Tantangan Menjadikan BUGBUG Kawasan Wisata

BACA JUGA : “BUGBUG, BERAWAL DARI MIMPI …”

SWOT : TANTANGAN  MENJADIKAN BUGBUG KAWASAN WISATA ….. Sesuai Perda No 8 Tahun 2003, yakni penetapan Kawasan Pariwisata Candidasa yang membentang dari Pantai Bias Tugel (Desa Padang Bai) ke arah Timur sampai Pantai Jasri Kelod, sepanjang 24 kilometer dengan kedalaman 1 kilometer dari garis pantai. Luas efektif Kawasan Pariwisata Candidasa adalah 2400 Hektar. Potensi investasi di wilayah ini adalah Pantai Padang Bai, Pantai Buitan – Sengkidu, Pantai Candidasa, Pantai Bias Putih Bugbug. Berkenaan dengan pengembangan Pariwisata di wilayah Bugbug, terlepas setuju atau tidak setuju atas keputusan yang sudah diambil atas dikontrakkannya Kawasan Pantai Bias Putih dan Tempek Nyuh Rawit di kaki Bukit Gumang, dan telah beroperasinya Tambak Udang terbesar di Asia Tenggara yang mengambil lokasi di Pasujan (sisi tenggara kaki Bukit Gumang), ada baiknya kita kaji kembali, bagaimana proyek-proyek ini dapat memberikan dampak ikutan yang memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan Masyarakat Bugbug secara umum. Desa Pekraman Bugbug Bugbug tentu telah membentuk sebuah team yang menangani kontrak kerjasama dengan investor. Sebelum keputusan itu diambil barangkali juga telah melaksanakan pengkajian-pengkajian secara mendalam guna mengantisipasi berbagai dampak ikutan baik yang menguntungkan maupun merugikan masyarakat Bugbug itu sendiri. Bugbug Bolehlah tulisan ini dapat dianggap sebagai nasikin segara atau ngajahin bebek ngelangi, tak apalah, bila dibilang begitu, anggap saja sebagai sebuah pengayaan atas berbagai pemikiran yang tentu sudah dimiliki oleh para intelektual di internal Prajuru Desa Pekraman Bugbug.  Penulis mencoba membedah dan mengurai berbagai hal menurut cara pandang penulis yang sangat terbatas ini mengenai pengembangan kawasan wisata di Desa Pekraman Bugbug dari sisi Strengthness, Weakness, Opportunity, and Threatness atau lebih dikenal dengan istilah SWOT . Yaitu sebuah cara analisa yang mencoba mengurai suatu keadaan atau permasalahan berdasarkan kelebihan atau kekuatan, kelemahan, kesempatan atau peluang, dan tantangan sehingga didapatkan sebuah perbandingan dan nilai-nilai dominan yang dipakai untuk memetakan suatu keadaan.  Penulis dalam hal ini sengaja tidak memaparkan solusi apa yang bisa dipakai untuk menangani berbagai kelemahan dan tantangan pengembangan kepariwisataan di Bugbug. Tulisan ini diharapkan segera dapat mengidentifikasi berbagai tantangan yang sangat mungkin untuk dihadapi, sehingga pameo disubane keluh mara nyemak sepit tidak terbukti.

STRENGTNESS : Warisan alam yang mengingatkan para penikmat plesiran kawasan ini mirip Kawasan Kuta tempo dulu, adat-istiadat dan tradisi Bugbug merupakan jaminan bagi setiap wisatawan untuk mengagumi Bugbug. Betapa tidak, hamparan alam yang walau tidak begitu menghijau di musim kemarau, pantai yang putih menawan, upacara adat yang tiada henti, seakan melengkapi detak-detik denyut nadi kehidupan masyarakat Bugbug yang tentu menjadi konsumsi yang menarik orang luar dan wisatawan untuk ‘menikmati’ Bugbug. Obyek wisata yang menarik : Adanya warisan Pura Puseh yang memiliki keunikan arsitekturnya juga memiliki daya tarik tersendiri (walaupun ada beberapa pula lainnya yang sudah mengalami pemugaran), Candidasa, Pasir Putih, Pemandangan eksotis Tebing Panggian Bukit Asah, upacara adat hampir sepanjang tahun, sekaha gong dengan seni tabuhnya, seniman tari, sekaha gong wanita, Tari Wali yang dapat disaksikan ketika usaba, keunikan tata ruang palemahan di Bugbug.  Jumlah penduduk dan generasi muda yang boleh dibilang semakin banyak berorientasi untuk menggeluti dunia kerja jasa pelayanan wisata baik untuk komoditi di dalam negeri maupun luar negeri dengan keterampilan mereka dalam berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, dapat men-supplay demand akan tenaga kerja dibidangnya pada berbagai jenjang ketenagakerjaan. Adanya dukungan secara hukum dan politik yang kuat dari pemerintahan baik di level desa maupun di atasnya juga merupakan kekuatan tersendiri yang ditandai oleh adanya perda di atas. Bugbug dengan pertanian, perkebunan dan baharinya memiliki asset yang tak ternilai yang dapat dikembangkan sebagai agrowisata, maupun wisata spiritual. Bahkan sebenarnya oleh beberapa hotel di Candidasa, sebenarnya sudah mengemas sedemikian rupa Bugbug ke dalam paket-paket yang mereka jual kepada tamu yang inhouse di hotel itu.  Secara ekonomi Bugbug sebenarnya sudah jauh berkembang walaupun belum sepenuhnya mengandalkan pariwisata sebagai lokomotipnya, hal ini dibuktikan dengan banyaknya berdiri koperasi yang sebenarnya dapat melebarkan sayapnya pada berbagai bidang usaha seperti jasa penyewaan kendaraan, pengelolaan sanggar seni tari dan tabuh, supplier bahan makanan dan minuman, supplier produksi ternak, supplier hasil pertanian dan perkebunan maupun sebagai penyedia atau vendor lainnya. Kemacetan panjang yang ditimbulkan ketika ada upacara di Desa Bugbug juga merupakan tantangan tersendiri, yang barangkali bisa dengan mengusulkan pembuatan jalan alternative dari Ngis tembus Bungaya..

penyarikan WEAKNESS : Walau kebersihan secara umum sudah jauh sangat bagus, tetapi pada beberapa areal publik belum sepenuhnya warga menyadari kebersihan, kebersihan di Pamuduan, penataan pedagang di Sanghyang Ambu dan Bale Bengong (Rest area), kebersihan pasar desa adat, yang sebenarnya dapat menjadi daya tarik.  Kekhawatiran akan tergerusnya wilayah terbuka hijau (yang sebenarnya dapat menjadi daya tarik) di wilayah desa akibat membludaknya kebutuhan akan pemukiman, Jarak tempuh dari Bandara yang sedemikian rupa yang notabene dianggap sebagai jalur kering bagi pelaku pariwisata yang hanya berorientasi keuntungan mereka sendiri saja, tanpa adanya niatan yang tulus dan ikhlas untuk bersama-sama melakukan pengembangan suatu kawasan.  Belum memadainya ketersediaan akan air bersih yang dapat men-supplay kebutuhan domestik masyarakat Bugbug maupun kebutuhan pariwisata dan industri. Apakah keberadaan mata air di Telaga Kauh akan dimanfaatkan untuk men-supplay kebutuhan ini ? Tidak banyak yang tahu. Atau akankah investor dengan investasinya secara simultan juga akan mengembangkan teknologi penyulingan air laut menjadi air layak minum, juga tidak dapat diketahui secara pasti. Secara arsitektural keunikan palemahan Desa Adat Bugbug, yang dicirikan pada bangunan angkul-angkul sebagai ciri khas Bugbugan (termasuk di Prasi dan Timbrah) sudah semakin pudar. Ciri khas itu hanya dimiliki oleh keluarga di sebelah timur Pura Pasek dan sebagiannya lagi masih bisa dijumpai di Desa Perasi, yang lain sudah terlanjur mengikuti zaman. Takut dibilang kuno mungkin yah ..

(BACA JUGA : DESA PEKRAMAN BUGBUG..)

OPPORTUNITY : Pengalaman pengembangan kawasan Wisata Candidasa harusnya menjadi pelajaran yang sangat berharga dalam mengkaji keberadaan proyek pengembangan Pantai Bias Putih sebagai sebuah resort.  Secara ekonomi adanya persaingan yang tidak sehat antar pelaku pariwisata di area itu meruntuhkan image atau pencintraan kawasan ini sebagai kawasan wisata.  Disinilah dilema pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan (integrated  development) dan berbasis exclusive (enclave development). Pertanyaanya ; apakah kawasan Pantai Bias Putih ini akan dikembangkan secara integrated development atau enclave development ?. Apakah pengembangan model Amankila Hotel yang memiliki jaringan pemasaran dunia (yang melibatan masyarakat sekitar dalam operasional hotel dalam jumlah terbatas dan multiflier effect yang terbatas pula), ataukah akan melanjutkan pola pengembangan ala Candidasa yang seolah tidak terkoordinasi dan terkesan jauh dari penataan profesional yang dibuktikan dengan kumuhnya areal reklamasi yang sedikitpun tidak mengesankan itu adalah obyek wisata. Tidakkah terbersit dalam angan kita untuk dapat jadi pelopor kemandirian, mengelola secara swadaya potensi wisata ini dengan penuh kejujuran bersatu padu menggabungkan seluruh sumber daya yang dimiliki masyarakat Bugbug. Labuhan Amuk yang sudah ditetapkan sebagai pelabuhan kapal pesiar yang hanya berjarak 30 menit dari Bugbug, banyak kalangan berharap adalah merupakan kesempatan yang baik untuk “menjual” Bugbug termasuk berbagai fasilitas wisata yang disediakan di Bugbug dan sekitarnya.  Hanya saja bagaimana para pelaku pariwisata dapat dengan bijaksana tidak hanya menjual Bali Tengahan dan Selatan dalam kunjungannya, tapi juga dapat berkunjung secara penuh ke kawasan ini dengan berbagai kreasi yang dapat membuat kawasan ini juga mendatangkan keuntungan bagi seluruh stakeholders yang terlibat di dalamnya. Dilihat dari sisi accessibility, posisi Desa Pekraman Bugbug dengan kawasan Candidasanya masih lebih baik dibandingkan dengan kawasan Amed yang jaraknya kurang lebih 3 jam dari pusat pariwisata. Terumbu karang di kawasan Candi dasa yang tergerus akibat penambangan liar maupun abrasi di masa lampau harusnya dapat dikembalikan lagi dengan cara menanam terumbu karang baru dengan cara melakukan penanaman koral sebagaimana dilakukan di kawasan pantai di Bali Utara. Rencana pemerintah yang akan membangun bandara baru di Kubutambahan Buleleng pun seharusnya menjadi kesempatan tersendiri untuk pengembangan kawasan ini nantinya.

(BACA JUGA : IWB DENPASAR ..)

TREATHNESS : Tantangan yang menghadang di depan adalah bagaimana Desa Pekraman sebagai institusi dapat menjadi jembatan dan memiliki bargaining position dalam penyediaan sumber daya manusia, logistik, maupun sumber daya ekonomi lainnya. Bagaimana Desa Pekraman dapat meyakinkan komitmen investor menjabarkan multiflier effect positif bagi masyarakat Bugbug dalam pelestarian dan pengembangan seni, budaya dan tradisi Bugbug ?. Bagaimana investor dapat mewujudkan CSR (Company Social Responsibility)-nya kepada masyarakat Bugbug yang menjadi salah satu stakeholder atas kawasan itu.  Masih menggantungnya status kontrak Tanah di kawasan Bias Putih & Bukit Asah harusnya bias dicarikan solusinya oleh para cendikiawan di Bugbug. Tantangan yang lebih hebat bukan hanya datang dari luar wilayah Desa Pekraman  Bugbug, seperti akan diserbunya Bugbug oleh penduduk pendatang, tetapi justru datang dari dalam wilayah sendiri.  Bagaimana Desa Pekraman Bugbug dapat mengelola obyek wisata yang dimilikinya secara mandiri dengan membentuk semacam badan pengelola, dari oleh dan untuk Desa Bugbug. Sebagaimana pengalaman-pengalaman desa lain yang sudah terlebih dahulu mengembangkan pariwisata di wilayahnya, berbagai konflik kepentingan kerapkali terjadi sehubungan dengan perbatasan wilayah maupun banjar yang ujung-ujungnya akibat dari tingginya orientasi materi dan uang yang melunturkan semangat menyama braya dan salunglung sabayantaka. Dalam konteks Bugbug potensi konflik kepentingan ekonomi antar warga, konflik perbatasan Bugbug dan Prasi dan saling claim wilayah layak untuk diantisipasi, yang bila tidak dikelola dan dikomunikasikan dengan baik rentan menimbulkan benturan yang tidak kita harapkan.  Dalam skala yang lebih kecil, secara phsikologis pengembangan pariwisata dapat merubah orientasi masyarakat sekitar yang sebelumnya memiliki ikatan sosio religius yang kuat menjadi berorientasi materi dan mendewakan uang.  Bahkan belum apa-apa sudah muncul bibit-bibit konflik antara masyarakat dengan panitia berkaitan dengan fee pengurusan kontrak tanah.  Pemerkosaan terhadap alam dan lingkungan yang dapat menurunkan daya dukung lingkungan pada berbagai kasus juga tidak dapat dihindarkan.  Secara disadari atau tidak rencana pengembangan ini akan menyebabkan melambungnya harga tanah disekitarnya, yang merangsang merangseknya para makelar serakah memainkan harga, hingga tidak terbeli oleh warga miskin yang memerlukan sekedar gubuk untuk tidak maseksekan di karang tua. Adanya tuntutan kebutuhan gaya hidup hedonis (hidup senang bergaya hidup mewah) di beberapa kalangan yang untuk mewujudkannya dengan aksi jual tanah warisan (baca : tanah warisan tanah pusaka harusnya diwariskan ke anak cucu). gumang villa Pembuldoseran sisi barat Bukit Asah entah untuk peruntukan apa, dan dibangunnya villa di Tempek Nyuh Rawit Samuh, belum-belum sudah mengundang polemik. Terjadinya degradasi kualitas lingkungan akibat pengelolaan limbah yang tidak bertanggung jawab, maupun terkontaminasinya kawasan-kawasan suci yang seharusnya dilindungi juga sangat sulit untuk dihindarkan.  Seorang pejabat berwenang dalam sebuah pernyataan di Bisnis Bali pernah mengutarakan tidak akan mempromosikan dan tidak akan menjadikan Gumang sebagai obyek wisata, tapi pada kenyataannya oleh beberapa hotel di Candidasa Bukit Gumang dijadikan salah satu jujugan jalur trekking bersamaan dengan Tenganan dan Kastala, dapatkah kita membendung dan berusaha konsisten dengan situasi ini ?.  Pada berbagai kejadian, terpinggirkannya masyarakat sekitar dari hiruk pikuk gemerincing pariwisata yang memaksa mereka hanya menjadi penonton yang baik layaknya “tikus mati di lumbung padi”, coba tanyakan berapa persenkah warga Bugbug yang terlibat langsung dalam geliat pariwisata di Candidasa ?, berapa besarkah prosentase kontribusi stakeholders pariwisata di Candidasa bagi pengembangan ekonomi yang bisa dinikmati langsung oleh masyarakat Bugbug ?.  Tantangan yang paling menyedihkan adalah terkendalanya atau bahkan tertutupnya akses-akses menuju kawasan tujuan ritual yang sudah terlanjur dikuasai oleh investor yang notabene memiliki hak penuh atas wilayah itu termasuk membatasi atau bahkan membunuh hak-hak masyarakat dalam melangsungkan kegiatan ritualnya. Di banyak kawasan tejadi konflik horizontal maupun vertikal, akibat terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial diantara para stakeholder yang berada pada inner pengelola kawasan (yang terkadang mengambil keuntungan berlebih untuk tidak mengatakannya serakah) dengan mereka yang merasa terpinggirkan dari hingar bingar gemerincing dollar pariwisata. gumang Sebagai kawasan yang mengandalkan alam sebagai daya tarik dalam hal ini pertanian, perkebunan dan baharinya, adakah kalangan generasi muda kita yang mau menekuni mata pencaharian di bidang ini guna menyokong keberlangsungan hidup sektor pertanian, perkebunan dan bahari ini ?. Pada beberapa kawasan wisata seperti Besakih, Bukit Jambul, Bukit Putung, Sibetan, Amed, Tirta Gangga, Taman Sukasada Ujung, Candidasa, dan Padang Bai, sangat terlihat sekali bahwa pemerintah sebagai stakeholder setengah-setengah dalam mengelola kawasan yang sudah terbangun.  Memulai mungkin mudah, tetapi bagaimana dapat meneruskannya sehingga menjadi berkesinambungan bukanlah pekerjaan yang gampang. Setelah kawasan itu ditata dan ditetapkan sebagai obyek wisata, ternyata kegiatan pemeliharaan obyek sebagai produk menyangkut kebersihan maupun sikap mental masyarakat sekitar sangatlah jauh dari yang diharapkan.  Lihatlah bagaimana obyek wisata Besakih pernah diboikot oleh pelaku pariwisata akibat ulah guide lokal yang nakal. Penulis pernah menghadiri rapat dengan Bupati yang saat itu dihadiri pula oleh salah seorang anggota DPRD perwakilan setempat, solusi yang disampaikan begitu ideal, tetapi sangat lemah dalam implementasi, diakibatkan oleh slogan sapta pesona hanyalah pemanis bibir yang tidak membumi di kalangan masyarakat.  Tiadanya keuntungan langsung yang dirasakan masyarakat juga menjadi peletup ketidakpedulian masyarakat dalam pengembangan pariwisata di wilayahnya.  Begitu pula dengan kawasan Iseh dan Putung yang didengung-dengungkan menjadi kawasan wisata spiritual, tetapi dikeluhkan oleh salah seorang anggota DPRDnya yang konon sepi dari kunjungan. Mangkraknya beberapa hotel di kawasan Candidasa yang berubah menjadi kos-kosan dan menjadi rumah hantu alangkah baiknya juga diambil hikmahnya. Yaaah…, (dengan beranalogi) jangan sampai kita hanya pandai membuat, tapi tidak mampu memeliharanya. Seperti halnya, kita hanya bisa merasakan nikmatnya menghamili istri kita dan melahirkan anak dari rahimnya, tapi ternyata tidak mampu untuk mendidik, membimbing dan membesarkannya secara baik.

(BACA JUGA : MEDAYAIN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BUGBUG)

Oleh : I Wayan Ardika

Tulisan ini juga dimuat di : http://iwbpurantara.com/ekonomi/41-analisis-swot-tantangan-menjadikan-bugbug-kawasan-wisata-.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: