Wacana Ngaben Massal di Bugbug

Di kalangan prajuru dan masyarakat Desa Adat Bugbug telah bergulir wacana pelaksanaan Ngaben massal, sebagai pengganti tradisi pengabenan yang selama ini telah dijalankan oleh masyarakat adat Desa Bugbug. Sebenarnya dari segi pedewasan sebagaimana tercantum dalam awig-awig Desa Adat Bugbug, ‘pawos 60 (2a) : Panamayan Pengabenan ngamasa Sasih Karo manut pangembak Desa’, sejatinya sudah menyiratkan pelaksanaan ngaben massal, yang mana seluruh masyarakat Desa adat Bugbug melaksanakan upacara pengabenan pada hari yang sama secara bersama-sama satu kali dalam setahun yakni pada Sasih Karo mengacu pada hari dan tanggal yang telah ditetapkan oleh Desa Adat.  Hanya saja secara teknis, pelaksanaan upacara ngaben masih dilaksanakan secara mandiri yang dibantu oleh masyarakat lainnya berdasarkan lelintihan.  Peranan memassalkan pengabenan yang dimiliki oleh Desa Adat Bugbug selama ini masih pada tahap : pendaftaran peserta pengabenan, ketika dilaksanakannya upacara ngulapin di Pura Dalem, dan upacara marerapuh dalam kaitan usai pelaksanaan pengabenan menyongsong pelaksanaan upacara suci lainnya. 

ngaben bugbug

Guna dapat memberi kajian lebih mendalam atas bergulirnya wacana ini, sebagai sumbang saran, alangkah baiknya kita kaji secara detail, apa kelebihan dan kekurangan pelaksanaan ngaben massal ini jika dikaitkan dengan kondisi sosial kemasyarakatan Desa Adat Bugbug.

Secara materi tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan ngaben massal dapat meringankan beban biaya bagi warga yang melaksanakannya. Sebagaimana rancangan Pesamuhan Agung PHDI yang dilaksanakan di bulan November 2007 yang mengagendakan ‘Meneguhkan Semangat Kebersamaan, memasyarakatkan penyelenggaraan yadnya sederhana dan dilaksanakan secara bersama-sama, forum itu merupakan kesempatan, para intelektual Hindu kembali mengetuk ruang kesadaran umat bahwa semua tingkatan upacara-upakara dalam yadnya : utama, madya dan kanista, memiliki esensi dan substansi yang sama.

Sebagai persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, nilai kesuksesan dari pelaksanaan upacara-upakara dalam yadnya itu tidak ditakar dari kemegahan dan kemeriahan secara fisik serta besaran nominal rupiah yang dihabiskan. Tetapi, lebih ditentukan dari keikhlasan dan rasa bakti yang mendasari pelaksanaan yadnya tersebut. Dengan kata lain, upacara-upakara yadnya itu bukanlah ajang untuk show of force, pamer kekayaan maupun gagah-gagahan. Sebab, segala kemegahan dan kemeriahan yadnya itu akan nirdon (tidak berarti dan tidak bermanfaat) jika dilaksanakan dengan keterpaksaan alias tidak didasari oleh niat tulus ikhlas dan rasa bakti.

Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat Drs. Ketut Wiana, M.Ag. tidak menampik bahwa tidak sedikit dari umat Hindu di Bali masih menafsirkan konsep tiga tingkatan yadnya itu secara keliru. Ditegaskan, semua tingkatan yadnya — utama, madya dan kanista — sejatinya memiliki esensi dan substansi yang sama. Sayang, belum semua umat memahami hal itu. Masih banyak umat yang merasa belum puas sebelum melaksanakan yadnya pada tingkatan utama.

Meskipun untuk bisa menggelar yadnya itu mereka harus memaksakan diri dengan cara berutang kiri-kanan, menjual tanah warisan dan sejenisnya. Pelaksanaan yadnya dengan memaksakan diri, misalnya, kerapkali terjadi pada penyelenggaraan pitra yadnya — ngaben — yang memang memerlukan dana yang tidak sedikit. Namun, mereka yang memiliki dana yang serba terbatas pun sejatinya tetap bisa melaksanakan kewajiban memuliakan arwah para leluhur itu dengan menggelar upacara ngaben secara bersama-sama/massal yang lebih dikenal sebagai ngaben ngerit atau ngaben ngemasa.

Meskipun dilaksanakan secara massal, upacara ngaben itu tetap memiliki esensi dan substansi yang sama dengan ngaben niri (ngaben yang dilaksanakan sendiri ). Parisada perlu terus merekomendasikan hal ini agar pemahaman umat makin mantap bahwa semua tingkatan yadnya itu sama nilainya sebagai untuk memuliakan arwah para leluhur serta persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ujarnya.

Adanya persepsi bahwa ngaben ngerit lebih rendah nilainya dari ngaben niri, kata Wiana, merupakan persepsi yang keliru dan tidak berdasar sama sekali. Dikatakan, persepsi itu justru merupakan sebuah ironi. Pasalnya, ngaben massal sejatinya merupakan upacara pitra yadnya yang sangat ideal dan sangat menyentuh substansi dari upacara itu sendiri. Dalam bahasa Sansekerta, kata upacara itu berarti mendekat. Sehingga dengan ngaben massal itu, kita sejatinya tidak hanya mendekatkan diri secara vertikal (niskala) kepada Ida Sang Hyang Widhi guna mengantarkan arwah leluhur kita ke tempat yang lebih baik. Tetapi secara niskala juga akan terjadi pendekatan diri antarkelompok atau antarmasyarakat karena yadnya itu diselenggarakan secara bersama-sama. Dari segi substansi, ngaben massal itu sangat ideal karena terkandung tiga pendekatan di sana. Pendekatan kepada Tuhan, pendekatan kepada sesama manusia dan pendekatan kepada alam karena flora-fauna yang dipergunakan sebagai sarana bebantenan pada upacara itu bersumber dari alam.

Ngaben Satwika
Menurut Wiana, ngaben massal jelas memiliki banyak sisi positif. Karena penyelenggaraannya bersifat kolektif, ngaben massal jelas mencuatkan nuansa kebersamaan dan persaudaraan yang sangat kental serta bermakna kesetaraan seperti yang diajarkan kitab suci Wedha. Sisi positif lainnya, biaya pelaksanaan upacara pun terasa jauh lebih ringan karena ditanggung bersama-sama. Sebagai perbandingan, ngaben niri boleh jadi bisa menghabiskan dana hingga Rp 100 juta dan sudah tentu nilai nominal sebesar itu sangat tinggi untuk ukuran masa kini di mana kondisi perekonomian masyarakat sangat memprihatinkan.

Tetapi dengan ngaben massal yang melibatkan 100 keluarga, misalnya, dana itu akan terasa cukup ringan. Kalau ngaben massal ini ditumbuhkembangkan, keluarga yang hanya punya dana Rp 1 juta pun bisa melaksanakan upacara pitra yadnya sebagai bentuk kewajibannya untuk para leluhur. Sisi positif lainnya, warga juga bisa menggunakan waktunya secara efektif untuk kegiatan-kegiatan lainnya mengingat permasalahan yang dihadapi makin kompleks dan kompetisi antarmasyarakat untuk mendapatkan sumber penghidupan makin ketat. Jadi, waktunya tidak terlalu banyak tersita untuk kegiatan ngayah karena upacara ngaben sudah dilakukan secara massal, tegasnya.

Ia menambahkan, konsep kebersamaan dan kesederhanaan yang terkandung dalam ngaben massal itu juga bisa diterapkan pada upacara lainnya seperti upacara potong gigi, petik rambut dan sejenisnya.

Wiana menambahkan, ngaben massal sejatinya merupakan upacara yang sangat tinggi tingkatannya. Dalam lontar Sundarigama Pengabenan disebutkan secara tegas bahwa upacara ngaben yang paling satwika atau utama adalah ngaben ne mula di tengah (sangat sederhana) yang tercermin dalam pelaksanaan ngaben massal. Konsep ngaben sederhana ini dipopulerkan oleh Ida Pedanda Made Sidemen. Meskipun secara fisik kemasan ngaben itu relatif sederhana, tapi secara harafiah sangat substansial karena di dalamnya juga terkandung semangat kebersamaan, kekeluargaan dan persatuan yang kokoh. Jadi, ngaben massal sejatinya lebih sesuai dengan kitab suci, tegasnya.

Ngaben Masa Depan
Secara terpisah, Peneliti dan Konsultan Adat Bali Wayan P. Windia berpendapat bahwa format ngaben massal merupakan pilihan terbaik untuk pelaksanaan upacara di masa depan. Format ngaben ini sangat ideal untuk ditumbuhkembangkan karena terbukti memberikan banyak keuntungan. Pertama, biaya yang disiapkan oleh warga yang ngaben relatif lebih kecil karena sebagian besar sarana dan prasarana ngaben dibuat satu untuk semua.

Kedua, biaya bagi warga yang tidak ngaben juga jauh lebih kecil karena kewajiban mengeluarkan patus juga hanya satu untuk semua. Ketiga, dapat menghemat waktu dan tenaga karena segalanya diatur panitia banjar dengan pola satu untuk semua. Keempat, tidak mengganggu warga yang bekerja di instansi pemerintah atau swasta karena lebih mudah mengatur waktu termasuk memohon cuti. Kelima, upacara ngaben memerlukan sarana tumbuh-tumbuhan (kelapa, pisang, bambu dan sebagainya) yang lumayan banyak.

Dengan ngaben ngemasa, lebih memungkinkan bagi tumbuh-tumbuhan untuk hidup dan berkembang secara wajar dan sehat sebelum mereka harus turut berkorban demi kepentingan upacara tersebut. Namun harus diingat, ngaben ngemasa dengan cara satu untuk semua itu relatif sulit dilaksanakan di desa pakraman nyatur (terdiri atas empat kasta) dan belum ada persepsi yang sama mengenai perbedaan kasta, katanya mengingatkan.

Berdasarkan pengamatan, format ngaben massal yang diterapkan di Bali selama ini bisa dikelompokkan jadi dua. Pertama, ngaben massal pada dasarnya dilaksanakan dengan cara yang persis sama dengan ngaben niri (ngaben sendiri) tetapi dilaksanakan pada waktu yang bersamaan. Konsekuensinya, krama banjar yang diharapkan memberi bantuan bagi pelaksanaan upacara ngaben semacam ini jadi bingung dan kacau. Untuk menghindari hal ini, biasanya anggota banjar dibagi sesuai dengan jumah warga yang melaksanakan upacara ngaben.

Kalau jumlah yang ngaben sedikit dan anggota banjar lumayan banyak, maka masing-masing warga yang ngaben mendapatkan bantuan banjar yang lumayan banyak juga. Sebaliknya kalau yang ngaben banyak sedangkan jumlah warga banjar sedikit, maka masing-masing akan mendapatkan bantuan banjar dalam jumlah terbatas. Kesulitan lainnya, ada hubungan dengan patus (bantuan materi) kepada warga yang melaksanakan upacara. Masing-masing warga akan mengeluarkan patus sesuai dengan jumlah warga yang ngaben. Kalau kewajiban patus senilai Rp 25.000, sedangkan jumlah warga yang ngaben 30 orang, maka warga banjar akan mengeluarkan patus sekitar Rp 750.000 per KK.

Kedua, ngaben massal yang dilaksanakan bukan sekadar pada waktu yang bersamaan tetapi benar-benar dengan cara satu untuk semua. Artinya, upacara dilaksanakan pada waktu, tempat, cara dan oleh panitia yang sama. Sarana dan prasarana upacaranya dibuat sedemikian rupa sehingga mencerminkan semangat satu untuk semua. Unsur tertentu dari upacara yang sama sekali tidak mungkin untuk disatukan, barulah dibuat oleh masing-masing anggota.


Bagaimana Teknis Ngaben Massal di Desa Adat Bugbug ?
Pemaparan secara rinci sebagaimana tulisan di atas, tentu mengandung idealisme baik secara materi, maupun teknis operasional yang hendak dicapai. Mumpung masih tahap wacana, marilah kita masuk ke situasi terkini dan senyatanya di Desa Bugbug sendiri kaitannya dengan hal-hal yang bersifat teknis dan operasional, sehingga kita dapat memetakan berbagai kendala yang ada. Mengedepankan berbagai masalah dalam hal ini bukan berarti mengedepankan hal-hal yang negatif, tetapi untuk bisa menuntun kita mencari solusi-solusi atas masalah yang mungkin timbul. Ini juga bertujuan untuk mengantisipasi konflik-konflik yang mungkin timbul pada saatnya nanti.

Ngirit, Hemat, Efisien, bukan pelit …
Sebagaimana uraian di atas, benar adanya pelaksanaan ngaben masal ini dapat meringankan biaya pengabenan dengan sangat signifikan. Karena, segala biaya-biaya yang terkait dengan ‘yang keteben lakune’ bisa diefisienkan. Pelaksanaan ngaben masal juga akan sangat membantu warga yang kurang mampu yang bahkan notabene belum pernah melaksanakan upacara pengabenan hingga puluhan tahun lamanya dengan jumlah sawa yang mencapai hingga puluhan jumlahnya. Tentu akan menjadi sangat ideal jika banjar adat atau desa adat dapat menjadi problem solver bagi warga yang mengalaminya.  Tentunya efesiensi biaya-biaya yang tidak perlu ini alangkah lebih mulyanya apabila dapat dialihkan pada peningkatan taraf pendidikan bagi preti sentana sang kapagawenang untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik, bukannya telah dipatuakan, di tajen atau plaibang barerong uli dauh tukad.. 

Salunglung Sabayantaka (jangan jadi cai elung pang kanti bangka)
Tentu ada banyak sekali pekerjaan persiapan upacara pengabenan yang bisa dilaksanakan secara bersama-sama, gotong royong baik yang dikoordinasikan oleh panitia maupun dengan bantuan warga yang berada di luar kepanitiaan. Seperti : penyiapan pejati, pemendak tirtha, sekah, sanggah surya, damar kurung dan banten-banten serta keperluan logistik lain yang sekiranya bisa dikerjakan secara bersama-sama.

Struktur Kepanitian dan Sekaha Bale
Pembentukan struktur kepanitian secara managerial, di atas kertas tidaklah begitu sulit. Cukup dengan menyertakan beberapa orang perwakilan keluarga yang ngaben masuk dalam struktur kepanitian dengan dipimpin oleh para prajuru baik di tingkat banjar adat maupun di tingkat Desa adat. Namun dengan situasi sosial masyarakat seperti sekarang ini, bila terdapat sentana warga yang diaben bertempat tinggal di luar wilayah desa adat, hal ini akan menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka. Situasi ini akan berkait erat dengan penjadwalan operasional kerja yang membutuhkan kesepakatan bersama, sesuai dengan tingkat kesulitan waktu masing-masing anggota panitia. Dalam kenyataannya ada kecemburuan kepada warga yang tinggal di jaba desa khususnya yang termasuk kategori mayus, tentu akan menggunakan kesempatan ngaben massal ini dengan sebaik-baiknya, untuk memaksimalkan kemayusannya kepada warga desa yang sudah lepug dengan berbagai ayah-ayahan.  Banjar adat di Desa adat Bugbug, selama ini lebih tepat bisa disebut dengan istilah sekaha bale. Sementara itu keterlibatan masyarakat dalam berbagai upacara manusa yadnya, maupun pitra yadnya secara kasat mata menggunakan sistim lelintihan atau sistem kekerabatan. Dapatkah para prajuru mentransformasikan pelaksanaan pengerjaan persiapan upacara berdasarkan sekahaa bale dari sistim lelintihan ?.  Kekhususan sistem masyarakat adat Bugbug inipun akan berpengaruh pada teknis pemberian patus madadelokan, apakah diserahkan di rumah masing-masing peserta ngaben atau di suatu lokasi yang ditentukan secara bersama-sama ?  Lain halnya dengan desa adat lainnya di Bali yang memakai sistem bebanjaran, akan sangat mudah bagi panitia untuk mengerahkan tenaga dalam melaksanakan berbagai proses upacara pengabenan. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi prajuru

Perbedaan Wangsa dan Kawitan
Banyaknya perbedaan wangsa dan kawitan tentunya akan berpengaruh pada beberapa bagian prosesi upacara pengabenan itu sendiri, seperti : Nglungsur kajang, memendak tirta ke kawitan yang berbeda, pakeling-pakeling sesuai dengan tradisi masing-masing keluarga. Penggunaan pengrampahan, pengrojongan, bade tumpang, lembu, pengiriman, lokasi pembakaran sawa ada yang di atas bukit untuk soroh Sangyang, di Pamuduhan untuk Soroh Jero, pembakaran sawa untuk soroh Tambus Balang dan lainnya yang melaksanakan prosesi ini di setra Desa Adat Bugbug. Adanya perbedaan soroh dan kawitan ini juga akan berpengaruh pada penentuan siapa yang akan muput upacara pengabenan di masing-masing keluarga, apakah itu dipuput oleh Peranda, Pemangku atau orang yang dituakan di dalam keluarga (yang pada desa adat lainnya pun masih sulit untuk dimassalkan).

Lokasi Pengganti Bale Adat
Masih adanya kepercayaan sebagian warga ; bahwa leluhur yang diaben tidak mau di upacara di luar rumahnya.
Masih kuatnya kepercayaan masyarakat setempat bahwa ; seakan-akan arwah leluhur tidak terima upacara pengabenan mereka dilaksanakan di suatu tempat yang bukan tempat tinggal mereka atau bukan tempat tinggal keluarga besar mereka, berhubungan pula dengan keberadaan Pelinggih Kaluhuran yang terdapat di masing-masing bale adat, bale gede, sakanem, atau bale dangin. Jika memang ditentukan suatu lokasi di luar rumah sebagai centre of ceremony, lokasi upacara secara bersama-sama, lalu pertanyaannya akan menggunakan lokasi di mana ?.  Ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi desa adat guna dapat memberikan pemahaman yang benar atas kepercayaan semacam ini.

Solusi Jangka Pendek
Secara singkat dapatlah dikatakan tujuan esensial diwacanakannya pelaksanaan ngaben masal, tidak bisa tidak karena menyangkut ‘biaya yang mahal’ untuk pelaksanaannya. Intinya pokok permasalahan dari semua ini adalah UUD, ujung-ujungnya urusan duit !!  (Seorang perokok kelas Marlboro mengeluh berat tidak rela uangnya habis puluhan juta untuk membayar Rna pada orang tuanya, sementara ia sendiri tenggelam dalam tradisi merokok dengan biaya Rp 13.000x30harix12bulanx5 tahun = Rp 23,400,000 yang sebenarnya uang sejumlah ini tidak akan habis untuk membayar Rna pada sang Guru Rupaka yang telah membesarkannya hingga ia menjadi orang sekarang ini).  Jika begitu adanya, sekiranya perlu dipertimbangkan adanya penyelesaian masalah untuk jangka pendek (hingga tercapainya kesepakatan pelaksanaan ngaben masal) sebagai berikut :

1) Jika melaksanakan ngaben masal di tingkat banjar adat apalagi di tingkat desa adat masih belum bisa diwujudkan, alangkah baiknya disosialisikan dan dipromosikan terlebih dahulu ngaben masal di tingkat wewarisan (ngaben masal di tingkat waris purusa), dengan menerapkan perencanaan ngaben massal dalam satu wewarisan (keluarga besar purusa), misal : satu keluarga besar menetapkan ngaben bersama hanya 1 kali dalam 5 tahun. Walau dalam konteks Bugbug, masih besarnya ego masing-masing keluarga, masih perlu waktu untuk mewujudkannya..

2) Perlu adanya Buku panduan teknis pengabenan sedesa Bugbug sebagai bahan rujukan dan manual dalam melaksanakan upacara pengabenan. Perlu dipromosikan secara terus menerus untuk mengurangi acara yang tidak bertalian dengan upacara itu sendiri dengan cara mengurangi biaya-biaya yang tidak perlu, dengan lebih mengedepankan kesederhanaan dan kesesuaian tatwa. Dalam konteks kekinian Bugbug, untuk sementara ini sebelum Ngaben Massal bisa terlaksana, ada beberapa hal yang barangkali bisa dilaksanakan oleh semua komponen masyarakat sebagai berikut : teruslah disosialisasikan upacara ngaben dengan tidak jor joran, salah satu contoh : bila memang bisa/seharusnya cukup hanya dengan menggunakan pengerampahan/pengerojongan mengapa harus memakai bade bertumpang ?, Urusan melelawaran juga bisa di minimalkan hanya untuk bebanten, dengan pisuguh yang lebih disederhanakan.   Secara terus menerus, desa adat maupun tokoh-tokoh masyarakat mensosialisasikan Patus madadelokan juga dengan ketentuan minimal yg ditetapkan oleh Desa Adat.  Ada preseden menarik ketika desa adat menghimbau warga untuk maturan dengan menggunakan keben/sokasi.  Himbauan ini ternyata banyak diikuti warga karena dapat menghindarkan warga dari tradisi jor-joran bila maturan dengan menggunakan bokor/talam atau wahana sejenis yang memperlihatkan sesajen yang dihaturkan.

4) Masyarakat di Desa adat Bugbug, boleh dibilang adalah masyarakat patrilinial yang mana pimpinan desa, tokoh adat dan agama adalah teladan dan panutan bagi mereka. Harapan kita semua komponen adat secara terus menerus tanpa henti mengumandangkan ini sehingga menjadi tradisi dan tindakan nyata, bahwa esensi yadnya yang tulus ikhlas itu tidak dilihat dari megah tidaknya pelaksanaan sebuah upacara. Bahwa esensi pelaksanaan upacara ngaben bukan dilihat dari berapa tinggi bade yang dipakai dalam upacara pengabenan. Bukan dinilai dari banyaknya undangan para pejabat yang hadir pada saat pengabenan.

5) Barangkali sebagai sebuah incidentially program bisa dirintis terlebih dahulu : upacara metatah massal, nyapuh leger massal, mediksa massal untuk remaja yang  yang dikoordinasikan dan difasilitasi oleh Desa Adat, jika essensi daripada memassalkan upacara itu untuk tujuan meringankan krama desa.

6) Memfasilitasi terbentuknya kelompok ‘Srati’ yang lebih mendalami tatwa upakara, sebagaimana terbentuknya kelompok-kelompok tani, nelayan dan sekeha Santi, sekeha tabuh.

Oleh : I Wayan Ardika

2 thoughts on “Wacana Ngaben Massal di Bugbug

  1. sebenarnya saya tdk setuju adanya ngaben masal di bugbug, karena seperti yg sudah dipaparkan diatas bahwa banyaknya soroh yg ad di bugbug akan mengakibatkan kendala dalam pelaksanaanya. alangkah baiknya dikaji terlebih dahulu agar tdak terjadi hal-hal yg tdk di inginkan di kemudian hari. kenapa kita tdk melaksanakan warisan budaya nenek moyang kita….

    hal inilah mengakibatkan pergeseran budaya akibat ikut-ikutan dengan tradisi yg ada di luar desa bugbug.

    suksme….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: