Ajeg Bali utawi Rajeg Bali ?

telaga kauh

MERUNUT AJEG BALI, ADA PARALELITAS GERAKAN AJEG BALI KINI DENGAN MASA 1930-1999

Dalam berbagai kesempatan obrolan, baik di warung yang ada di Teba Kauh maupun di Teba Kangin, perbincangan sambil matetekan saat kundangan hingga diskusi di Facebook yang mengambil topik tentang kasta, prosesi pengabenan, atribut-atribut kasta, Ajeg Bali, banyak kalangan begitu bersemangatnya menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya. Begitu pula adanya perdebatan mengenai kasta dan adanya polarisasi dalam pemaknaan adat dan tradisi yang terdikotomi antara kelompok yang mempertahankan tradisi di satu sisi dengan kelompok yang menginginkan perubahan dengan dalih perubahan dan adaptasi terhadap perkembangan jaman di sisi lainnya. Walaupun masih dalam tataran diskusi di bale banjar, fenomena ini juga berkembang di sebagian kalangan masyarakat Bugbug baik purantara maupun yang berdomisili di Bugbug sendiri.

Menanggapi fenomena ini ada baiknya kita kaji pendapat Dosen Ilmu Sejarah Unud yang kini berburu gelar doktor di UGM Yogyakarta, menggugat banyak hal dalam Seminar Seri Sastra Sosial Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Ia, misalnya, mengakui gerakan Ajeg Bali dengan serentetan kegiatannya pasca Bom Legian 12 Oktober 2002 sampai kini masih bisa disebut sebagai gerakan revitalisasi. Sebab, katanya, gerakan itu merupakan upaya yang dilakukan secara sadar dan terorganisir untuk membangun budaya yang lebih memuaskan. “Tapi ada kekeliruan mendasar dalam konsep Ajeg Bali itu,” katanya. Yang ia maksud tak lain dari kata “Ajeg”. Menurutnya, kata itu memunculkan konotasi kemandekan, kebekuan, dan statisme. Untuk itu ia mengusulkan kata “Rajeg” yang sepadan dengan kata recovery yang bisa berarti penyembuhan, penemuan kembali, atau kebangkitan. “Mana ada orang Bali menggunakan nama Ajeg? Kita bisa menemukan ratusan nama Rajeg,” katanya dengan nada lucu.

Dengan lugas Wijaya menunjuk globalisasi sebagai salah satu pemicu munculnya gerakan Ajeg Bali. Globalisasi-lah yang “memunculkan” konsolidasi tatanan sosial dengan menjadikan tradisi sebagai pemeran utama. Tradisi yang dianggap adiluhung dibangkitkan dan ditanamkan kembali. Gejala ini, menurut Wijaya, terlihat jelas dalam implementasi gerakan Ajeg Bali. “Gerakan ini juga bisa dikategorikan sebagai gerakan retradisionalisasi yang lahir sebagai akibat dari implikasi sosial dan modernitas kebudayaan,” tandas Wijaya. Fenomena pentradisionalan kembali ini terlihat dalam bangkitnya aliran kepercayaan, pemakaian lambang-lambang tradisional di kalangan masyarakat, dan pembentukan lembaga-lembaga kekeluargaan.

Selain itu, gerakan Ajeg Bali juga memunculkan fundamentalisme, yakni suatu gerakan yang ingin menekankan kemurnian sejumlah doktrin yang telah dibentuk, bukan karena hanya ingin memisahkan diri dari tradisi lain, tetapi juga penolakan terhadap suatu model kebenaran yang ada kaitannya dengan keterlibatan ide-ide secara dialogis di masyarakat.

Yang menarik, Wijaya mencoba membuat garis sebab-akibat dari gerakan Ajeg Bali dengan serentetan kejadian di masa lalu. Ia pun menyodorkan bukti-bukti kejadian antara tahun 1930 hingga 1999. “Pada masa itu terlihat dengan jelas ada keinginan warga masyarakat Bali membangun budaya yang lebih memuaskan,” ungkap Wijaya dalam makalah berjudul “Gerakan Revitalisasi: Perubahan Budaya dan Masyarakat Bali 1930-1999”. Gerakan itu selalu melahirkan pemikiran-pemikiran keagamaan baru yang mendorong munculnya praktik-praktik keagamaan baru, dan menjadi bagian dari kebudayaan Bali baru.

Pembangunan kebudayaan Bali baru itu dimulai dari mempelajari agama Bali secara lebih mendalam langsung dari sumber ajarannya, yakni Veda, terutama yang termuat dalam lontar-lontar. Naskah-naskah pilihan dalam lontar diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, dibukukan, dan dijual melalui harian Bali Adnjana yang terbit sejak Januari 1924. Proses pembelajaran agama melalui buku-buku itu dan pertemuan orang Bali dengan teosofi, meluaskan pengetahuan masyarakat mengenai agama-agama dan kemudian melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Pemikiran-pemikiran relijius yang menonjol pada masa 1920-an di antaranya adalah pemisahan antara ajaran yang bersifat sakral (bersumber pada Veda) dan yang profan (hasil rekayasa sosial politik), seperti ide tentang roh dan jiwa, awal mula terciptanya mitos (terutama kasta) dan dewa-dewa; berbagai bentuk ritual seperti larangan-larangan (tabu-tabu), kepercayaan, kehidupan para dewa, penghormatan kepada roh leluhur, dan upacara kematian.

Itulah yang mendorong praktik-praktik keagamaan baru yang menjadi bagian dari kebudayaan Bali baru. Salah satu bentuk kebudayaan itu adalah munculnya pemikiran para intelektual untuk membentuk masyarakat egaliter, masyarakat yang status sosial para warganya tidak diatur berdasarkan kasta, melainkan kewajiban atau profesi dalam kehidupan (dharma). Salah seorang tokoh egaliterisme tahun 1920-an itu adalah I Nengah Merta. Namun, di pihak lain ada kelompok yang tetap ingin mempertahankan kebudayaan Bali lama. Perbedaan pandangan itulah yang terekam dalam polemik antara kelompok Bali Adnjana melawan Surya Kanta (keduanya media cetak) pada tahun 1924 hingga 1927. Semangat egaliter itu kemudian dihancurkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1930.

NAIK KASTA ALA RAAD VAN KERTA

Tampaknya Nyoman Wijaya memandang “kasta” sebagai icon sangat penting dalam pergulatan perubahan kebudayaan di Bali. Ia tampak sangat “senang” membicarakannya dalam Seminar Seri Sastra ini. Ia memulai “cerita petualangan”-nya dengan mengungkap politik kasta ciptaan kolonial Belanda. Tahun 1910, misalnya, seorang administrator bernama J. Fraser mengakui, masyarakat Bali bersifat egaliter. Namun, menurutnya, akan lebih menguntungkan secara politis (untuk Belanda, tentu) jika sistem kasta dipertahankan, sebab hal itu akan mebuat para bangsawan (sebagai penjaga ketertiban politik ala Belanda) tidak tersingkir dari lingkungan sosialnya. Untuk itu, melalui sebuah konferensi yang berlangsung 15-17 September 1910, Belanda merekonstruksi sistem kasta baru dengan golongan triwangsa di atas sudra. Sistem kasta ciptaan Belanda itu sangat tertutup dan kaku, mengabaikan mobilitas sosial vertikal yang pernah terjadi di zaman kerajaan. Bukti ketertutupan itu adalah digunakannya produk hukum peninggalan Majapahit untuk menangani kasus-kasus yang muncul akibat interaksi antarkasta. Produk hukum itu adalah “Kitab Hukum Agama” bersumber dari kitab-kitab hukum zaman kerajaan seperti Agama, Adi Agama, Purwa Agama, Kutara Agama, dan lain-lain. “Kitab Hukum Agama” itulah yang dijadikan acuan oleh Raad van Kerta (lembaga pengadilan kolonial).

Norma baru itu pertama kali diterapkan dalam pengaturan sistem kerja rodi. Di sana ditetapkan, kaum triwangsa mendapatkan hak-hak istimewa berupa tugas-tugas ringan seperti kurir. Sedangkan kelompok sudra harus membanting tulang mengambil pekerjaan berat selama 36 hari dalam setahun tanpa bayaran sepeser pun. Golongan Pande Wesi di Desa Beng, Gianyar, yang oleh Raja Gianyar dipaksa mengakui dirinya sebagai sudra, merasa sangat dirugikan oleh aturan kacau itu. Mereka pun protes dan mengirim surat berbahasa Melayu kepada Resident Bali dan Lombok. Mereka minta agar status mereka dikembalikan ke posisi setara dengan Brahmana dan berhak menggunakan sismbol-simbol ke-Brahmana-an. Gerakan Pande Wesi Desa Beng ini memberi inspirasi kepada kaum sudra lainnya. Mereka ramai-ramai datang ke Raad van Kerta yang memiliki kewenangan untuk menaikkan atau menurunkan status orang. Salah satu cara bagi sudra untuk naik menjadi triwangsa adalah dengan “menggandeng” saksi dari golongan triwangsa. Lucunya, kesaksian itu cukup dibuktikan dengan kesediaan sang triwangsa makan satu piring dengan si sudra atau bertukar makanan sisa di muka Raad van Kerta.

“Bisa dibayangkan, bagaimana kacaunya sistem kasta saat itu. Sangat banyak kaum sudra yang tiba-tiba menjadi triwangsa,” urai Wijaya sambil tertawa kecil.

BELANDA OGAH OGAH JEMBATAN JAWA BALI

Menolak kehadiran jembatan penyeberangan antara Jawa dan Bali bukanlah wacana baru. Nyoman Wijaya mencatat, sekitar tahun 1920-an kolonialisme Belanda menyatakan dengan tegas tak akan membangun jembatan penyeberangan Jawa-Bali. Mereka bahkan berencana hendak memperdalam dan memperlebar selat yang memisahkan kedua pulau. Alasannya jelas, agar pengaruh Islam dan nasionalisme (dua kelompok yang dianggap menjadi ancaman paling serius bagi penjajahan Belanda) tidak dengan mudah memasuki Bali. Dengan demikian kontrol pemerintah terhadap rakyat tetap kuat.

Untuk tujuan kekuasaan seperti itu pulalah, pada tahun 1930-an, semangat egaliter yang sedang tumbuh di Bali dihancurkan oleh pemerintah Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menghidupkan kembali hak-hak tradisional penguasa lokal dan memberlakukan Baliseering yang bertujuan mengarahkan pengaruh-pengaruh asing ke “arah yang benar”. “Caranya adalah mengajak warga masyarakat Bali mempelajari kembali unsur-unsur kebudayaannya seperti arsitektur, sastra, lukisan, dan nyanyian,” tutur Wijaya. Semua itu dilakukan oleh Belanda karena mereka tidak ingin sejarah Jawa terulang di Bali.

Masuknya agama Nasrani —yang juga dibendung oleh Belanda— pada tahun 1931 melalui penginjil asal Cina, Tsang Kam Fok, menjadi titik tolak solidaritas membela Bali. Hal ini ditandai dengan meningkatnya semangat beragama (Hindu). Generasi muda mulai mencari penjelasan tentang agamanya, upacara puji syukur diadakan atas keberhasilan suatu usaha, upacara agama, arak-arakan, pembakaran mayat, pementasan tari dilaksanakan dengan meriah, seni lukis dan pahat bekembang dengan pesat, jalan menuju Pura Besakih dibangun untuk memperlancar upacara panca walikrama dan ngenteg linggih pada tahun 1933. Inilah yang oleh R. Goris disebut sebagai renaissance (kebangkitan kembali) kebudayaan Bali.

Posted by : I Wayan Ardika

One thought on “Ajeg Bali utawi Rajeg Bali ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: