Upacara Ini Upacara Itu

Penjor Galungan

Banyak orang menyesalkan, mengapa orang Bali sudi menghabiskan seluruh hidup untuk upacara adat dan agama. Kegiatan itu dinilai menghabiskan banyak uang, membuang banyak tenaga, menyebabkan mereka kehilangan kesempatan untuk bersaing dan maju. Penyadaran tentang hal ini terus menerus dilakukan, agar orang Bali sudi memanfaatkan lebih banyak uang buat tujuan-tujuan produktif, seperti membeli bibit atau buat biaya sekolah anak-anak mereka ke pendidikan tinggi.  Begitu Aryantha Sutama di Nusa Bali 23 Aug 2009 menyampaikan artikelnya.

Ya.., tak terhitung memang banyaknya jenis upacara adat dan agama di Bali.  Kalau dicermati, selalu muncul jenis upacara baru, yang sebelumnya tak pernah dilakukan. Selalu ada kelompok orang yang seolah-olah tugasnya mencari-cari dan menciptakan jenis upacara baru Itu. Tapi pada saat bersamaan muncul pula kelompok yang gigih berusaha agar beberapa jenis upacara itu ditiadakan atau disederhanakan saja. Tidak berlebihan kalau ada yang berkomentar, di Bali selalu ada polemik hangat, kadang sengit, tentang upacara-upacara tersebut. Mereka yang ngotot dan fanatik sama kuat dengan mereka yang berprinsip upacara itu cuma sarana saja, dia bisa dibuat mewah, tak apa pula kalau dibikin sekadarnya.

Entah berapa ratus kali seorang manusia Bali melakoni langsung berbagai ragam upacara sejak ia lahir sampai mati. Bisa diterima jika muncul pendapat, orang Bali itu adalah manusia upacara. Usai melakukan upacara ini, tak lama lagi ia akan melakoni upacara itu. Jika ada yang bertanya, dalam urusan apa orang Bali paling sibuk, jawaban paling jitu adalah, ya melakukan upacara ini dan upacara itu. Sementara bangsa-bangsa lain ada yang sibuk plesir, ada pula yang sibuk berdagang, ada bangsa-bangsa yang suntuk meneliti dan belajar, sehingga mereka menjadi manusia manusia penemu, pelopor dan pembaharu.

Dalam berbagai seminar, di bermacam-macam darmawacana, selalu dibahas tentang bagaimana caranya membentuk agar orang Bali mengurangi kegiatan upacara ini upacara itu. Gagasan yang paling sering muncul, dan didukung oleh banyak kepala, adalah dengan meningkatkan pendidikan dan pengetahuan. Konon jika pemahaman manusia Bali tentang filsafat atau tattwa meningkat, mengenyam pendidikan tinggi, dengan sendirinya mereka akan mengurangi kegiatan upacara. Sejak lama selalu didengung dengungkan mari meningkatkan tattwa, ayo kuliah tinggi-tinggi jadi master, doktor, dan profesor agar kita sibuk mengurus ilmu, penelitian dan beringsut dari kegiatan adat dan agama yang dijejali upacara.

Kemudian, banyak orang Bali tekun belajar agama, anak-anak dimasukkan ke pesraman untuk mendalami etika dan pilsafat. Mereka memburu intisari agama, menelusuri inti dan jati diri. Mereka juga tekun memburu pengetahuan di sekolah formal, menjadi juara di kelas, meraih award ilmu, menjadi doctor, menulis tesis dan desertasi. Yang lain berusaha menjadi pengusaha, memburu untung. Alkisah semakin banyak manusia Bali yang sukses. Mereka berhasil menjadi pintar, cakap mengurus hidup, dan punya duit banyak. Apakah orang-orang terdidik ini, dengan pengetahuan tinggi, cerdas dalam filsafat, sudi meninggalkan hiruk pikuk upacara ?, ternyata tidak.

Tersebutlah seorang Bali, dulu miskin. Karena bersekolah, ia meraih sarjana, bergelar doctor punya kesempatan untuk mendapat uang lebih. Istrinya juga berhasil jadi pedagang. Dulu ia cuma bisa beli mobil bekas. Jika Tumpek Landep, saat membuat sesaji untuk perabot, barang-barang industri, mobil dan motor, ia cuma menghaturkan sesaji satu ngiu, seperlunya dan secukupnya. Sekarang, ia punya sembilan mobil, dua mobil pribadi, tujuh mobil perusahaan istrinya. Mereka tumbuh menjadi keluarga cakap, cerdas, berpendidikan dan kaya. Jika Tumpek Landep ia menghaturkan dua belas babi guling untuk computer, mobil, motor dan mesin-mesin di pabrik mereka. Seluruh karyawan hadir dalam upacara itu, pelanggan di undang, gamelan ditabuh, topeng dan wayang dipertunjukkan. Ternyata pendidikan tinggi, pengetahuan luas, justru mebuat orang Bali kian mewah dan meriah dengan upacara.

Seorang sahabatnya bertanya, untuk apa upacara sebesar itu setiap tujuh bulan saat Tumpek Landep ? Bukankah upacara-upacara lain sudah sering dilakukan ? Laki-laki itu menjawab ; kurang pantas dan terkesan pelit jika punya banyak uang tapi berupacara nista. Upacara besar menjadi saat untuk berbagi rezeki dan kenikmatan, orang-orang sekitar jadi ikut senang.

Sabahatnya tentu tak setuju. Sebab ia tahu persis istri lelaki itu, pemilik pabrik besar, bukan pengusaha yang berjiwa social. Karyawannya bergaji kecil, dan tak sudi meminjamkan uang buat membantu sekolah anak-anak karyawan. Bagi sahabat itu, sesungguhnya upacara besar lebih mencirikan kesempatan untuk pamer tinimbang berbagi kebahagiaan. Sebuah peluang buat menepuk dada menunjukkan, dulu memang aku miskin, sekarang sudah kaya raya. Nih lihat aku hebat kan ?

Upacara ini upacara itu entah kapan akan berkurang, jika telanjur orang Bali senang pamer ? Atau jangan-jangan upacara ini upacara itu akan abadi, karena orang Bali bangga di beri label sebagai manusia upacara.

Posted by : I Wayan Ardika

3 thoughts on “Upacara Ini Upacara Itu

  1. Om Swasty Astu,
    Pada menawadharmasastra telah disebutkan dharma disangga oleh empat pilar, dan jaman atau kala dibagi menjadi empat yuga, yaitu kretayuga, tretayuga, dwiparayuga dan kali yuga. setiap pergantian jaman terjadi penurunan seperempat pelaksanaan dharma. pada jaman kretayuga tapa yang paling diutamakan, pada tretayuga jnana yang utama, jaman dwipara yadnya paling utama dan pada jaman kaliyuga arta yang paling utama. konon sekarang adalah jaman kali terlihat artalah yang dikejar dan yang dipakai untuk mencapai tahta. Berhubungan dengan tulisan saudara I Wayan Ardika tentang upacara ini upacara itu masih banyak dilakukan oleh umat Hindu di Bali baik orang kaya maupun orang tidak mampu, sepantasnya kita tetap mendukung dan melestarikannya agar pilar dharma (tapa, jnana, yadnya dan arta) tetap lestari pada setiap jaman yang tentunya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi (desa kala patra).
    Suksme, Om Canti Canti Canti Om.

    Suka

  2. Dalam ukuran upacara di hindu sellau ada 3 tingkatan dan tidak pernah dalam kitab kita diharuskan untuk mengikuti apa yang di muat dalam kitab hindu. Selalu tingkatan upacara itu ada yang Nista,Madia,Utama dan masing2 dari ketiga bagian itu juga dibagi menjadi 3 tingkatan lagi seperti misalnya Nista bisa dibagi lagi menjadi Nistaning nista,nistaning madia dan nistaning utama ,nah sekarang kembali lagi kepada anda yang mau berkorban maupun ikhlas melakukan persembahan, mampunya seperti apa namun banyak karena adat dan juga karena gengsi akhinya mengharuskan diri untuk membuat upacara yang berlebihan sehingga menghabiskan dana ataupun sampai berhutang untuk upacara, nah ini yang mesti dipikirkan dan dicermati seperti apa dan bagaimana seharusnya kita.
    Ada dalam kita veda dimana disebutkan (maaf saya tidak bis ammebaca kitab veda tetapi saya pernah diceritakan sedikit isi di dalamnya) dimana sebesar apapu pengorbanan anda dalam upacara atau membuat banten sebanyak mungkin tapi kalau tidka ikhlas maka akan tidak akan ada artinya, lebih baik hanya dengan sebait mantra atau ucapan terima kasih dan mantra yg panjang juga tidak akan berguna kalau hati tidka bersih. Nah dari isni saya belajar semua tergantung :hati yg ikhlas” . Ini yg sangat mempengaruhi bagaimana cara pandang saya mengenai upacara dan juga hindu. dimana tidak ada kata “harus” dalam sebuah upacara

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: