Titiang Jatma Purantara

Pura Puseh
Purantara dalam Bahasa Indonesia berarti kaum perantau.  Hampir sebagian besar krama Desa Adat Bugbug adalah krama purantara yang berdomisili dan bermatapencaharian di berbagai kota-kota di Bali maupun luar Bali.  Sebagian terbesarnya tersebar di Singaraja, Pancasari, Denpasar, Tabanan, Klungkung.  Di luar Bali krama purantara Bugbug juga tidak sedikit jumlahnya.  Jakarta, Surabaya, Balikpapan bahkan Irian jaya adalah kota jujugan bagi para krama Purantara Bugbug ini.

Belakangan ini seiring dengan maraknya peluang kerja di luar negeri, baik itu di darat maupun bekerja di laut.  Banyak pula krama purantara Bugbug yang mencoba menjajal kemampuan dan peruntungannya di berbagai kota besar di dunia.  Tidak jarang pula krama purantara Bugbug yang mencoba kerasnya persaingan kerja di Amerika, Jepang, Abudhabi, Australia, Belanda, Singapura dan Malaysia baik sebagai crew kapal pesiar, pekerja di berbagai bidang profesi di darat dan sebagainya.  Banyak yang sukses di rantau orang, ada pula yang harus kembali ke kampung halaman setelah bosan dan jenuh atau menuai gagal dalam kerasnya persaingan kerja dan kehidupan.

Kalau pemerintah Republik Indonesia menjuluki para TKI sebagai pahlawan devisa, namun apa kiranya julukan yang pantas diberikan bagi para perantau asal Bugbug ini ?  Kiranya bukan julukan pemanis bibir seperti itu yang di harap.  Mereka tetap bersahaja walau masih harus gigih berjuang mengisi hidup.  Ada yang mengusulkan Jatma Purantara, frase Krama Purantara mungkin pas untuk kami yang jauh di desa orang ini.  Ada makna ketegaran di dalamnya, ada semangat ada rasa bakti dan syukur untuk mengabdi kepada-Nya, perjuangan untuk mengisi hidup dan ada rasa kebersamaan di dalamnya yang kental, bersahaja untuk dapat berbagi pada semua orang yang dicinta.

Menilik sejarahnya, awal-awal dimulainya perantauan oleh Krama Bugbug, barangkali dilatarbelakangi oleh beberapa hal.  Masalah ekonomi sudah tentu adalah alasan utama krama merantau ke desa atau negeri orang.  Geografi Desa Bugbug yang nyegara gunung, di mana dulu sebagian mata pencahariaan masyarakatnya adalah sebagai nelayan dan petani barangkali juga melatari sebagian krama Bugbug untuk mengambil pilihan merantau ke daerah orang.  Sama halnya suku Bugis yang sebagian besar orang-orang yang bergerak di sektor bahari adalah perantau-perantau sukses di Nusantara ini.

Adanya program transmigrasi lokal yang diprakarsai oleh Pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke XX adalah kali pertama krama Bugbug membukukan dirinya sebagai Jatma Purantara di pedalaman Desa Benyah yang sekarang ini bernama Pancasari.  Tetua penulis bersama tetua-tetua lainnya adalah krama purantara pembuka ganasnya belantara hutan Desa Benyah Pancasari.

Usai kemerdekaan, seiring dengan ditetapkannya Kota Singaraja sebagai Ibukota Propinsi Sunda Kecil dan dengan visi ke depan akan pencapaian masa depan dan kehidupan yang lebih baik, maka diawalilah perantauan sebagian krama Bugbug ke Ibukota Propinsi Sunda Kecil di Singaraja dengan membangun sebuah komunitas yang sekarang ini kita dapati di bilangan Kampung Anyar, hingga menyebar ke Kayu Buntil, Lingga, Kampung Tinggi, Penarukan, Kebon dan wilayah lainnya.

Meletusnya Gunung Agung pada tahun 1963 merupakan tonggak bagi pergerakan krama purantara Bugbug ke wilayah Kabupaten Badung pada saat itu.  Jika kita lakukan napak tilas, akan terlihat jelas jejak pergerakan para perantau krama Bugbug di Ibukota Propinsi Bali ini.  Berawal dari Banjar Kayumas, Banjar Gemeh, lalu bergerak menyebar ke Banjar Gelogor dan Banjar Tegallingah.  Sebelum berakhirnya abad XX, persebaran krama Purantara Bugbug beralih ke wilayah yang lebih luas lagi yakni Banjar Lumintang, Banjar Merta Jaya, Banjar Merta Gangga, Banjar Manut Negara, Banjar Penyaitan, Perumnas, Bumi Ayu, Padangsambian, Kerobokan, Abian Timbul, Teuku Umar, Panjer, Pemogan, Sesetan, Batubulan dan Nusa Dua.

Krama Purantara tersebar pada berbagai profesi dan mata pencaharian yang menjadi geginan mereka sehari-hari, mulai dari tukang bangunan, buruh pasar, pedagang, perajin sepatu sandal, sopir, pegawai negeri, pegawai toko, pegawai hotel, restauran maupun biro perjalanan, polisi, tentara, satpam, pegawai Bank, arsitek, montir, dokter, dosen, perawat, guru, kelian dinas, pemangku, balian, bahkan sebagai  pemilik dan pimpinan perusahaan hingga anggota DPRD pun ada.

Barangkali keberadaan   krama purantara ini akan halnya bless in distinguish.  Bayangkan dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang sedemikian rupa, bagaimana seandainya para krama purantara tidak mengambil pilihan merantau.  Dapatlah dibayangkan bagaimana pemerintah Kabupaten Karangasem dan pemerintahan desa Bugbug mesti menyiapkan lapangan pekerjaan bagi sekian banyak manusia.  Bagaimana daya dukung lingkungan dapat menghidupi sekian banyak manusia, baik itu terkait dengan luas wilayah untuk pemukiman, pangan, termasuk akan kebutuhan yang paling mendasar yakni air.  Dapat dibayangkan bagaimana penuh sesaknya wilayah Desa Pekraman Bugbug ini jika semua krama tumplek blek tinggal di Desa Bugbug.  Situasi ini dapat diperhatikan ketika pelaksanaan puncak Usaba Gumang.  Dengan sudah merantau saja kebutuhan akan lahan pemukiman sudah semakin tinggi, bahkan pada beberapa bagian palemahan Desa Pekraman Bugbug sudah mulai menyentuh lahan hijau subur, yang seharusnya dapat dijaga kelestariannya guna mendukung adat istiadat yang demikian teguh dijaga secara turun temurun.

Dengan realitas seperti ini sepertinya relevansi dan dorongan kepada kaum generasi muda Bugbug untuk merantau adalah masih relevan pada masa sekarang ini.  Untuk itu sebelum terjun ke medan purantara yang sesungguhnya, alangkah baiknya pemuda pemudi Bugbug untuk dapat lebih menguatkan diri lahir batin pada kecakapan-kecakapan hidup yang dibutuhkan oleh lapangan pekerjaan.  Referensi-referensi dari para tetua yang sudah lebih dulu menjadi krama purantara tentu sangatlah dibutuhkan.  Dan yang terpenting untuk dijaga adalah bagaimana etos kerja krama purantara Bugbug dapat meningkat sehubungan dengan disiplin, kerja keras disertai dengan mentalitas yang kuat sesuai bidang yang ditekuni baik sebagai pekerja maupun bergerak di bidang enterpreneur atau wirausaha.

Disadari atau tidak terlepas dari besar kecilnya kontribusi yang dapat diberikan oleh krama purantara, keberadaan mereka adalah asset bagi pembangunan desa di berbagai bidang baik itu agama, adat istiadat, ekonomi politik dan pertahanan budaya.  Kesadaran krama purantara akan jati diri dan kawiwitan asal dari Desa Bugbug, diharapkan dapat tumbuh sedemikian rupa untuk dapat mendukung paparan idealisme tadi.  Pengejawantahannya dapat dengan berbagai hal yang walaupun kecil sifatnya, semisal : belanja di Desa, (jika secara teknis memungkinkan) lakukan upacara di Desa Bugbug, (jika ada rejeki lebih) berinvestasilah di LPD yang dikelola Desa, bergabunglah dengan paguyuban krama purantara setempat untuk dapat menjadikannya sebagai forum komunikasi pemberdayaan diri maupun wahana untuk dapat berpartisipasi aktif bagi pemberdayaan masyarakat desa.

Oleh I Wayan Ardika, SE.

6 thoughts on “Titiang Jatma Purantara

  1. Tityang jatma Purantara hendak menjalani kehidupan di panti.saya bukannya tak punya orang tua karena sudah pasti ada yang melahirkan saya tetapi saya harus pergi karena sesuatu hal karena ditempat saya diri ini telah teraniaya oleh orang digjaya karena menyalahgunakan kedigjayaannya

    Suka

  2. Pak wayan tiang lekad di Pancasari (dulu Benyah)tahun 1959, yang saya tahu di sana adalah transmigran pembuka dari Padang Bulia termasuk kakek-kakek saya yang keturunannya banyak dan dapat ditelusuri sekarang. Siapa trah Bugbug yang dapat ditelusuri sekarang di Pancasari…………???

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: