Sanggah Kemulan

“Duk Bhatara Brahma manampa warah Bhatara Guru, mangda Ida ngardi aksara ring suralaya, wekasan unduk iki ngaranan ana Sanggah Kamulan” ….

 

Ngaryanin Wongwongan

Antara tahun 2000 sampai dengan 500 S.M telah terjadi perpindahan agama Austronesia secara bergelombang dari Hindia Belakang ke berbagai kepulauan antara Madagaskar di barat sampai pulau Paska di timur, dan antara pulau Formosa di utara sampai pulau Selandia Baru di selatan. Termasuk ke kepulauan Nusantara.

Kedatangan mereka ke kepulauan Nusantara terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi sekitar tahun 2000 SM, dan gelombang kedua terjadi tahun 500 SM. Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang pertama disebut Proto Melayu. Bangsa Proto Melayu masih menggunakan alat-alat dari batu, tetapi cara pembuatannya sudah sangat halus. Oleh karena itu mereka disebut pendukung kebudayaan batu baru. Dan zamannya disebut zaman batu Baru (Neolitikum). Diperkirakan bangsa Proto Melayu ini juga pernah mendiami daratan Bali. Hal ini terbukti ditemukannya peninggalan-peninggalan zaman Batu Muda tersebar di pulau Bali (Soekmono, 1073).

Bangsa Austronesia yang datang pada gelombang kedua disebut dengan Deutro melayu. Bangsa Deutro Melayu inilah yang merupakan nenek moyang orang Bali Asli. Adanya sebutan Bali Mula adalah untuk membedakan dengan orang-orang yang leluhurnya datang belakangan ke Bali, yang mereka datang umumnya dari Jawa.

Kedatangan bangsa Austronesia yang datang terakhir ini telah berkebudayaan tinggi. Alat-alat mereka bukan saja dari batu yang diperhalus bahkan mereka juga sudah membuat alat-alat dari logam khususnya dari perunggu. Berbagai alat dari perunggu mereka buat antara lain : Nekara, tajak, gelang dan lain-lain yang dipakai sebagai bekal kubur. Mereka sudah menguasai teknik yang tinggi misalnya tata cara pembuatan neraka dari perunggu. Masa pembuatan alat-alat dari perunggu ini disebut masa perundagian.
Berdasarkan peninggalan-peninggalan yang sampai pada kita terbukti mereka telah mempunyai kreasi seni yang tinggi mutunya. Hal ini terbukti dari hiasan-hiasan nekara perunggu, yang kini tersimpan di Penataran Sasih Pejeng.

Bentuk peninggalan yang kedua merupakan alat dari batu adalah peti mayat yang disebut sarkofagus yang banyak diketemukan di daerah Bali. Dari penemuan ini ada yang diketemukan utuh dengan kerangka serta bekal kuburnya seperti halnya diketemukan di Cacang, Bangun Lemah Bangli. Jadi mereka telah mengenal sistem penguburan dengan peti mayat. Sudah tentu mereka yang dikuburkan dengan cara ini adalah orang-oarang yang terhormat dari masing-masing kelompok masyarakat. Sedangkan untuk orang kebanyakan mungkin hanya ditanam saja.

Orang-orang Austronesia dari zaman perundagian ini ternyata kehidupan mereka sudah begitu teratur. Mereka tinggal berkelompok yang membentuk suatu persekutuan hukum yang mereka namakan thani atau dusun. Orang-orang Austronesia ini mempunyai kepercayaan bahwa roh leluhurnya akan selalu melindungi mereka. Oleh karenanya selalu ia puja. Untuk kepentingan pemujaan ini mereka membuat alat-alat dari batu yaitu:
1. Menhir yaitu tiang-tiang atau tugu batu yang merupakan timbunan tenaga sakti dari pada Hyangnya.
2. Bangunan Punden berundag, tiruan dari pada gunung sebagai tempat di mana Hyang mereka bersthana.
3. Arca-arca batu yang sederhana sebagai perwujudan para Hyangnya.
4. Tahta batu (Dolmen) adalah alter tempat sajian para pemujanya.

Dari temuan-temuan Arkeologi disimpulkan bahwa ada tiga jenis pemujaan yang dilakukan oleh masyarakat Bali karena pengaruh Austronesia yang berkembang pada jaman itu, yaitu:
1. Pemujaan terhadap arwah leluhur.
2. Pemujaan terhadap arwah para pemuka masyarakat.
3. Pemujaan terhadap kekuatan alam.

Selanjutnya Tjok Rai Sudartha/Sarad Bali-Edisi No. 108/ Tahun X April 2009 memaparkan bahwa : pemujaan terhadap roh leluhur inilah yang disebut Sanggah atau Pemrajaan. Di dalam Sanggah ini ada bangunan rong tiga (tiga ruang) yang disebut Sanggah Kemulan tempat roh leluhur itu.  Roh-roh tersebut dapat memberikan perlindungan dan pertolongan kepada manusia, tetapi dapat pula menimbulkan bencana. Oleh karena itu untuk mengambil hati roh-roh tersebut (agar tidak mencelakakan, tetapi sebaliknya memberikan bantuan) maka roh tersebut dipuja melalui persembahan saji-sajian. Yang pertama yang dipuja adalah roh orang-orang besar dan roh nenek moyang, yang disebut Hyang atau Dewa Hyang. Roh suci seseorang ditempatkan di Sanggah Kamimitan/ Pamerajaan.

Jadi pemujaan terhadap leluhur itu dibawa ke Bali oleh bangsa Austronesia yang kemudian diadopsi oleh agama Hindu. Dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan disebutkan bahwa Atma yang telah disucikan yang disebut Dewapitara juga disthanakan di Sanggah Kemulan seperti disebutkan: “Ri wus mangkana daksina pangadegan sang Dewapitara, tinuntun akena maring Sanggah Kamulan, yan lanang unggahakena ring tengen, yan wadon unggakahena maring kiwa, irika mapisan lawan dewa hyangnya nguni……” (Purwa Bhumi Kamulan, lembar: #). Yang artinya: “Setelah demikian daksina perwujudan roh suci dituntun pada Sanghyang Kamulan, kalau bekas roh itu dinaikkan pada ruang kanan, kalau roh itu suci itu bekas perempuan dinaikkan di sebelah kiri, di sana menyatu dengan leluhurnya terdahulu.

Dalam Lontar Tattwa Kapatin disebutkan bahwa Sanghyang Atma (roh), setelah mengalami proses upacara akan bersthana pada Sanggah Kamulan sesuai dengan kadar kesucian Atma itu sendiri. Atma yang masih belum suci yang hanya baru mendapat “tirtha pangentas pendem” atau upacara sementara (ngurug) juga dapat tempat pada Sanggah Kamulan sampai tingkat “batur kamulan” seperti disebutkan:
“Mwah tingkahing wong mati mapendem, wenang mapangentes wau mapendem, phalanya polih lungguh sang Atma munggwing batur kamulan”.
Artinya: “Dan perihalnya orang mati yang ditanam, boleh memakai tirta pangentas tanam, hasilnya mendapatkan tempat Sang Atma pada Batur Kamulan”.

Dari kutipan-kutipan di atas jelaslah bagi kita bahwa Hyang Kamulan yang dipuja pada Sangah Kamulan adalah roh suci leluhur, roh suci Ibu dan Bapak ke atas yang merupakan leluhur lansung umat. Dalam lontar Purwabhumi Kamulan dinyatakan bahwa Sanggah Kamulan adalah tempat Ngunggahang Dewapitara: “….iti karamaning anggunggahaken pitra ring kamulan….”.
(Rontal Purwabhuni Kamulan, lembar 53)
Artinya: Ngunggahang Dewapitara pada Kamulan dimaksudkan adalah untuk “melinggihkan” atau “mensthanakan” dewa pitara itu. Yang dimaksud dengan dewa pitara adalah roh leluhur yang telah suci, yang disucikan melalui proses upacara Pitra Yajnya baik Sawa Wedana maupun Atma Wedana. Ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan mengandung maksud mempersatukan dewa pitara (roh leluhur yang sudah suci) kepada sumbernya (Hyang Kamulan). Kalimat “irika mapisah lawan Dewa Hyangnia nguni” mengandung pengertian bersatunya atma yang telah suci dengan sumbernya, yakni Siwatma (ibunta) dan Paratma (ayahta). Hal ini adalah merupakan realisasi dari tujuan akhir agama Hindu yakni mencapai moksa (penyatuan Atma dengan Paramatma). Pemikiran tersebut didasarkan atas aspek Jnana Kanda dari ajaran agama Hindu. Dari segi susila (aspek etika) ngunggahang Dewa Pitara pada Sanggah Kamulan adalah bermaksud mengabadikan/ melinggihkan roh leluhur yang telah suci pada Sanggah Kamulan untuk selalu akan dipuja mohon doa restu dan perlindungan.  Atma yang dapat diunggahkan pada Sanggah Kamulan adalah Atma yang telah disucikan melalui proses upacara Nyekah atau mamukur seperti dinyatakan dalam rontal:  “..iti kramaning ngunggahang pitra ring kamulan, ring wusing anyekah kurung muah mamukur, ri tutug rwa walws dinanya, sawulan pitung dinanya…”. Artinya: “…Ini perihalnya naikkan dewa pitara pada Kamulan, setelah upacara nyekah atau mamukur, pada dua belas harinya, atau 42 harinya..”

Jadi upacara ngelinggihang Dewa Pitara adalah merupakan kelanjutan dari upacara nyekah atau mamukur itu. Tetapi karena pitara sudah mencapai tingkatan dewa sehingga disebut Dewapitara maka upacara ini tidak tergolong pitra yajnya lagi, melainkan tergolong Dewa Yadnya. Dari uraian di atas itu jelaslah bagi kita bahwa Sanggah Kemulan di samping untuk memuja Hyang Widhi juga tempat memuja roh suci leluhur yang telah manunggal dengan sumbernya (Hyang Kamulan atau Hyang Widhi).
Dalam masyarakat Hindu di India menurut Griha Sutra tempat memuja leluhur dalam tingkat rumah tangga disebut “Wastospati”.

Berfungsi sebagai tempat mensthanakan roh suci leluhur (Dewa Pitara) yang dianggap manunggal dengan sumbernya untuk selalu dipuja oleh keturunannya guna memohon perlindungan bimbingan dan waranugrahanya. Sanggah Kamulan sebagai tempat pemuhan leluhur dalam rumah tangga di Bali diperkirakan ada hubungannya dengan “Wastoswati” yakni tempat pemujaan leluhur pada setiap rumah tangga Hindu di India.
Konsep pemujaan leluhur bagi umat Hindu di Bali bersumber dari Pra Hindu yaitu kepercayaan Austronesia.

Demikian kesimpulan yang dapat diambil dan uraian tentang “Sanggah Kamulan. Jadi keberadaan Sanggah Kamulan itu sangat penting bagi umat Hindu di Bali. Bagi teman-teman Hindu jawa pun demikian juga. Tetapi karena di luar Bali terdapat penyesuaian antara lain: Turus Lumbung adalah Sanggah Kamulan darurat karena satu dan lain hal belum mampu membuat yang permanen. Bahannya dari turus kayu dapdap (kayu sakti). Fungsinya hanyalah untuk ngelumbung atau ngayat Hyang Kamulan atau Hyang Kawitan. Sanggah Penegteg adalah Kamulan yang berfungsi hanya sebagai tempat negteg (membuat ketentraman) dengan memuja Hyang Kawitan. Kalau sudah mampu diwajibkan membangun sebuah sanggah Rong Tiga, sehingga dalam satu pekarangan akan berdiri Sanggah Kemulan.

Kalau sudah mapan diharapkan membuat Sanggah Kamulan yang permanen dengan kayu yang dapat dipilih sebagai berikut:
1. Cendana tergolong kayu prabhu (utama).
2. Menengan tergolong  (madya) kayu patih.
3. Cempaka tergolong kayu arya (utama).
4. Majagau tergolong kayu demung (madya)
5. Suren tergolong kayu demung (nista).

Tapi dewasa ini kebanyakan orang memakai kayu tewel saja. Sedangkan kayu cendana, menengen atau cempaka hanya sisipan saja misalnya untuk tugehnya, iga-iganya atau yang lainnya.

Sumber Pustaka : Sarad Bali-Edisi No. 108/ Tahun X April 2009
Posted by : I Wayan Ardika

2 thoughts on “Sanggah Kemulan

  1. OSA,
    menarik disimak mengenai Sanggah Kamulan
    Dalam hal ini saya mohon tanggapan dari bapak pengasuh untuk dijadikan pertimbangan saya berpikir.

    pendapat dan pertanyaan saya :

    1. Mengenai runtutan pelaksanaan atma wedana ( pengembalian suksma sarira/atma ke ISWW) ada langkah selanjutnya ngelinggihang dewa pitara ke Sanggah kamulan sesuai dengan jenis kelamin saat masih hidup.
    pertanyaan saya :
    a. mengapa sudah di kembalikan ke ISWW lagi distanakan di Kamulan
    tidakkah secara langsung beliau sudah menyatu ke sumbernya ? dan
    secara langsung sudah berstana di kamulan atau mrajan ?
    Apalagi kami keluarga besar sudah memiliki mrajan pusat.
    Dan dari golongan tertentu tidak melaksanakan kegiatan ngalinggihang
    dewa pitara lagi di kamulan , tetapi cukup sampai majar-ajar ke
    segara gunung / kepura-pura.
    b. dilihat dari sifat atma tidak berjenis kelamin ( awikara) apalagi sudah
    kembali ke sumbernya ISWW , mengapa lagi dibedakan penstanaannya
    sesuai jenis kelamin sebelumnya ? dan bagaimana orang yang
    berubah jenis kelamin ?
    c. setelah ngalinggihan dewa pitara di Sanggah kamulan pasti sudah ada
    runtutan yadnya yang rutin misal 6 bulan, satu tahun secara terus
    menerus ( ngodalin ). tidakkah berat hal ini untuk generasi penerus
    kita? apalagi di desa yang terdiri dari keluarga besar dengan setiap
    rumah (KK) memiliki sanggah kamulan dengan biaya yadnya tidak
    sedikit, saya kawatir bisa bisa generasi nyebrang ke tetangga. Kalau
    memang seperti itu /keharusan. Adakah penyederhanaan /nista
    upacaranya jika ngodalin. misalnya banten suci saja asoroh cukup tiap
    waktu ngodalin mengingat agama hindu fleksibel, dalam begawad gita
    jika engkau persembahkan api, bunga, air ,Aku akan terima.
    d.untuk menghemat biaya ngodalin ,ada alternatif untuk mendirikan
    mrajan /dadya baru yang pelaksanaan ngodalin bisa bersama
    keluarga besar.Tetapi ada masalah baru bisa muncul yaitu 1.
    pengadaan tanah yang mahal, 2.mendirikan palinggih baru, 3pelaba
    pura harus ada , 4. biaya ngodalin dan 5. sudah ngemong banyak
    pura,
    sehingga terus kegiatannya ngodalin saja , kapan bisa kerja dan
    melestarikan pura ?
    Kalau demikian halnya kapan/bagaimana kita bisa melaksanakan
    /membayar kewajiban untuk melaksanakan manusa yadya sampai
    biaya hidup dan sekolah , Atma wedana yang merupakan keharusan ?

    Merurut bapak pengasuh bagaimana kiat-kiat atau berdasar sumber agama hindu agar permasalahan yg saya sampaikan dapat diatasi.
    Suksma !!!!
    OSSSO………………..
    Dari :
    I GN Mantra
    Sidemen, karangasem

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: