Kaotaman Jagat Bali

Pura Sakenan

Ketetapan Ajeg Bali yang telah kita warisi dari zaman bahari sampai sekarang, seharusnya kita lestarikan bersama. Hal ini pernah dimuat pada sebuah majalah di tahun 1985, yang mana disebutkan bahwa Ajeg Bali harusnya dilihat dari tiga sisi yang disebut dengan Tri Budaya. Asal usul Tri Budaya dimaksud berasal dari Lontar Purana Bangsul, yakni Kaotaman Jagat Bali, yang terdiri dari Budaya Alam, Seni Budaya, Kerta Budaya. Budaya Alam ; terlihat dari luas Tanah Bali yang bentuknya sedemikian rupa terdiri dari sembilan penjuru arah, yang orang menyebutnya dengan Dewa Nawa Sanga, dan Panca Bayu.

Di atas tanah Bali terdapat gunung-gunung dan bukit-bukit berjajar, merumpun yang disebut Bukit Terompong. Di atas tanah Bali juga terdapat Catur Danu yaitu : Danau Batur dan Ulun Danu Dewanya Bhatari Uma, Danau Berathan Dewa Ulun Danunya Bhatari Gori, Danau Buyan Dewa Ulun Danunya Bhatari Sri, Danau Tamblingan Dewa Ulun Danunya Betari Gangga. Itulah peragan Kukus Manik (bau yang membawa amertha), ngamertanin seluruh isin gumi itulah Hyang Ing Amertha. Maka karena itu empat danau menjadi tempatnya amertha. Dan amertha itu berdasarkan ruang selaka amanca warna sudah menyusup pada gunung-gunung dan bukit-bukit itu semua. Antara lain : Gunung Tesahi, Bukit Pengelengan, Gunung Mangu, Bukit Silangjana, Gunung Bratan, Gunung Batukaru, Gunung Rangda, Pegunungan Tratai Bang, Puncak Padang Dawa, Gunung Andakasa, Gunung Uluwatu, Bukit Byaha, Pegunungan Nagaloka, Gunung Pulaki, Byas Muntig, Gunung Lempuyang, Gunung Karang. Dan adalagi yang bernama : Giriraja (Gunung Agung), Gunung Tri Sakti (Bukit Gumang), Gunung Raung (Bukit Lesung), Gunung Candimaya (Gunung Abang), Gunung Tapis (Gunung Batur), Bukit Tapak (Durasari & Dukuh Sari). Itu semua disebut Bukit Terompong. Maka dari kesarian bukit-bukit dan gunung-gunung itu dapat membangkitkan pemandangan yang sangat luas (jimbar) dan perhatian yang menawan hati.

Tari Legong

Seni Budaya berawal dari Sang Hyang Mrajapati menjatuhkan upadrawa (pemastu) pada saat Betari Dalem membuat aberawi jagat. Pada saat itu Bhatari Aberawi Dawa Rupa, menjadi angker dan tenget di bumi sampai semua manusia ketakutan mendiami rumahnya sendiri. Dengan demikian menangislah semua manusia karena takut dimakan oleh wabah besar karena dimangsa oleh Durga. Karena amarahnya Bhatari Durga itu, Ia tidak diperkenankan pulang ke Swarga Gambur Angelayang oleh Sang Hyang Rajapati. Dengan demikian cita-citanya Durga akan membunuh semua manusia, maka dengan demikian menjadikan ribut bumi sehingga semua manusia tidak berani tinggal di rumah, pada saat itu semuanya ingin keluar dari rumahnya menuju perempatan dan pertigaan, maka keluarlah semua manusia dengan cara : Manektek ; keluar dari rumah dengan membawa sendok, semprong, sepit dan pecahan bambu itu di adu, sehingga bersuara tek tek tek tek. Lenta ; keluar dari rumah dengan bergandengan tangan ada orang menyebut gowak gowakan dengan bersuara menuntun Dewa. Lombe ; ada yang keluar rumah dengan berkerudung ayam yang dibelah perutnya dan ada yang dibelah dari gigirnya, ada yang keluar rumah dengan mengusung sapi kerbau, kambing dan berbagai macam binatang yang bersuku empat dengan semuanya dibelah, dengan maksud agar binatang tersebut keluar darahnya berceceran di jalanan. Maka hasil bawaan itu semua, termasuk semua binatang yang dibelah itu dikumpulkan di halaman balai banjar, semua dan orang-orang berkumpul di sana duduk memadukan gigir atau tidak mau berhadapan karena ketakutan. Hal tersebut ditemukan oleh Butha Kala yang dipimpin oleh Bhatari Durga, dilihat oleh Sang hyang Brahma, Wisnu, disaksikan oleh Sanghyang Awoswara (seluruh Bhagawan) maka pada saat itulah Bhatari Durga manyupata (memastu) manusia agar di kemudian hari memelihara jagat dengan cara menggunakan semua binatang berbentuk caru. Maka dilihat dari tingkah laku manusia berkumpul itu ada yang menyanyi, ada yang menangis, ada yang masasolahan, menari, maka kesemua hal ini disebut tarian sakral seperti : Sanghyang Dedari, Sanghyang Penyalisan, Sanghyang Jaran, Sanghyang Lesung, Sanghyang Sampat, Sanghyang Base dan lain-lain, yang kesemua ini diutamakan dalam semua yadnya di Bali. Kaselir (kerauhan), Barong Bangkal, Barong Landung, Rejang, Baris Gede (dimodifikasi menjadi igel-igelan). Seni tetandingan, bebanten dan tetandingan caru. Seni suara seperti gong, gambang, gender, selonding, angklung, gambuh dan lain-lain. Sekar alit atau geguritan (seperti : sinom pangkur). Sekar madya ; kekidungan misalnya Malat, Bala Ugu, Indra Wangsa untuk pitra yadnya. Sekar Agung ; kekawin. Seni Busana ; busana ka pitra yadnya, busana ka manusa yadnya, busana ka dewa yadnya ; kakober barokan pangawin.

Goa Lawa

Kerta Budaya
Adapun kerta budaya yang sama-sama sudah membudaya dari jaman bahari yang terbilang dari adanya sapta yadnya yang telah dilestarikan dari jaman ke jaman sampai sekarang, seperti : Pameda Yadnya : yang merupakan pesuguh untuk setiap teman yang datang, setidaknya disediakan secangkir kopi, bila perlu ditambah dengan sepiring nasi. Yadnya ini tidak ada lungsuran. Manusa Yadnya : mulai dari upacara bayi lahir sampai metatah mepandes, menikah. Resi Yadnya : terbilang mulai dari pewintenan pemangku sampai pada pediksan para sulinggih dan sampai pada padgalan Ida sang meraga pralingga puri (pawintenan sri maharaja). Pitra Yadnya : mulai dari pemeliharaan mayat (layon) wawu seda sampai pada upacara pengabenan (palebon). Butha Yadnya ; mulai dari Yadnya sesa, Ngejot setelah memasak, Ngeliwon, Kajeng Kliwon, Eka Sata, Panca Sata, Sampai pada Pecaruan Agung, menurut perputaran tahun Candra, Tilem ke Tilem ada 12 rah tahun. Yang penghabisannya pada sasih Sada, diterima oleh Kasa tanggal apisan katemu pisan. Dan perputaran Nyunadi 35 hari disebut tahun Surya, pada kesanga penghabisannya menggunakan rah 10 disebut Waisaka. Presada Yadnya ; ini merupakan upacara Mapaguru antara lain mapaguru sastra di sekolah dan mapaguru sastra ngerangsuk Dasaksara ring sarira, yang menurut jalannya Desa Adat dan tempatnya aksara di raga sarira. Dewa Yadnya ; mulai dari pemeliharaan turus lumbung sampai pada Sanggah (merajan), Pura Kawitan, dan memelihara pura-pura Pangulun Jagat yang mana Pangulon Desa, yang mana Pangulon Asta Praja dan yang mana Pangulon Jagat Bali. Yang mana perjalanan upacara ini mencakup upacara dewa dan butha yadnya yaitu mulai dari yadnya nyunari dilaksanakan setiap 6 bulan. Dan ada lagi yang disebut Yadnya Warsa yang dilaksanakan setiap tahun mengikuti sasih. Karena di sini terdapat referensi sebagai berikut : Sanghyang Saraswati utawi lingganing Sastra disebut Sanghyang Drawa Resi, yang beliau juga bernama Sanghyang Reka dan sanghyang sastra yang pengendaliannya mangreka semua isi bumi. Beliau juga bernama Sanghyang Sakecap, Asing kecapang Ida Malinggih, asing kasiptayang Ida maraga, asing lampahang ida mamutus, asing marupa ida mangwangun. Dengan demikian maka kita tidak boleh lupa dengan isi sastra itu semua. Maka dalam sastra yang saya pernah baca ada tercatat bentuk upacara di Bali yang memiliki beberapa bentuk, antara lain : Menurut rah tahun yang menggunakan rah 12, ada berbunyi sebagai berikut : Rah tahun ika ring sasih sada panelasnia katinembe dening kasa tanggal apisan katemu pisan, sasih kasa tanggal 1 rah 1, tenggek 1 ika yadnyan nira sang satrya wangsa satinut den ikang kotama wangsa kabeh ring besakih kawenang ika ngaran pangeka dasa rudra. Yan maring rah wesaka ika ring kesanga panelasnia katinemba dan ikang kadasa tanggal apisan yan ring tanggal ping 10 rah 10 tenggek 10 ika yadnyan nira wong bali kabeh, mapangider ngaran maring purwaning Bali, hana yadnya maperaus sarwa 5, maring kiduling Bali hana yadnya maperaus sarwa 9, maring kuloning bali hana yadnya maperaus sarwa 7, muwah maring loring bali hana yadnya maperaus sarwa 4, lan ring tengahing bali lwirnia maring purusada kawenang hana yadnya maperaus sarwa 8 Ika yadnyan nira wong Bali kabeh.

Museum Bali

Itulah keharusan di Bali menurut isi lontar Purana Bangsul, maka kelanjutan hal ini semoga bisa saya mohonkan kebijaksanaan Ida Hyang meraga Pancakarsikaning Jagat Bali, yang antara lain : Ida Surya samaraga Ida pedanda-pedanda sami, Ida Empu-empu sami, Ida Resi-resi maka sami, Bapak-Bapak yang saya puji duduk di jawatan Agama, Ida-ida yang sangat saya utamakan maraga pralingga puri, itu semua saya puji sebagai Pancakarsikaning Jagat Bali yang memegang lontar aslinya Purana Bangsul. Dan apabila Ida Sang Pancakarsikaning Jagat tersebut bisa bertemu dalam pertimbangan ini maka inilah merupakan sumber Kawibawan Jagat Bali.

Penyanggran Rah Taun ; jatuh pada pangrespating rah tahun dengan rah wesaka, ketika ini Bali seharusnya Makerti Jagat, Makerti Dewa, Makerti Bhuta. Setelah makerti Jagat Dewa dan Bhuta, dilihat dari kedudukan beliau di bumi beliau berwujud Tri Huluning Jagat antara lain : Padma Nglayang Ulun Jagat Bali terdapat di seluruh Puncak Bukit-bukit dan gunung-gunung di Bali ; Padma Kencana Ulun Merta di Catur Danu di Bali ; Padma Buana Ulun Kasta terdapat di Besakih. Dilihat dari waktu upacara Bumi Bali menurut jalannya rah tahun, upacara di desa-desa ditambah dengan Yadnya Nyunari Sarupaning Sunari. Menurut jalannya windu bumi, setiap windu bumi Bali harusnya mecaru. Pada pertengahan Yuganing Bumi, Bali wenang mecaru. Setiap Yuganing Gumi Bali wenang mangenteg jagat manglukat gumi ring Bali. Setelah petawauran jagat beliau berwujud Manu Taya Widi, pada saat itu beliau keastiti dalam perwujudan Adicana dan Kertiyasa. Beliau masuk ngerasuk ke dalam agama ; unteking agama (suksma), sukuning agama (bebanten), wetengin agama (sastra atau lontar-lontar).

Di alun-alun

Di dalam lontar-lontar terdapat Panca Aksara yaitu : Aksara bersuara langgeng, Tastra bersuara di Adnyana, Sastra bersuara sakecap, Sastra Lingga Apageh tan keneng gingsir, Tastran widi bersuara sebagai wangsit, misalnya kurang lebih sejak 25 tahun yang lalu ada ogoh-ogoh, ini merupakan wangsit. Pemabuk tidak dapat dikurangi, perang mesenjata lelyana gni (perang pelitit), ini merupakan pertanda apa ?. Itulah wangsit bumi yang perlu kita kaji secara seksama dan secara konsisten, karena semua catatan di atas semuanya sudah membudaya dari jaman bahari dan pelaksanaannya semestinya tetap langgeng dan apageh, sebagai contoh : seharusnya Ulun jagat Bali, Ulun Merta Bali, Ulun Kasta Bali semestinya tidak boleh keraraban, kaungkulan, kecampuhan, kecaruban, katindusan, kesamberan oleh sarwa cemer, sarwa camah, karena itulah semestinya tidak diperkenankan membakar satingkahing pitra yadnya di sekitar kawasan Tri Hluning Jagat. Dan apabila hal ini kapurug inilah yang menyebabkan mambar mambur ikang rat maring Bali kabeh. Dan apabila Tri Budaya tersebut dikurangi atau digeser maka kaajegan Bali menjadi rered. Sehingga jika merujuk pada tatenger-tatenger yang terjadi seharusnya bebanten untuk jagat bali yang bernama Pangenteg Jagat Panglukat Gumi sangatlah diperlukan.

Makte sesajen/sryglb

Posted by : I Wayan Ardika

2 thoughts on “Kaotaman Jagat Bali

  1. Sungguh indah nan menawan, seorang wanita bali dimana pada jaman dahulu laki – laki masih bisa menahan hasrat dan tidak berpikiran ner=gatif melihat perempuan setengah telanjang dada seperti pada gambar ini. Moral manusia masih di ikat kuta oleh tradisi dan harga diri namun jaman sekarang, semua itu hanya sebuah cerita kuno yang terkadang orang tidak pernah mau menggubris apalagi mau belajar bagaimana cara berpikir orang jaman dahulu yg penuh damai dan juga terarah

    Suka

  2. Blog yang sangat bagus untuk kaula muda yg ingin benar2 mengetahui bagaimana bali dengan adat ,tradisi dan cara berpikir dan pandangannya terhadap hidup

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: