Prajurit Kerajaan

gumanghill082

Cukup menarik untuk ditelusuri asal-muasal munculnya permainan gebug ende itu. Klian Desa Pakraman Seraya I Made Putu Suarsa mengatakan, kemunculan permainan gebug ende itu diperkirakan merupakan bentuk pelestarian dari latihan perang-perangan prajurit Kerajaan Karangasem zaman dulu. Sampai kini, latihan bertarung itu masih dijadikan semacam peringatan, sehingga tetap lestari.

Pada zaman dulu, kata Suarsa, sebenarnya latihan perang prajurit kerajaan menggunakan senjata tajam, seperti pedang, tombak atau keris. Kini sebagai simbol senjata tajam itu dipergunakan tongkat rotan.

Pada zaman kerajaan, masyarakat Desa Seraya merupakan salah satu kanti (prajurit andalan) kerajaan. Prajurit inti dikenal berasal dari Seraya, yang berjumlah 40 (bala petangdasa). Selain masyarakat Seraya dijadikan salah satu kanti Kerajaan Karangasem, juga dari Bugbug dan Angantelu. ”Orang Desa Seraya dikenal karena kebal sajam, Bugbug karena ahli pengobatan, sementara Angantelu karena sifat pemberaninya. Barangkali, masyarakat di ketiga desa tua itu zaman dulu diberikan anugerah dengan kelebihan untuk mengemban tugas masing-masing,” ujar Suarsa.

Suarsa mengatakan, berdasarkan cerita secara turun-temurun yang diterimanya, tes pemilihan calon prajurit kerajaan itu digelar pada saat sangkepan (rapat) desa. Saat itu warga lelaki dewasa sejak dari rumah menuju tempat sangkep, masing-masing telah menjepit duri pandan di kedua ketiak. Begitu mendekati tempat sangkepan, petugas jaga bakal menarikan daun pandan dari ketiak calon peserta sangkepan. Kalau daun pandan lepas ditarik dan tubuh penjepit tak luka ditusuk duri, berarti mereka lolos seleksi dan bisa ikut sangkepan. Dari sangkep itulah dites lagi untuk memilih 40 prajurit inti kerajaan. ”Tempat melakukan tes kekebalan calon prajurit kerajaan dengan sebuah palinggih-nya, kini masih ada di Desa Seraya,” tutur Suarsa.

Saat sangkepan, katanya menceritakan cerita leluhurnya, krama membelah buah pinang untuk makan sirih (macanangan, bahasa Bali) dengan pedang, belakas atau tah, bukan di atas bantalan kayu (talenan). Namun, langsung di atas paha. ”Cetar…., pinang pun terbelah dengan salah satu senjata tajam itu. Tetapi paha tak luka,” ujar Suarsa memperagakan dengan tangannya.

Sajam yang digunakan untuk berperang pada zaman dulu pun, lanjutnya, mesti dites dulu. Kalau ditancapkan ke bebatuan tak tumpul atau kalau ditusukkan ke gedek — dulu dinding rumah cuma terbuat dari gedek berbahan potongan bambu — dan segala binatang yang ada tengah berada di dinding gedek, seperti tikus, cecak atau kalajengking gedek itu mati, barulah sajam itu lolos seleksi untuk dibawa berperang.

Dia mengatakan, sampai kini beberapa keturunan prajurit 40 masih ada yang memiliki warisan kebal sajam secara turun-temurun. Namun, katanya, kalau warga Seraya menginginkan bantuan agar dilindungi dari goresan sajam saat menghadapi bahaya, juga bisa dengan mengikuti tata cara tertentu, seperti yang diwariskan leluhur. ”Cukup dengan konsentrasi dengan doa guna mohon bantuan Batara yang kalinggihang dan dipuja di Seraya, doa bakal terkabul. Memang saat kami menghadapi ancaman, kami sepakat membangkitkan warisan leluhur itu, agar jangan sampai punah tertelan modernisasi,” katanya.

Dialek

Diamati dari segi dialek, bahasa Bali masyarakat Seraya tampak ada persamaan dengan dialek masyarakat desa-desa tua lainnya di Karangasem. Dialek asli masyarakat Seraya tampak ada persamaan dengan di Bugbug, Desa Pakraman Kedampal, serta Linggawana. Diduga zaman dulu ada hubungannya. Misalnya, ucapan ”e” seperti kija (ke mana), diucapkan dengan ”keja.”

Suarsa membenarkan dugaan hubungan erat itu. Sampai saat ini, katanya, masih erat hubungan kekeluargaan antara masyarakat Seraya dan Bugbug, misalnya terlihat saat saling hubungi (undang) saat ada salah satu pihak mengadakan upacara manusa yadnya ataupun pitra yadnya.

Suarsa mengatakan, Desa Pakraman Seraya juga diperkirakan merupakan salah satu desa tua di Karangasem. Berdasarkan hasil penelitian Pande Wayan Tusan — seorang peneliti gamelan sakral selonding — dari Karangasem, di Seraya ditemukan selonding yang terpanjang di Bali. Bilah terpanjang ditemukan mencapai satu meter, lebih pendek dari bilah selonding yang ditemukan di Besakih.

Selain gebug Seraya atau gebug ende, tari ”perang” juga ada di desa adat lain di Karangasem. Tari perang itu malah lebih kental nuansa spiritualnya, sebagai tari wali yang sakral. Di Desa Pakraman Tenganan Pagringsingan ada makare-kare atau mageret pandan. Masyarakat luar desa setempat sering menyebutnya dengan ”perang pandan”. Mageret pandan itu biasanya digelar tiap tahun, sebagai tari wali saat upacara Ngusaba Sambah.

tatebahan2

Di Desa Pakraman Jasri ada yang disebut ter-teran, yakni saling lempar obor. Ter-teran digelar saat pangrupukan, sebagai wali saat ngalebar caru, sehari menjelang hari raya Nyepi. Di desa Bugbug ada tatebahan, yakni dua petarung saling pukul menggunakan pelepah daun pisang. Permainan itu digelar saat ada upacara tertentu di desa setempat. Menurut penuturan tetua setempat yang dikutip dari Lontar Purana Bangsul yang menyebutkan “Panunggalaning Wong Asta Dasa Bukit lan Wong Asti saling tanya (saling tebah) wekasan ana Aci Tatebahan”, Saat aci besar di Pura Gumang, ada juga jempana mapalu. Hal yang sama juga digelar di Desa Pakraman Bungaya, saat ngusaba dangsil. (bud), Bali Post 15032003

Posted by : I Wayan Ardika

5 thoughts on “Prajurit Kerajaan

    • Swastiasu… Bli Wayan Sumarna …

      Suksma atas komentarnya …
      Yening Bli Wayan medruwe postingan-postingan
      mengenai Bugbug, tiang dengan senang hati pacang ngunggahang …
      Dumogi Bli Wayan mangguh kesuksesan ….

      Suksma
      Ardika

      Suka

  1. Swastiastu Pak Wayan Ardika

    Salam kenal titiang Koyogan warga Seraya, Sukseme antuk postng tentang Seraya, mogi mogi pasawitran Seraya-Bugbug-Angan Telu Tetep raket ke pungkur wekas.

    Shantih shantih shantih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: