Nyegara Gunung

agung san

Tidak berlebih apalagi diucap lebay jika Desa Bugbug memiliki aura spiritual yang berbeda. Ada banyak bebukitan, dipeluk hangatnya samudra. Ada sungai Buhu berliku, walau terkadang mengering di kemarau panjang. Namun airnya dari hulu dialirkan tuk mengairi sawah-sawah yang memang sengaja menumbuhkan berbagai tanaman pangan pada waktu tanam yang bersamaan. Semua hasil pertanian didedikasikan guna persembahan saat tradisi di pura-pura di gelar, sebagai rasa syukur atas berlimpah karunia-Nya. Didedikasikan guna ketahanan pangan warga sekampung.

(Baca juga : Desa Pekraman Bugbug.., seperti apa..)

Sebagaimana BP/21 November 2014, dengan tajuknya : Miliki Konsep Nyegara Gunung, FAO Kunjungi Desa Bugbug, kondisi geografis yang memiliki perbukitan dan pantai membuat Desa Bugbug diusulkan untuk mendapat pengakuan dunia sebagai model pengelolaan sumber daya alam berbasis pemberdayaan masyarakat atau Globally Important Agriculture Heritage System (GIAHS). Untuk bisa diakui sebagai warisan sistem pertanian dan pangan dunia, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO) melakukan penilaian langsung dengan mengunjungi Desa Bugbug, Jumat (21 November 2014).
Penilaian tersebut langsung dilakukan Deputi Urusan Pemberdayaan Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, FAO Representative Indonesia dan FAO Roma. Dalam kunjungan ini, Desa Bugbug menampilkan berbagai hasil pertanian dan makanan olahan yang dibuat dari hasil pertanian tersebut. Selain itu, diperlihatkan juga ritual upacara masyarakat yang ditujukan untuk mengatasi hama di lahan persawahan.
FAO Representative Indonesia Dr. Herianto Ageng mengungkapkan, Desa Bugbug mempunyai potensial untuk diajukan sebagai salah satu warisan sistem pertanian di Indonesia. Namun, tidak menutup kemungkinan keberadaan Desa Bugbug ini akan diajukan sebagai warisan sistem pertanian dan pangan dunia. “Kami mencoba untuk mengajukan sistem pertanian Desa Bugbug ini untuk diakui di tingkat dunia. Setelah itu akan ada upaya untuk memperbaiki setelah diakui sehingga hasil pertaniannya bisa lebih dimanfaatkan,” ujarnya.

(Baca Juga : Gumang, Cerita Untuk Anak…)

Peristiwa ini adalah kesempatan sekaligus tantangan bagi Desa Bugbug, guna lebih melihat kedalam, bagaimana masyarakatnya memperlakukan alam lingkungannya di tengah hiruk pikuk tingginya permintaan akan lahan pemukiman.  Bagaimana para penghuninya tahan akan godaan hedonisme untuk tidak menjual warisan leluhur mereka. Bagaimana para sarjana dan pemuda desa tidak gengsian berkubang lumpur mengolah pusaka leluhur mereka. Dan bagaimana pula para pemegang otoritas dapat mengelola pemasaran pemanfaatan hasil-hasil produksi pertanian yang berpihak pada para petaninya..

panggian

Sources : Laman FAO

Posted by : I Wayan Ardika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: