Salonding & Gambang Sane Ngelangunin

gumanghill18

FILOSOFI SALONDING DALAM TATWA HINDU

Bila ditelusuri lebih jauh tentang keberadaan Gamelan Salonding dari masa ke masa, ternyata konteks penggunaannya tidak pernah lepas dari kegiatan-kegiatan keagamaan masyarakat Bali, baik dari kebesaran Jaman Bali kuno, sampai pada akhir abad XX ini gambelan Salonding itu tetap mendapat tempat yang paling sakral dalam upacara agama. Berbicara dengan Hinduisme, tidak bisa kita mengabaikan keterkaitannya dengan Weda karena Weda yang diyakini sebagai sabda Suci Tuhan yang bersifat Anadi, Ananta dan Nirwikalpa yang telah diterima oleh Maha Rsi dan menjadi sumber ajaran Agama Hindu memberikan vitalitas, yang mengaliri dan meresapi seluruh aspek Hinduisme bila diibaratkan sebagai Api Hindu adalah sebagai wujud yang menyala dan Weda itulah panasnya. Menurut ajaran Weda, Theologi Hindu menyebutkan bahwa Pranawa atau OMKARA itu sebagai Nyasa untuk mewujudkan Tuhan Yang Maha Esa yang trasendental pada dunia immanent yang terbatas. Beliau meraga acintya (tak terbayangkan) diwujudkan dengan wijaksara OMKARA secara konseptual dalam Narayana Upanisad tentang Wicaksara Om itu tersendiri dari tiga matra, yaitu A kara sebagai Brahma , U- kara sebagai Wisnu, dan Ma – Kara sebagai Mahadewa Iswara. Bila ketiga Ma yang disebut juga Sang yang Triaksara ini adalah esensi dari hakekat unsur OMKARA itu sebagai Nyasa dari Prabawa Tuhan yang Esa.

Umat Hindu memuja kepada Tuhan Seru Sekalian Alam menyeru dengan puja OM. Hakekat dari pemujaan tersebut, adalah dalam rangka pendekatan diri antara yang memuja dengan Sang Pujaan. Dalam kontek pemujaan ini, diisyaratkan semakin suci yang memuja, Sang Pujaan akan nampak lebih jernih. Secara implisit Mpu Kanwa melukiskan situasi bagaikan melihat bayangan bulan yang dilihat dalam tempayan yang berisi air semakin jernih airnya makin bersihlah bayangan bulan itu, (Lontar Arjuna Wiwaha) Pendekatan ini merupakan suatu langkah awal penyatuan Atman dengan Paramatman, sebagai tujuan akhir dari Ajaran Agama Hindu, yakni Moksa. Dalam Kidung Coak pembebasan terakhir itu dilukiskan pada sebuah kalimat sederhana yang berbunyi Toyane sendok ban toyo dan temboke bah dadi gumi.

Itulah prosesi pemujaan Umat Hindu kepada Tuhan yang diwujudkan dalam OMKARA, dipuja dan diseru dengan Puja Om yang kudus itu, hubungan dengan Selonding bahwa Selonding itulah penjabaran dari suaranya Pranawa (OM) itu.

Suara Salonding Sakral sebagai Suara Pranawa. Gambelan Salonding adalah gambelan Kuno yang paling sakral dalam melengkapi upacara keagamaan (Hindu) di Bali yang berlaras pelog Sapta Nada, contohnya seperti Selonding yang ada di Trunyan, di Bugbug, Tenganan, Ngis Selumbung , Timbrah, Asak, Bungaya, Besakih, Selat, Bantang dan lain-lainnya.  Dalam konteks Desa Adat Bugbug, Selonding (yang disimpan di dekat Pura Piit Bugbug) ini selalu mengiringi prosesi upacara besar di Pura-pura di Bugbug, seperti Usaba Sumbu dan rangkaian Usaba Gumang di Bukit Juru.  Para penabuhnyapun bukanlah orang sembarangan.

Anak Bali Jegeg sajan

Menurut Lontar Prekempa bahwa semua tetabuhan atau gambelan lahir dari suaraning Genta Pinara Pitu, Suaraning Genta Pitara Pitu adalah suara sejati yang berasal dari suaranya alam semesta atau bhuana, suara suara yang utama yang berasal dari suaranya semesta itu ada tujuh suara banyaknya yang disebut dengan sapta suara. Suara ini berasal dari Akasa disebut Byomantara Gosa. Ada pula suara yang disebut Arnawa Srutti yaitu suara yang keluar dari unsur Apah. Yang lain ada disebut dengan Agosa, Anugosa, Anumasika dan Bhuh Loko Srutti. Yang terakhir disebutkan suara yang keluar dari unsur Pertiwi.

Sapta suara yang merupakan inti dijadikan sebagai sumber yang dihimpun oleh Bhagawan Wismakarma menjadi Dasa Suara, yaitu lima suara Patut Pelog sebagai Sangyang Panca Tirta dan lima Suara Patut Selendro sebagai Pralingga Sangyang Hyang Panca Geni. Unsur Dewata yang merupakan Prabawa dari Yang Maha Tunggal yang melingga pada Dasa Suara yang dihimpun menjadi Gegambelan.

Selonding merupakan gamelan Bali yang usianya lebih tua dari gamelan-gamelan yang kini populer dipakai dalam kesenian maupun dalam upacara adat dan agama. Tidak semua desa di Bali memiliki budaya yang dekat dengan jenis gamelan ini, kecuali beberapa desa tua di belahan selatan dan timur pulau Bali, seperti Bugbug, Tenganan, Bungaya dan Timbrah dan Asak, Ngis.

Tidak seperti gamelan lainnya yang bilah-bilah perunggu digantung dengan tali sapi pada badan gamelan, pada salonding bilah-bilah perunggu bahkan yang lebih tua bilah bilah besi diletakkan dengan pengunci secukupnya di atas badan gamelan tanpa bilah resonan (bambu resonan) seperti jenis gamelan saat ini. Dengan suara yang khas, salonding dengan nada klasiknya mengiringi penari rejang dalam “mesolah” persembahan tari dalam upacara yadnya di desa desa tua seperti Tenganan, Bugbug, Asak dan beberapa desa di belahan timur pulau Bali.

Saat ini, gamelan salonding seakan yang dengan tabah mengiringi yadnya sejak ratusan tahun lampau, tidak pernah dilirik sedikitpun oleh generasi muda untuk memukul bilah-bilahnya. Pemukul salonding yang sudah berusia lanjut seakan tak berdaya untuk menarik para pemudanya untuk menggantikan dirinya, karena generasi penerus lebih senang hidup mengikuti gaya hidup modern atau yang tertarik lebih senang memukul bilah-bilah gamelan gong kebyar atau menggebrak drum dan memetik dawai gitar yang lagi populer dan ngetop.

Siapakah yang akan melanjutkan memukul bilah-bilah salonding jika keadaan tetap seperti ini? Gemerlap pesta kesenian Bali dengan lomba gong kebyarnya seakan sedetikpun tak menoleh pada salonding. Ataukah salonding ingin dibiarkan menghilang karena peralatan tua harus segera diganti dengan Gong Kebyar atau perlengkapan band lainnya ?

Bagaimana dengan yadnya yang diiringi oleh salonding harus diganti dengan kebyar, lenggak lenggok penari rejang klasik diganti dengan rejang dewa atau kontemporer?

Salonding menunggu generasi muda, siapa?  Demikian Wiryana dalam blognya mempertanyakan peranan generasi muda akan kegigihan mereka mempertahankan seni budaya warisan para leluhur. Ya, kami di Krama Purantara di Denpasar bergerak guna menjawab akan keraguan ini. Beberapa generasi muda sudah kami kumpulkan dan berdasarkan keputusan Ketua IWB Denpasar, sekaa gong “Selonding Gumang” sudah terbentuk. Walaupun seperangkat gong masih status pinjam sewa dari Krama Purantara Ngis di Denpasar, tidak menyurutkan kami untuk berlatih berbagai tetabuhan wali yang mengiringi berbagai upacara di Desa Adat Bugbug. Di bawah asuhan I Wayan Sarya dan I Ketut Tak“Selonding Gumang” siap ngayah membantu (jika diinginkan, tan mabuaka) penabuh asli yang merupakan pengayah dengan jam terbang yang sangat panjang dalam pelbagai kesempatan wali guna mengawal dan mengiringi upacara yang dilaksanakan di Desa Adat Bugbug.

GAMBANG :

Daftar Pustaka : Selonding, Karya : Pande Wayan Tusan
Posted by I Wayan Ardika

3 thoughts on “Salonding & Gambang Sane Ngelangunin

  1. Suatu usaha yang sangat terpuji, smoga pemuda semakin banyak menyadari akan posisinya dalam budaya Bali, Budaya yang adi luhung mesti selalu diberi apresiasi terutama oleh masyarakatnya sendiri.

    Suka

    • Melarapan galah puniki, angayu bagya pisan dumadak keicen sinar suci saking Ide Sanghyang Widhi Wasa, mangdening “kebesaran Jaman Bali Kuno” Keangkering ring Generasi muda mangkin,……. Susma Ttiting Saking Desa Ngis – Medewa Bareng

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: