Tatebahan ….

tatebahan21

Tradisi di Desa Bugbug
Berpasang-pasangan, Perang dengan Pelepah Pisang.

“Panungalaning Wong Asata Dasa Bukit lan Wong Asti, saling tebah, wekasan ana ACI TATEBAHAN”.

WARGA desa tua Bugbug,  Karangasem, punya tradisi ritual unik dalam mengucapkan syukur atas keberhasilan panen mereka yang melimpah ruah.  Usai ngebet dan memasak hasil bumi seperti ketela dan palawija,  mereka makan bersama.  Usai makan laki-laki dewasa berpasangan saling serang,  saling pukul dengan menggunakan pelepah pisang.

banner good

Ritual itu digelar rutin tiap tahun di areal Bale Agung desa pakraman setempat,  sebagai salah satu prosesi Aci Tatebahan.  Tahun ini kata Klian Desa Pakaraman Bugbug Jero Wayan Mas Suyasa, S.H.  Aci Tatebahan itu digelar bertepatan Purnama Jiesta.

image009

Perang pelepah pisang ini tampaknya tradisi yang maknanya hampir sama meski caranya berbeda dengan di desa tua lain di Karangasem.  Di desa pakraman Tenganan Pagringsingan atau Tenganan Dauh Tukad ada tradisi mekare-kare (perang pandan), ter-teran (perang api di Jasri) atau gebug ende di Seraya.
Perang pelepah pisang diikuti lelaki tua atau muda, dilakukan dua orang berpasangan yang umur dan perawakannya seimbang.  Dikatakan, permainan mereka juga fair, lima kali memukul akan dibalas dengan lima kali juga.  Satu lawan satu, perwakilan dari 11 banjar adat di desa Bugbug. Petarung tanpa berpakaian atas.  Mereka cuma maseet ginting, saput poleng dan kamen (sarung).  Permainan dipimpin seorang saya atau juru kembar, yang merupakan prajuru desa.  Pertarungan usai jika pelepah pisang di tangan sudah hancur atau salah satu ada yang menyerah kewalahan dengan tanda senjata pelepah pisanyanya lepas atau dilemparkan ke tanah. Jika ada badan petarung terluka atau memar, cukup diperciki tirta.  Obat penyembuh dimohonkan dari Ida Bathara yang berstana di Pura Desa setempat.

image001

Ritual Aci Tatebahan itu dimulai dengan memasak hasil bumi yang dibawa krama desa sebagai papeson (punia).  Bahan makanan yang dimasak berupa hasil bumi seperti ketela pohon, ketela rambut atau umbi-umbian, buah-buahan (pala gantung lan pala bungkah, serta pala wija).  Tak boleh menggunakan nasi beras atau lauk dari ikan atau daging.  Nasi beras, digunakan atau diganti dengan masakan (nasi) dari umbi-umbian, seperti ketela pohon atau ketela rambat.  Masakan itu pun disantap bersama (magibung).  Maknanya sebagai ucapan syukur atas karunia Tuhan dengan hasil panen melimpah.  Desa Bugbug dikelilingi bukit. Di bukit itulah, umumnya hasil bumi itu ditanam penduduk dan tumbuh subur. Sumber : Budana, BP. 0705 : 2014.

Posted by : I Wayan Ardika

One thought on “Tatebahan ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: