri-sendiri, siapakah Sepi itu. Dengan bertanya ‘siapa’, kita sudah mempersiapkan pikiran bahwa Sepi itu adalah Hidup, bukan mati. Jika Sepi itu adalah suasana, maka ia adalah suasana yang Hidup. Jika Sepi itu adalah energi, maka ia adalah energi yang Hidup. Jika Sepi itu adalah pencipta, maka tentulah ia adalah pencipta yang Hidup. Jika buddhi-citta, kita sudah menyakini hal ini, barulah ada harapan bahwa Sepi itu bisa dicarii, ditemukan, diadakan, didapatkan, dan dijadikan Guru. Setiap benih berguru kepada Sepi sampai akhirnya benih itu tumbuh. Setiap janin berguru kepada Sepi sampai akhirnya janin itu lahir menjadi bayi. Setiap telur berguru kepada Sepi sampai akhirnya menetas. Setiap inspirasi berguru kepada Sepi sampai akhirnya lahir karya dan mahakarya. Sepi adalah Guru yang membentuk dasar. Guru Seni itu pasti ada pada setiap yang hidup maupun yang mati. Jika pandangan mata menuju keluar, maka carilah Guru Sepi itu di luar sana juga pada yang hidup dan pada yang mati. Jika pandangan mata memandang ke dalam, jauh ke dalam, maka carilah Guru Sepi itu di kedalaman  masing masing-masing. Jadi sekali lagi, menurut para guru kehidupan temukan, adakan, dapatkan, dan jadikanlah sebagai guru Sepi itu. Pencarian kedalam maupun keluar, jika diyakini dengan benar, akan sama-sama bertemu di “perbatasan”. Ke luar atau ke dalam tidak berbeda dengan langkah pertama yang dilakukan ketika orang akan berjalan. Langkah pertama akan disusul oleh langkah kedua. Jika yang pertama adalah langkah kiri tentu yang menyusul adalah langkah kanan, asalkan ia berjalan. Begitu pula dengan pencarian ke luar dan ke dalam. “Pertemuan” yang tejadi di luar akan memantul ke dalam. Sebaliknya, pertemuan yang terjadi didalam akan memancar keluar. Di perbatasan tidak ada lagi yang namanya luar dan dalam, kiri dan kanan. Terbebas dari dua yang dikotomis itulah adalah satu ciri Sepi. Tubuh ini ramai, seperti alam ini Atman itu Sepi, seperti super energi itu. Ke luar maupun ke dalam adalah sama-sama menerobos keramaian menuju Sepi. Banyak para penerobos yang lenyap di keramaian. Tapi beberapa penerobos yang sampai pada Sepi juga tak terdengar beritanya, karena begitu sampai ia atau mereka langsung menjadi Sepi itu sendiri. Itulah sebabnya, salah satu baris Kakawin Dharma Shunya menyebutkan, tan wrthyanprcipta (tak tahu bila telah sampai).

Posted by I Wayan Ardika

One thought on “Nyepi : Berguru Kepada Sepi

  1. Luar biasa …, saya bangga sekali atas keberadaan web ini ….
    Inilah bukti anak Bali yang think globally act locally …
    Sekali lagi salut…, kami nantikan postingan-postingan selanjutnya.
    Melihat photo-photo di gallery, saya terkenang saat Bakti Sosial
    Politeknik Universitas Udayana tahun 1992 di Desa Bugbug
    yang Mr Ardika adalah Ketua Panitianya saat itu ..
    Maju terus …

    Galang & Inatamayu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: