Moratorium ..

Stop, Pembangunan Hotel Baru di Karangasem

Anggota DPRD Karangasem, Nyoman Sadra, B.A., Jumat (26/2) kemarin di Karangasem, mengatakan investasi di sektor pariwisata, khususnya pembangunan hotel dan restoran di Karangasem terlihat sudah jenuh. Buktinya, sejumlah hotel dan restoran di kawasan wisata Candidasa dan Tulamben sudah banyak yang bangkrut karena sepinya wisatawan. Bahkan, ada hotel yang dijual pun tak ada yang mau membeli, sehingga rusak tanpa bermanfaat.

Melihat kenyataan itu, kata salah seorang penasihat BPC PHRI Karangasem itu, pembangunan kamar hotel sudah perlu dikaji. Apakah masih perlu menambah kamar hotel atau stop? Kajian mesti dilakukan dengan efektif, berapa keperluan kamar hotel dan berapa wisatawan yang datang menginap atau antara kebutuhan dan persediaan mesti dilihat. ”Jangan sekadar mengundang investor pariwisata tanpa melakukan kajian, sehingga aset keindahan lingkungan dan lahan menjadi korban dialihfungsikan,” katanya.

Sadra menduga makelar lahan kerap kali mengambil kesempatan, yang penting dapat fee, dengan berbagai cara merayu investor asing agar mau membeli semua lahan strategis atau di tepi pantai di Karangasem. Sementara saat membebaskan lahan, berbagai janji diumbar investor agar bisa membeli lahan dengan harga murah dan mendapatkan izin. Selanjutnya setelah investasi dibuka perlahan-lahan karena terus merugi, karyawan lokal mulai ditekan. Pada akhirnya daripada menganggur dan sulit mendapatkan lapangan pekerjaan, ada karyawan vila diperlakukan seperti pembantu, gajinya sebulan hanya Rp 75 ribu.

”Investor sudah banyak melirik Karangasem. Lahan di tepi pantai sampai ke perbukitan dan lereng gunung sudah diincar pemodal dari Jawa dan asing,” ujar Sadra.

Sementara itu, sektor investasi yang masih potensial di Karangasem yakni pertanian dan peternakan. Sejumlah warga kelompok tani ternak dan klian banjar di Tegallanglangan, Datah mengatakan permintaan kacang tanah dan kapas dari Jawa selama ini tak mampu dipenuhi petani setempat. Ternak sapi juga potensial. Keterbatasan petani setempat, mereka hanya bercocok tanam satu kali satu tahun menunggu hujan turun. Pakan ternak terbatas, dan mereka memerlukan gudang pakan ternak. Satu hektar lahan biasanya cukup untuk beternak 12 ekor sapi. Selama ini peternak hanya memiliki dua ekor, itu pun sapi hasil ngadas.

Kapal Pesiar

Di pihak lain, Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengatakan sejumlah investasi di Karangasem masih sangat potensial. Termasuk investasi di bidang kepariwisataan, terutama kawasan Kecamatan Kubu yang tandus digagas menjadi Nusa Dua-nya Karangasem. Dengan bakal dibangunnya dermaga kapal pesiar, fasilitas pendukung seperti kios suvenir atau pasar seni sangat diperlukan. Pihaknya sudah pernah menggelar presentasi di hotel di Sanur guna mengundang investasi untuk mendukung keberadaan dermaga kapal pesiar Tanah Ampo, sudah ada beberapa orang yang menyatakan tertarik. Investasi di bidang kelistrikan juga potensial, karena selama ini orang kerap rebut karena Bali sudah sangat terbatas listrik. Di Kubu sudah pernah dirancang untuk tempat investasi pembangkit listrik tenaga batubara, tetapi sampai kini tak jelas. (013)

Amlapura (Bali Post/27/2/2010)

Posted by : I Wayan Ardika

2 thoughts on “Moratorium ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: