Bugbug yang Penuh Keunikan

sumbu

Desa Bugbug yang Penuh Keunikan
Sebuah Kenangan Pelayanan Sosial Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

PADA umumnya pelanggaran tata ruang terjadi di daerah perkotaan dan di daerah transisi, akibat dari berbagai kepentingan dan pengawasan yang tidak optimal oleh lembaga lembaga pengawas. Salah satu contohnya adalah adanya keinginan beberapa pihak untuk melakukan penggeseran terhadap patok daerah jalur hijau sehingga ruang jalur hijau menjadi lebih sempit. Jika hal itu benar-benar terjadi, bagaimanakah nasib tata ruang Bali ke depan ?
Jika keinginan serta pikiran oknum kapitalis itu diikuti oleh masyarakat Bali baik di kota maupun di desa yang masih kuat memegang adat istiadatnya, maka sudah dapat dibayangkan kerusakan alam pulau Bali. Tetapi jangan khawatir dengan hal itu, karena masih banyak masyarakat Bali yang taat memegang tradisi kebersamaan dengan cara mengelola perkembangan desanya dengan tetap mempertahankan keaslian lingkungan desa.

Meskipun desa-desa tua telah mengalami banyak tekanan, baik berupa peningkatan jumlah penduduk dan kemajuan teknologi, tetapi masyarakat desa tetap berpegang teguh pada kearifan lokal, adat istiadat, dan budaya yang berbasis pada kehidupan agraris. Kajian pengembangan desa-desa tua itu dilakukan berdasarkan hasil dokumentasi dan telaah tim pelayanan sosial dosen dan mahasiswa Fakultas Teknik (FT)  Unwar, yang diserahkan di Desa Bugbug, Karangasem. Kegiatan pengabdian mahasiswa meliputi pendokumentasian dan pendataan permukiman. Sedangkan dosen melalukan studi pola permukiman dan perubahannya serta membuat buku elektronik, yang selanjutnya akan dikembangkan dalam buku besar mengenai desa-desa tua di Bali, seperti halnya Desa Tenganan Pagringsingan, Bungaya, Sidatapa, dan desa-desa tua lainnya.

Penyerahan hasil berupa 4 buah buku laporan dokumentasi dan 4 buah banner dilaksanakan Sabtu, 29 Septmber 2007 oleh Dekan FT. Unwar Ir. A.A. Gd. Sumanjaya, M.T. kepada Penyarikan Gede Desa Bugbug I Wayan Wirna, serta Pengelingsir Pura Andakasa I Ketut Dresta. Menurut pemuka adat Desa Bugbug, kegiatan pendokumentasian ini sebenarnya sudah merupakan rencana dari krama Desa Bugbug baik yang ada di desa maupun yang di rantau dalam parum desa. Tetapi belum bisa terlaksana, sehingga sangat beruntung FT. Unwar bisa memulainya, sehingga akan sangat berguna bagi desa saat ini dan kepada anak cucu di kemudian hari sebagai landasan tertulis yang mudah dimengerti.

Tulisan ini akan menjadi dasar acuan awal untuk memulai rencana pendokumentasian selanjutnya. Jika kelak ditemukan sumber data lain, maka laporan hasil yang telah diserahkan dapat direvisi atau disempurnakan. Usulan di atas, menurut Ketua Pelayanan Sosial V Dr. Ir. I Wayan Runa, M.T., didasarkan atas hasil kajian yang telah dilaksanakan pada desa-desa tua yang masih kuat adat istiadatnya seperti Desa Tenganan Pagringsingan, Desa Bungaya, dan segera akan dilaksanakan di desa tua lainnya di Bali. Kegiatan pelayanan sosial merupakan program wajib dalam kurikulum Fakultas Teknik Universitas Warmadewa tahun 2007 yang baru saja disahkan. Kegiatan itu dimaksudkan untuk ikut serta menjaga kelestarian budaya dan tata ruang Bali yang adi luhung, agar jangan sampai mengalami degradasi akibat kepentingan sesaat kaum opurtunis pembawa investor dengan dalih pariwisata dan peningkatan ekonomi kerakyatan.

(r/*) BP/11102007, Posted by : I Wayan Ardika


2 thoughts on “Bugbug yang Penuh Keunikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: