Karang Tua Ditinggal Penghuni

pasir-putih

Keterpanggilan orang Bali mengurus karang palekadan kini makin ringkih. Kebanyakan lebih memilih jalur hidup di luar rumah. Mengutamakan kepentingan pribadi. Begitu I Wayan Sucipta mengawali artikelnya pada Majalah Bulanan Sarad Bali edisi #107.

Ardi adalah anak tunggal dalam sebuah keluarga Hindu Bali yang menetap di dura desa, berprofesi sebagai dosen. Barangkali hidup sebagai anak laki satu-satunya dalam sebuah keluarga Hindu Bali di perantauan memiliki posisi seperti telor diapit batu. Disatu sisi dia bertanggungjawab atas pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari di dura desa, di sisi lain tanggungjawab yang besar pada karang palekadan, (baik hubungannya dengan keberadaan sanggah, maupun kegiatan menyama braya) membuat dia mesti lebih sering pulang ke rumah. Selain berurusan dengan urusan keluarga juga terikat kegiatan adat dan agama di desanya. Mengandalkan yang tinggal di rumah tuanya, jelas tak mungkin. Sebab yang ada hanya sang ibu sendirian. Bapaknya sudah meninggal cukup lama, ketika dia masih duduk di bangku kuliah. Makanya, terkadang dia bingung juga mengatur waktu. “Tapi, saya berusaha mengatur waktu agar semua kewajiban dalam hidup dapat dijalankan dan karang palekadan tak terbengkalai. Tanpa ada yang ngurus,” ujarnya penuh yakin.

Dilematis memang keadaan yang dialami Ardi. Nasibnya mungkin agak kurang beruntung dibandingkan dengan Wayan Arta Yasa. Pria asal Desa Kelawu, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Dia punya keluarga agak besar, sekalipun tinggal di Denpasar, toh masih bisa mengatur waktu dengan keluarga di rumah. “Kebetulan ada adik yang tinggal di rumah. Jadi dialah yang kami serahkan mengurus tanah palekadan beserta kewajibannya,” ujar ayah dua putri ini. Jika tak ada yang di rumah, dengan besar hati dia mesti kembali ke kampung halaman, mengurus rumah tua beserta keluarga lain.
Soal siapa yang penuh sadar mau mengurus rumah tua di kampung halaman, menjadi pancer di karang tua, tanah palekadan menjadi persoalan di Bali kini. Bagi mereka yang menyandang status anak laki satu-satunya di pekarangan tersebut, dilema hidup terus menghimpit, antara diam di rumah atau membiarkan karang palekadan plus ayah-ayahan (kewajiban di desa) tak ada yang melanjutkan. Sedangkan yang memiliki saudara banyak, terkadang ada kemalasan tinggal di rumah. Keturunan itu lebih memilih mencari kerja ke luar kampung. Mengutamakan kepentingan perut dan keluarga kecilnya tinimbang menjadi penanggungjawab pada keluarga besar.
Alhasil, ada beberapa karang palekadan tak terurus dengan baik. Dibiarkan menjadi ‘pesakitan’, atau diserahkan pada orang lain untuk memelihara. Seperti yang terjadi di Klungkung, sang pemilik yang keluarga tunggal lebih memilih tinggal di Denpasar. Keluarga yang sudah memiliki kedudukan penting di pemerintahan ini merasa sangat berat hati harus tinggal di desa. Hendak kembali ke kampung halaman.
Tentu ada beragam alasan menjadi pemicu. Selain kesibukan di Denpasar yang harus menyita waktu banyak, keluarga ini merasa tak kuat bolak-balik Klungkung – Denpasar. Anak-anaknya yang lahir dan besar di Denpasar juga kurang mampu beradaptasi dengan kampung kelahiran orangtuanya.

Keluarga ini pun merasa kurang mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Merasa terpinggirkan oleh warga kampung. Akibat lanjutannya, karang palekadan kurang terurus. Para leluhur di pamerajan yang sepatutnya mendapat perhatian penuh dari keturunan langsung, justeru diperhatikan oleh orang lain.
Di samping itu hubungan dengan masyarakat di desa juga semakin renggang. “Perubahan pola pikir dan cara pandang manusia tentang hidup dan kehidupan memang telah terjadi di dunia, termasuk di Bali. Dan itu amat dipengaruhi oleh perubahan global,” sodok dokter Sutrisna Widjaya.
Pendiri Lembaga Pengembangan Citra Diri (LPCD) Denpasar ini kemudian memaparkan bahwa hingga kini telah terjadi tiga tahap perubahan. Tahap pertama pada masa agraris murni termasuk di dalamnya petani berpindah-pindah. Saat ini orang-orang lebih cenderung hidup komunal. Segala sesuatu menjadi milik bersama. Persoalan satu orang bisa menjadi masalah bersama dan mesti dipecahkan orang banyak.
Nah pasca ditemukan mesin, masyarakat dunia temasuk di Bali mulai memasuki sistem industri. Pertanian dalam arti luas lebih-lebih yang mengandalkan cara-cara tradisional semata, ditinggalkan.
Peran industri ternyata bukan hanya mengubah profesi seseorang, pola pikir manusia juga ikut bergeser. Orang yang semula punya waktu cukup banyak bermasyarakat, kumpul bersama keluarga besar, perlahan mulai berubah dan kepentingan pribadi justeru semakin memperkokoh diri.
Terkait dengan pergeseran pola pikir dan laku manusia, Sutrisna kemudian mengutip satu pendapat yang terdapat dalam buku “Megatrend 2000” karangan John Naisbith dari negeri Amerika. Buku ini diterbitkan sekitar 20-an tahun lalu, tentang Futurology atau perkembangan dan ramalan jaman ke depan.

suksma

Dalam buku itu dijelaskan telah dan akan terjadi perubahan dalam segala bidang di dunia ini. Orang-orang yang dulunya bekerja sebagai petani, berkubang di sektor pertanian, sejak ditemukan mesin uap berubah menjadi industri. Perubahan selanjutnya yakni ke dunia telematika, komunikasi, dan jasa. “Perubahan itu juga telah memunculkan pergeseran dalam keluarga,” kata Sutrisna.
Orang-orang yang semula lebih memilih tinggal dalam satu keluarga besar, mulai banyak yang terpencar, memilih hijrah ke kota. Mengingat di perkotaan sektor industri terbuka lebar. Lapangan pekerjaan terbuka lebar. Akhirnya urbanisasi tak terelakkan.
Sifat individu semakin menjadi-jadi manakala sistem teknologi, telekomunikasi, dan jasa berkembang subur. Mereka yang tinggal di kota, nun jauh dari kampung halaman, lebih-lebih yang sudah dapat pekerjaan mapan, mulai enggan pulang kampung. Kalau toh mau menanyakan kabar keluarga, cukup lewat telekomunikasi. Tak perlu mesti bertandang.
Dia bisa saja beralasan tak cukup waktu untuk pulang. Mesti menyelesaikan tugas-tugas tertentu, sehingga perlu kerja keras. Pada akhirnya, tanggungjawab di tanah palekadan bisa saja terlupakan.
Sementara keluarga yang tinggal di desa semakin sulit berkelit. Terus terjepit. Hendak ikut-ikutan ke luar mencari kerja, demi mementingkan isi perut, jelas tak mudah dilakukan. Mereka di samping terbelenggu tanggungjawab individu juga terkungkung urusan-urusan sosial lain. Harus menjaga keberlangsungan denyut kehidupan dalam keluarga besar termasuk memelihara pamerajan agung serta memikul tanggungjawab dalam kehidupan masyarakat adat.

Berbeda bagi yang tinggal jauh dari desa, tak bersentuhan langsung dengan masyarakat dan kegiatan adat. Pergerakan mereka tentu lebih leluasa, relatif longgar dalam upaya memenuhi kepentingan individu. Kalau toh harus pulang ke kampung halaman, hanya sesekali waktu, ketika ada warga meninggal dunia atau pas ada piodalan di tempat suci.

banner-good1

Posted by : I Wayan Ardika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: